"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pendaki Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pendaki Gunung. Tampilkan semua postingan

Kepemimpinan : Leader VS Manager

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Leader dan Manager. Tapi tidak banyak orang bisa membedakanya, bahkan kebanyakan orang cenderung menganggapnya sama. Perbedaan antara keduanya akan membantu kita memahami jiwa kepemimpinan yang sedang kita pelajari. Jangan sampai kita mendapatkan definisi kepemimpinan yang ambigu.

Leader
Leader atau pemimpin adalah orang yang mempunyai pemikiran berani, optimis, pantang menyerah dan tegas. Leader mempunyai daya tarik yang membuat orang orang bersedia mendukung pemikiranya. Leader tidak butuh jabatan untuk mempengaruhi banyak orang. Dia memiliki kharisma tersendiri untuk membuat orang percaya pada pemikiranya. Bahkan tidak jarang mereka mampu membuat pendukungnya menjadi pengikut yang sangat loyal.

Leader mampu memberikan inspirasi kepada orang lain. Inspirasi yang membuatnya bekerja baru berbicara, bukan berbicara baru bekerja. Dia mampu membuat orang orang segan. Dia mampu membuat orang begitu takut untuk membuatnya kecewa. Dia mampu memberikan alasan kenapa seseorang harus mendukung pemikiranya. Dia mampu membakar semangat ketika pendukungnya sudah mulai tumbang, meyakinkan bahwa semua akan terselesaikan dengan baik. 

Manager
Manager adalah orang yang selalu menyelesaikan sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. Dia terbiasa membuat rencana yang kompleks sebelum melakukan sesuatu. Dia tahu berapa jumlah orang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah projek. Dia mampu membagi seluruh personil sesuai dengan peran dan kemampuan masing masing. Dia mampu memberikan solusi atas segala permasalahan yang ada.

Manager identik dengan sifat tepat, cepat, sistematis, terstruktur dan rapi. Dia membuat orang orang percaya dengan kualitas yang dia miliki. Manager biasanya pintar dalam membuat inovasi dan lebih dinamis dalam berfikir. Apa yang direncanakanya jarang meleset, pun jika meleset dia sudah siap dengan rencana cadangan yang dipersiapkan sebelumnya.

Masih belum ketemu perbedaan mendasar antara Leader dan Manager ?

Saya berikan perbedaan dengan sebuah contoh, 

Contoh ketika seorang Manager memimpin forum,

Selamat pagi,
Hari ini kita berkumpul untuk merencanakan sebuah kegiatan. Pembagian peran dan tugas dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan ini. Setidaknya kita membutuhkan pelaksana kegiatan yang bertugas menjadi koordinator kegiatan ini, Sekretaris yang akan mengurusi semua persoalan administrasi dan bendahara yang akan mengurus persoalan dana. Jika memungkinkan nanti kita akan membentuk seksi humas untuk mempublikasikan kegiatan ini secara lebih terstruktur.

Diharapkan kita mampu berkerja sesuai dengan rencana yang telah kita buat. Jika nanti terdapat masalah maka saya akan langsung membentuk sebuah forum untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Untuk Sekeretaris sebaiknya segera bergerak karena biasanya proses administrasi selalu dilakukan di awal. Sementara itu Bendahara harap segera membuat rencana anggaran untuk kegiatan ini. Mungkin itu dulu arahan dari saya, sekian dan terimakasih

Contoh ketika seorang Leader memimpin forum,

Selamat pagi, 
Mungkin ini kegiatan yang pertama bagi kita, tapi saya yakin kita mampu untuk menyelesaikanya. Kita punya banyak orang orang hebat, kita hanya harus percaya pada kemampuan yang kita miliki. Tidak sembarangan orang bisa berada disini, teman teman adalah yang terbaik dari kebanyakan orang yang ada di luar sana. Ini bukan mimpi yang terlalu tinggi, ini sebuah target nyata yang ada di depan kita. Mari kita sama sama bekerja, mari kita bekerja sama sama.

Saya berharap kepanitiaan yang telah dibentuk mampu berkerja dengan baik. Kita harus ingat bahwa kegiatan ini bukan hanya untuk kepentingan saya atau anda. Kita harus yakin bahwa apa yang kita kerjakan akan bermanfaat bagi orang lain. Kita harus berfikir lebih keras, berkeringat lebih deras. Suatu saat kita akan bangga pada apa yang telah kita kerjakan, tersenyum menatap kebanggaan yang mampu kita bawa pulang. Mungkin sekian arahan dari saya, selamat berjuang !

