23 Okt 2015

Membaca, Mendengar, Menulis, Bicara

Membaca, Mendengar, Menulis dan Bicara adalah sesuatu yang sering kita lakukan sehari hari. Tidak jarang kegiatan sederhana tersebut menjadi sumber dari segala permasalahan dalam kehidupan kita. Masalah tersebut diakibatkan karena kegiatan tersebut (Membaca, Mendengar, Menulis dan Bicara) dilakukan dengan porsi yang tidak seimbang. Ada kalanya kita harus bicara dan ada kalanya kita harus diam. Ada kalanya kita harus membaca dan ada kalanya kita harus menulis. Jika semua dilakukan dengan porsi yang "Pas" maka kegiatan tersebut akan lebih bermakna.

Jika anda pernah membaca paper hasil penelitian maka akan anda jumpai bagian "daftar pustaka" pada halaman paling akhir. Daftar pusataka adalah refrensi yang digunakan penulis sebagai dasar untuk melakukan penelitian dan menyajikan tulisan. Jika seorang peneliti akan melakukan penelitian terkait sengketa batas negara maka dia wajib membaca dokumen tentang batas negara sehingga dia mendapatkan pedoman dalam membuat sebuah penelitian. Tanpa membaca dokumen tentang batas negara maka tulisan sang peniliti cenderung kurang valid dan konsepnya mudah dipatahkan.

Sama halnya dengan seorang musisi, setiap musisi yang pernah menciptakan lagu pasti pernah mendengar lagu sebelumnya. Mungkin sebelum menciptakan 1 lagu seorang musisi harus mendengarkan 100 lagu terlebih dahulu. Bahkan ada yang sudah mendengarkan 1000 lagu tapi tidak bisa menciptakan 1 pun lagu.  Dengan mendengarkan lagu karya orang lain maka seorang musisi mendapatkan banyak refrensi dan inspirasi dalam menciptakan sebuah lagu.

Dari pemaparan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebelum menulis kita harus membaca dan sebelum berkata kita harus mendengar. Mereka yang menulis tanpa pernah membaca sebelumnya akan menghasilkan tulisan yang "ngawur". Mereka menulis berdasarkan apa yang mereka tahu dan bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Sama halnya dengan mereka yang banyak bicara tapi belum pernah mendengarkan sebelumnya. Apa yang dibicarakanya menjadi tidak bermakna, tidak berbobot dan mudah dipatahkan. Menteri ekonomi akan bicara tentang perekonomian berdasarkan data statistik dan konsep konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Tentu berbeda jadinya jika seorang Pengacara yang tidak paham perekonomian bicara tentang ekonomi. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa kita harus "paham" dulu baru menulis atau bicara. Bagaimana cara agar kita menjadi "paham", yaitu dengan membaca dan mendengar.

Begitu banyak orang yang tidak paham persoalan tapi ikut angkat bicara. Bukan malah meringankan persoalan tetapi akan menambah rumit persoalan. Semua orang tentu boleh bicara, asalkan apa yang dibicarakan bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya. Bahkan bicara menjadi "wajib" jika yang  dibicarakanya adalah tentang kebenaran. Layaknya bayi yang lebih dulu bisa mendengar daripada bicara, mendengarlah terlebih dahulu baru angkat bicara !

Mereka yang banyak membaca sebelum menulis
Mereka yang banyak mendengar sebelum bicara
Tampak seperti gitar yang suaranya pelan tapi merdu


Mereka yang banyak menulis tanpa pernah membaca
Mereka yang banyak bicara tanpa pernah mendengar
Tampak seperti gitar yang suaranya keras tapi fals


Bicara adalah kegiatan yang sederhana tapi menjadi sulit ketika kita harus bicara dengan benar

Salam Lestari

2 komentar:

Dave Thames mengatakan...

Bosan tidak tahu mau mengerjakan apa pada saat santai, ayo segera uji keberuntungan kalian
hanya di D*EW*A*P*K / pin bb D87604A1
dengan hanya minimal deposit 10.000 kalian bisa memenangkan uang jutaan rupiah
dapatkan juga bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% :)

Rai Vinsmoke mengatakan...

ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat ayo segera bergabung dengan kami di f4n5p0k3r
Promo Fans**poker saat ini :
- Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
- Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
- Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis
Ayo di tunggu apa lagi Segera bergabung ya, di tunggu lo ^.^

Posting Komentar