Masih belum ketemu perbedaan mendasar antara Leader dan Manager ?
Manager adalah orang yang memberitahu anda cara untuk menyelesaikan sesuatu, sedangkan leader adalah orang yang memberi anda alasan kenapa anda harus menyelesaikanya - Catatan Pendaki Gunung
Intinya Leader dan Manager adalah sebuah sifat yang berebeda. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Dalam sebuah organisasi sangat ideal apabila ketuanya adalah seorang leader dan wakilnya adalah seorang manager, karena sangat jarang orang yang mempunyai 2 karakter tersebut dalam satu raga.

Ditulis oleh : Andriyana L, ST  (Admin Komunitas Pendaki Gunung, Pendiri Sherpa Geodesi UNDIP, anggota SWAPALA KALIJAGA, Surveyor Pemetaan Badan Informasi Geospasial)

Salam Lestari,   

Mendaki Gunung sendiri, Menaklukkan sepi


Saat itu saya adalah mahasiswa Teknik geodesi UNDIP semester 8. "Pembuatan Peta Jalur Pendakian Gunung Merbabu" adalah judul dari skripsiku.  Saya mencoba untuk berbakti pada dunia pendakian, dunia yang telah memberi banyak ilmu tentang kehidupan. Pun pada saat ini, lagi lagi gunung memberiku inspirasi untuk menaklukkan gelar ST.

Gunung merbabu mempunyai 4 jalur pendakian yang biasa digunakan para pendaki yaitu jalur thekelan, selo, wekas dan chuntel. Saya harus menjelajah semua jalur pendakian gunung Merbabu untuk memasukkanya dalam peta sekaligus untuk melakukan proses analisis. Pada skripsi saya juga dilakukan proses analisis pengaruh keadaan jalur pendakian gunung merbabu terhadap tingkat kesulitan pendakian.

Pada saat itu saya memutuskan untuk mendaki gunung sendiri. Mendaki gunung sendirian akan lebih cepat karena data harus segera dikumpulkan dan skripsi juga harus segera dituntaskan. Karena saya mendaki gunung sendirian, maka saya bebas memutuskan kapan akan mendaki tanpa harus bertanya pada siapapun, salah satu hal yang membuat "mendaki sendirian" akan membuat skripsi saya lebih cepat.

Saya akan mendaki dari Wekas kemudian turun di Thekelan, dilanjutkan mendaki dari Chuntel dan turun di Selo. Saya sudah pernah mendaki gunung Merbabu dari jalur thekelan dan jalur selo. Saya sengaja menjadikan jalur Selo dan Thekelan sebagai jalur yang akan saya lalui ketika turun gunung. Turun gunung melalui jalur yang belum pernah kita lalui akan jauh lebih beresiko daripada mendaki dari jalur yang belum pernah kita lalui. Karena saya mendaki gunung sendirian, resiko sekecil apapun harus diperhitungkan dengan matang.

Pagi itu sekitar jam 08.00 WIB saya sudah sampai di basecamp wekas. Saya diantar oleh seorang teman yang berdomisili di magelang. Saya hanya berpesan pada teman saya untuk menjemput saya besok sore di basecamp Selo. Saya mendaki gunung membawa tas daypack yang berisi roti basah, roti kering, air dan jas hujan serta 2 buah GPS Navigasi, Camera Digital dan DSLR.

Sendiri saya melewati tanjakan demi tanjakan. Bertemu dengan pendaki lain adalah sesuatu yang sangat berharga ketika itu. Terkadang kabut mencoba menakutiku, menjauhkanku dari terik sang surya. Ketika saya sedang duduk untuk mencatat data, hanya hembusan angin yang menemani saya. Kesendirian ini benar benar nyata menerpa. 

Terkadang saya bertemu dengan pendaki lain di tengah jalan. Saya sejenak menyapa ramah, kemudian meninggalkan mereka. Saya harus tetap berjalan sendiri agar pendakian ini cepat selesai. Dengan isi tas saya yang seperti itu, Terperangkap malam di gunung adalah sesuatu yang sangat menakutkan.

Jam 14.30 WIB saya sampai di basecamp jalur pendakian thekelan. Di basecamp thekelan tidak ada seorang pun pendaki. Jauh berbeda dengan keadaan beberapa tahun silam. Beberapa tahun yang lalu jalur thekelan sangat populer di kalangan pendaki. Basecamp jalur pendakian thekelan adalah salah satu basecamp Favorit saya karena dulu saya sangat sering kesini. Kini pengunjung jalur pendakian thekelan gunung merbabu harus terbagi ke 3 jalur pendakian lain.

Saya mengurungkan niat untuk menginap di basecamp thekelan. Saya memutuskan untuk menunda nostalgia dengan basecamp kesayangan. Saya memilih untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju basecamp chuntel, berharap ketemu rekan pendaki yang bisa saya ajak bicara. Saya menggunakan ojek untuk menuju basecamp chuntel. Di basecamp chuntel ada beberapa pendaki, hal itu sedikit menghangatkan hati saya yang terlalu dalam terendam sepi.

Keesokan harinya, sekitar jam 06.00 WIB saya kembali memulai perjalanan ini. Tanjakan demi tanjakan saya lewati sendiri. Kesepian ini terasa sangat menyengat, membuatku merindukan kehadiran orang orang yang biasa menemaniku mendaki. Saya menyusuri satu demi satu puncak, melewati satu demi satu pendaki. Kabut mencoba menemani langkah kaki ini, membuat buram gambar yang saya abadikan dengan kamera.

Di puncak saya tidak sendiri, kabut masih setia menemani. Awan mendung mulai menghampiri, memaksa saya untuk berlari menjauhi puncak. Di tengah perjalanan turun hujan pun datang, membuat sempura kesepian ini. Keadaan ini membuat saya tersesat di jalan kenangan. Saya seperti berjalan diantara satu demi satu kisah. Kenangan terindah bersama orang orang terdekat terus menghantui, menyapa saya dalam setiap jejak yang terukir. Hujan berhasil membangkitkan sejuta kenangan indah tentang gunung Merbabu.

Kenangan itu terus menyerang tanpa henti, memaksa saya untuk meratapi kepedihan. Keadaan ini benar benar menyeretku pada masa lalu, suatu masa yang tak akan pernah terulang kembali. Semakin jauh saya melangkah, semakin banyak saya kehilangan. Saya tak mampu menghadapinya lagi, kesepian ini terlalu kuat untuk dijinakkan.

Setelah sekian lama berjalan akhirnya saya sampai di pos 3. Di sana saya memutuskan untuk bergabung dengan team pendaki lain yang sedang melakukan perjalanan turun. Mereka menyelamatkan saya dari sepi, dari memori yang terus menghantui. 

Sore itu hujan kembali menerpa, mengiringi kedatangan kami di basecamp jalur pendakian selo. Jam 17.00 WIB, Saya menikmati segelas teh hangat di depan basecamp. Saya mencoba memahami beberapa pendaki yang melakukan pendakian solo. 

Sudah 10 kali lebih saya mendaki gunung ini, dan jika pun saya selalu kembali kesini, alasanya adalah karena saya ingin menikmati pendakian bersama teman teman saya, sebuah kehangatan yang tidak bisa diperoleh ketika mendaki sendirian. Hal itu menyebabkan saya tidak mempunyai ambisi lagi untuk menggapai puncak Merbabu.

Beberapa orang yang rela mendaki gunung sendiri pasti memilki ambisi yang besar untuk menggapai puncak yang mereka tuju

Sebenarnya pendaki solo tidak sendiri dalam mendaki, ambisi mereka menjadi teman terbaik dalam pendakian. Oleh karena itu mereka tidak pernah merasa kesepian

Itulah yang menyebabkan saya merasa sendiri, karena tidak ada lagi ambisi untuk mendaki gunung ini.

Kita tidak akan pernah merasa sendiri, selama kita mempunyai tujuan dan ambisi untuk mencapainya (Adriyano Louizzao)

SALAM LESTARI

Peringatan ! Jangan terinspirasi untuk mendaki sendiri, semua itu membutuhkan pengalaman, pengetahuan dan persiapan yang matang

Desa Promasan : Ajaran Tentang Loyalitas

Ini adalah sebuah cerita tentang Loyalitas, tentang sesuatu yang telah tertanam di pemikiran. Sebuah cerita tentang rasa kecintaan pada organisasi yang telah membesarkan kita. Rasa itu mampu membuat kita mengesampingkan faktor apapun yang coba membatasi kesetiaan itu.

19 Desember 2011
Jam 06.15 pagi, Nanda sudah berada di depan kosku. Dari kosku yang terletak di daerah UNDIP tembalang kami segera memulai  cerita indah ini. Ketika banyak mahasiswa berangkat kuliah, kami malah berangkat menuju sebuah desa kecil di atas gunung Ungaran. Kami akan menghadiri diklatsar SWAPALA KALIJAGA angkatan 13, yaitu sebuah organisasi pecinta Alam SMA N 1 Demak. Terus terang saya harus bolos kuliah untuk bisa menghadiri acara ini.

SWAPALA KALIJAGA adalah organisasi pertamaku. Organisasi inilah yang membuatku  mengenal gunung. Organisasi ini telah mengajariku arti sebuah loyalitas. Saya adalah anggota angkatan 8 SWAPALA KALIJAGA sedangkan Nanda adalah anggota angkatan 9 SWAPALA KALIJAGA
Desa Promasan bisa di capai melalui 2 jalur, yaitu lewat Umbul Sidomukti Ungaran atau pemandian air panas Nglimut. Pemandian air panas Nglimut terletak di Kabupaten Kendal. Dari Umbul Sidomukti butuh waktu setidaknya 2,5 jam perjalanan untuk sampai di desa Promasan. Perjalanan ini akan melewati jalur pendakian menuju puncak Ungaran. Jika ingin mengendarai motor sampai desa Promasan kita bisa lewat pemandian air panas nglimut.
Sekitar 30 menit berselang kami sampai di  objek wisata pemandian air panas nglimut yang terletak di daerah Kendal. Dari sini kami harus melewati jalan bebatuan yang terjal untuk sampai di desa Promasan. Jalanan ini membentang di tengah tengah perkebunan teh lereng gunung ungaran. 
Pagi itu banyak penduduk yang sedang berangkat untuk memetik teh. Senyumnya ramah, seolah menyambut kedatangan kami. Udara sejuk pegunungan membersihkan paru paru kami. Pemandangan indah ini pun  mencuci kedua mata kami.

Jalan yang kami lewati begiu terjal. Tidak heran banyak motor yang sering terjatuh di jalanan ini. Bahkan kadang ban depan motor bisa terangkat karena jalanan ini terlalu menanjak. Nanda sering turun dari motor untuk mengurangi beban. Motor kami tak mampu menaklukkan tanjakan tanjakan yang begitu tajam ini.
Sekitar 1 jam berselang kami sampai di desa Promasan. Kami segera merapat ke rumah Biyung. Biyung adalah seorang penduduk desa Promasan yang sudah terkenal di kalangan pendaki. Para pendaki gunung biasanya menginap terlebih dahulu di rumah biyung sebelum melakukan pendakian ke puncak Ungaran. Di sana para Senior SWAPALA KALIJAGA masih tertidur. Mereka sepertinya kelelahan karena acara yang berlangsung tadi malam.
Diklatsar ini berlangsung selama 4 hari, yaitu mulai dari hari jumat sampai dengan hari senin. Kami datang di hari terakhir acara ini, hanya ingin menunjukkan loyalitas kami pada organisasi ini. Para senior dari berbagai kota pun selalu hadir dalam acara ini. Loyalitas mereka tak terbantahkan
Diklat ini adalah acara terakhir sebelum para calon anggota berubah status menjadi anggota resmi SWAPALA KALIJAGA. Diklat ini bertujuan untuk membentuk karakter anggota SWAPALA KALIJAGA. Anggota SWAPALA KALIJAGA harus memiliki sifat pantang menyerah, Solidaritas dan Loyalitas pada organisasi.

Diklat inilah yang membentuk karakterku. Sebuah karakter yang mampu mengantarkanku ke puncak puncak tertinggi. Bukan berarti ini sebuah kesombongan, tapi aku hanya ingin menunjukkan tentang apa yang berada di belakang pencapaian itu.

Sementara mereka masih tertidur, aku berjalan jalan di sekitar desa Promasan. Puncak Ungaran terlihat sangat dekat dari sini. Perkebunan teh terlihat seperti karpet hijau yang membentang luas. Desa ini cukup dingin untuk membuatku mengenakan jaket. 
Di sini juga terdapat sebuah goa yang cukup dalam. Goa itu bernama Goa jepang. Goa ini mempunyai beberapa pintu masuk Sehingga kita bisa masuk melalui satu pintu lalu keluar dari pintu lainya. Goa ini dulunya digunakan oleh orang jepang untuk benteng pertahanan. Di dalam goa ada banyak ruangan yang luas. Ruangan ruangan ini seperti kamar kamar hotel yang di pisahkan oleh jalan di tengahnya. Pengunjung harus berhati hati dalam menggunakan senter jika memasuki goa ini. Jangan pernah menerangi ruang ruang kosong tersebut dengan senter jika tak ingin melihat “apa yang harusnya tak terlihat”. 
Sementara itu peserta masih sibuk melakoni acara acara yang sudah di susun oleh panitia. Kami kembali ke rumah biyung dan makan pagi bersama para senior yang lain. Setelah makan rapat pun di mulai. Kami menyusun skenario untuk panitia dan peserta. Panitia juga harus di evaluasi untuk mendidik kemampuan mereka menyampaikan ilmu pada peserta. Setelah itu ujian fisik dan mental yang terakhir sebagai penutupan diklat ini pun dimulai
Hujan mengguyur desa Promasan. Antarkan dingin untuk menguji fisik para peserta. Kami melatih fisik mereka agar tangguh menghadapi masalah apapun. Kami menyerang mereka dengan kata kata yang tajam, meninggalkan luka di lubuk hati yang paling dalam. Suatu saat ketika mereka teringat pada sebuah luka yang masih menancap di hati, mereka akan akan mengerti, mereka akan pahami tentang arti sebuah Loyalitas. Sesuatu yang membuat kami selalu kembali kesini, entah seberapa jauh jarak memisahkan kami, entah seberapa sering rutinitas memenjara kami.

Sekitar jam 3 sore upacara penutupan diklat ini dimulai. Di antara peserta ada yang menangis karena terharu, ada yang terlawa lebar karena bahagia, ada juga yang bersujud syukur pada sang pencipta. Mereka mendapatkan syal orange sebagai tanda anggota resmi SWAPALA KALIJAGA. Lagu “syukur” berkumandang di tengah hujan yang masih mengguyur. Kenangan inilah yang akan membuat mereka kembali, menunjukkan kontribusinya untuk organisasi ini.

Bayangkan organisasi ini adalah sebuah “Truck” dan anggotanya adalah “Roda/Ban ”. Ada ban yang tergeletak begitu saja di atas truk, membuat truk semakin berat untuk melaju. merekalah para benalu dalam organisasi. Ada juga ban yang setia menopang truk, membuat truk itu mampu berjalan sampai kapanpun. Merekalah yang mengerti tentang arti sebuah loyalitas. Dan aku percaya itu kalian.


Upacara Skenario Pembukaan Mental Blocking

SALAM LESTARI

SWAPALA KALIJAGA

JAYA !!!!!!!!

Nama : Andriyana L
Nama Rimba : Kodok
Angkatan 8 SWAPALA KALIJAGA
Nama Angkatan : Pantera Tigris Sondaica


Di tulis Oleh : Adriyano Louizzao



Mitos mengerikan Puncak Gunung Perahu


Tahun 2007
Ini sebuah cerita tentang pengalamanku beberapa tahun silam. Tentang sebuah gunung yang berikan kenangan mendalam tentang cinta. Membenarkan sebuah kalimat yang sering kita dengar yaitu “ Saat saat SMA adalah saat terindah dalam hidup”. Ketika itu aku masih menjadi siswa SMA N 1 Demak, tepatnya kelas XI IPA 4. SWAPALA KALIJAGA adalah organisasi pecinta alam pertamaku yang membuatku mengenal gunung. Kami berjumlah 10 orang ketika mendaki gunung perahu. Kami menggunakan 5 motor untuk sampai di basecamp gunung perahu. 

Hari itu terlalu larut untuk melanjutkan perjalanan. Kami menginap di rumah salah satu rekan yang berada di sekitar daerah waleri. Setelah pagi tiba kami segera melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Pagi itu kami mulai mendaki gunung perahu dari jalur utara. Kami di antar oleh 2 orang penduduk lokal. Seperti layaknya gunung gunung yang lain, pertama tama kami melewati perkebunan milik penduduk. Kami sering bertemu penduduk lokal yang sedang berkebun di ladang

Beberapa saat kemudian kami mulai memasuki kawasan hutan gunung perahu. Hutan ini sangat rimbun dan asri. Jalur pendakian terlihat basah karena pohon pohon menghalangi sinar mentari untuk sampai ke tanah. Sepintas jalur yang dilewati mirip dengan jalur pendakian gunung Slamet. Terkadang pendaki akan merasa bosan karena terlalu lama berada di hutan. Butuh waktu setidaknya 5-6 jam untuk sampai di puncak gunung perahu. Ketika jalur mulai keluar dari hutan, hamparan rumput akan menyambut kedatangan kita.

Di kawasan puncak gunung perahu terdapat sabana rumput yang sangat luas. Pendaki akan merasa sangat panas jika berada di kawasan ini pada siang hari. Di sini hanya terdapat sedikit tempat untuk berteduh. Puncak gunung ini benar benar seperti perahu. Jalan yang dilalui sangat datar dan begitu jauh. Ketika kita sudah berjalan sangat jauh sepertinya kita masih berada di ketinggian yang sama

Di kawasan puncak gunung perahu ada sebuah mitos unik. Ada beberapa pohon yang tumbuh di tengah sabana. Pohon tersebut membentuk suatu poligon tertutup yang mirip dengan segi empat. Menurut keterangan penduduk setempat bila mana ada orang yang masuk ke dalam segi empat tersebut maka tidak bisa keluar. Terkadang ada orang yang halusinasi ketika masuk ke dalam segi empat tersebut sehingga orang tersebut akan berjalan berputar putar di kawasan tersebut hingga mati. Bahkan ada yang menghilang tanpa sisa ketika memasuki segi empat tersebut.

Dari puncak perahu terlihat sebuah telaga yang sangat indah. Telaga tersebut terletak di sebelah selatan gunung ini. Mungkin itu adalah telaga warna pegunungan dieng. Ketika hari semakin siang kami segera turun gunung, mengakhiri kisah indah ini.

Salam Lestari


Keindahan Puncak Sindoro


Sekitar jam 9 pagi tadi kami masih berada di puncak gunung sumbing dan ketika waktu menunjukkan pukul  malam, kami sampai di basecamp sindoro yang terletak di desa kledung. Kami segera packing lalu kami pun mulai terlelap.

Sekitar jam 1.30 petang itu kami mulai mendaki gunung sindoro. Team ini terdiri dari Nanda,Dayat,Azka dan aku sendiri. Setiap langkah adalah jejak pertama kami di jalur ini, karena kami belum pernah berada di puncak sindoro lewat jalur kledung

Kami melewati perkebunan lereng sindoro selama 1 jam sebelum memasuki kawasan hutan sindoro. Kami terus melaju melewati pos 1, 2 dan akhirnya sampai di pos 3.

Dari basecamp ke pos 3 membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Dari pos 3 ke puncak membutuhkan waktu 3 jam. Dari pos 3 akan terlihat gunung sumbing yang begitu gagah ketika pagi menjelang

Kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagu lagu bondan prakoso terus berkumandang untuk membakar semangat yang mulai padam. Lagu Tony q Rastafara juga tak ketinggalan di tambahkan ke daftar playlist. Teriakan nyanyian kami seakan membelah hutan sindoro yang kala itu sepi

Tak terasa pagi pun mulai menjelang.  Kami lebih tertarik pada puncak daripada sunrise sehingga kami masih terus melanjutkan perjalanan. Tampak gunung sumbing berdiri gagah di seberang sana. Gunung sumbing dan sindoro hanya dipisahkan oleh jalan raya Temanggung-Wonosobo


Kala itu tenaga benar benar habis karena selang beberapa jam turun dari puncak sumbing kami langsung mendaki gunung sindoro. Kaki seakan memberontak pada otak ketika otak kami memaksa kaki terus berjalan ke puncak

Dengan susah payah akhirnya kami sampai di puncak sindoro. Kawah sindoro yang gagah seolah menyambut kedatangan kami. Kami berkelilinga puncak sindoro untuk mencari tahu keindahan apa saja yang tersimpan di gunung ini


Kami turun ke kawah untuk mengambil air minum kami yang habis. Tak ku sangka air kawah terasa begitu dingin ketika ku masukkan kakiku ke dalam kawah. Air ini adalah air hujan yang tertampung di kawah ketika musim hujan.


Pemandangnan di sini sangat bagus hingga ku beranikan diri menjebur ke kawah untuk menyebrang ke sebuah batu. Air kawah yang begitu dingin menjadikan kaki terasa sangat sakit. Seakan akan syaraf ini mati kedinginan. Kini ku tahu mungkin kedinginan seperti inilah yang membuat beberapa pendaki gunung es sering mengalami kelumpuhan syaraf kaki. Setelah foto di ambil aku pun segera merapat ke tepian


Kembali ku teruskan perjalananku menyusuri kawasan puncak sindoro. Puncak sindoro berbentuk huruf “O” dengan kawah di tengah tengahnya. Di puncak ada lapangan rumput yang sangat hijau ada pula lapangan yang tersusun dari batuan dan kerikil. Ketika kabut mulai tiba kami memutuskan untuk turun gunung dan mengakhiri XPDC kali ini,,,


SALAM LESTARI











Selamat Tinggal Puncak Garuda


            Sekitar jam 7 malam kami mulai mendaki gunung merapi. Kami berencana mendirikan tenda di pasar bubrah sebelum mendaki ke puncak. Team kami terdiri dari Azka, Kantata, Qomar dan aku sendiri. 

            Kami masih berjalan menuju pasar bubrah menggunakan senter korek yang mungkin tak terlalu terang. Seperti sewajarmya malam di sebuah ketinggian, udara malam ini terasa menusuk kulit.

            Sekitar jam 11 malam kami sampai di pasar bubrah. Malam itu kabut tebal menyelimuti pasar bubrah. Jarak pandang mungkin tak sampai 3 meter mengingat kabut begitu tebal. Kami kesulitan mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda karena senter korek kami tak mampu menembus kabut. Gerimis mulai datang seolah menyambut kedatangan kami

            Akhirnya kami menemukan suatu tempat yang sekiranya cocok untuk mendirikan tenda. Tenda pun di bongkar untuk menyembunyikan diri dari dingin. Kami segera makan dan membuat teh hangat. Kartu pun segera di bagi untuk menghangatkan malam yang sunyi ini. Tak ada seorang pun di pasar bubrah kecuali kami. Ketika malam semakin larut kami terlelap satu persatu. Menunggu pagi dengan bermimpi


            Cahaya mentari pagi seolah membangunkanku dari tidurku. Namun sialnya tiba tiba otot betis ku terkena kram. Udara dingin membuat otot otot terasa begitu kaku. Hingga ketika ku mulai beranjak dari tidur sepertinya otot betisku tak siap
 

            Semua orang masih tertidur pulas ketika aku keluar dari tenda. Ku coba berjalan jalan di sekitar pasar bubrah untuk menyembuhkan kaki ku yang masih kram. Ternyata tenda kami berdiri di pinggir pasar bubrah.


            Ku lakukan olahraga ringan agar tak merepotkan teman teman ketika summit attack ke puncak. Dengan langkah pelan ku berjalan ke arah puncak bayangan. Terlihat sunrise memanggilku dari balik puncak bayangan. Ku berjalan ke puncak bayangan sekalian pemanasan otot sebelum mendaki ke puncak. Dari pasar bubrah mungkin membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di puncak bayangan


            Di puncak bayangan ada sebuah bangunan aneh dan aku tak terlalu tau fungsinya. Dari sini sunrise tampak sangat indah, lebih indah daripada apa yang terlihat di pasar bubrah. Gunung merbabu masih berdiri kokoh di seberang sana. Berselimut awan putih yang menjadikanya lebih indah


            Setelah sarapan kami semua mulai mendaki ke puncak. Sekitar 1,5 jam berselang kami sampai di puncak garuda. Kala itu puncak garuda sudah tak bersayap karena sayapnya patah dan jatuh ke jurang. Di dekat puncak garuda ada kawah aktif merapi yang berwarna kuning kemerah merahan. Kawah tersebut mengeluarkan asap yang terus mengepul ke udara


            Waktu itu adalah satu bulan sebelum merapi meletus. Mungkin patahnya sayap puncak garuda adalah pertanda bahwa gunung ini akan meletus. Setelah puas berada di puncak kami mulai turun gunung. 



            Terlihat kawah mati merapi yang begitu megah. Terdapat bangunan kecil di tengah tengahnya. Waktu itu sebagian kawah mati ini mengalami longsoran yang cukup hebat di sisi selatan. Beberapa menit berselang akhirnya kami smpai di pasar bubrah



            Kami bermain kartu sambil menikmati logistik yang tersisa. Kami menunggu kabut datang antarkan dingin. Maklum siang itu terasa sangat panas. Kami terus bersembunyi di balik tenda karena panas terlalu hebat untuk di hadapi.


            Ketika cuaca tak terlalu panas kami mulai turun gunung. Kami menikmati sunset di objek wisata New Selo yang berada di lereng gunung merapi. Kenangan manis yang mungkin takkan terlupakan. Sebuah sore yang luar biasa. 

            Dan kini merapi telah meletus dengan hebatnya. Memporak porandakan apa saja yang ada di sekitarnya. Puncak garuda kini tinggal kenangan. Tersimpan dalam pada hati setiap pendaki. Selamat Tinggal Puncak Garuda, Puncak Kebanggaan Gunung merapi


Expedisi 9 Puncak Tanah Sunda

Expedisi Tanah Sunda

Hari-1
Minggu, 30 Januari 2011 aku dan azka mewakili nama besar plampunk berangkat ke tanah sunda untuk menyelesaikan kegiatan yang berjudul expedisi tanah sunda. Perencanaan kegiatan telah tersusun matang beserta rancangan perkiraan biaya dan waktu pelaksanaan kegiatan. Kami hanya membawa 2 tas daypack (Eiger & Consinha) dan tas samping kecil untuk menaruh kamera,HP dan Dompet, serta tenda yang tersembunyi di dalam tas Basoka.

Siang itu jam 11.30 kami berangkat menuju jawa barat menggunakan motor Yamaha Vega-R. Sekitar jam 4 sore kami telah memasuki kawasan jawa barat. Hujan dan angin kencang menyambut kedatangan kami di tanah sunda. Kami langsung mengarah ke kuningan untuk menggapai puncak gunung ciremay.

Ciremay
Kami sampai di kuningan sekitar jam 6 sore dan langsung mengungsi ke rumah seorang rekan. Jam 00.01 senin,31 januari 2011 kami menuju ke linggarjati dengan di antar oleh rekan rekan menggunakan motor. Semua ini di lakukan untuk menghindari registrasi dan kemungkinan jika jalur pendakian di tutup.


Hari-2
Packing peralatan pun cukup extreme,dengan hanya menggunakan 1 tas daypack eiger dengan 1 tas samping kecil untuk menaruh kamera & handphone. Daypack Eiger hanya berisi jas hujan,roti dan air. Packing tersebut sering di gunakan plampunk team untuk mempercepat waktu pendakian,meskipun cukup berisiko.

Tepat jam 01.00 kami mulai mendaki gunung ciremay. Fisik yang masih segar melaju mulus melewati kawasan cibunar,leuweng datar,kondang amis,kuburan kuda,tanjakan pangalap,tanjakan seruni,Bapatere & batu lingga hingga akhirnya kami takluk oleh ngantuk. Kami tertidur pulas selama 1 jam di kawasan Batu Lingga mulai dari jam 05.30 hingga 06.30. Kami melanjutkan pendakian dan berhasil mencapai puncak gunung ciremay pada jam 08.30 pagi. Total waktu yang kami perlukan untuk mencapai puncak ciremay adalah 7,5 jam. Lebih lambat 30 menit dari pendakian pertamaku ke gunung ini.


Setelah berfoto,makan roti dan sedikit minum,jam 09.30 kami mulai turun gunung. Kami sampai di bawah tepat pukul 12.00. Rekan langsung menjemput kami dan pendakian gunung ciremay pun usai dengan cepat,tepat dan senyap.

Cikuray
Sesampai rumah Yugi yang berdiri di atas tanah kuningan kami langsung packing dan bersiap untuk menuju gunung Cikuray. Sekitar jam 02.00 kami berangkat menuju Gunung cikuray dengan rute Kuningan-Tasikmalaya-Perkebunan teh dayeuhmanggung(Garut). Sekitar jam 17.30 kami sampai di pintu masuk perkebunan teh dayeuhmanggung. Setelah registrasi dan membayar biaya sebesar 5 ribu per orang di pos penjagaan perkebunan,kami melanjutkan perjalanan ke kawasan menara Pemancar di kaki gunung cikuray yang biasanya di gunakan untuk tempat awal melakukan pendakian.

Perjalanan ke kawasan menara Pemancar menempuh sekitar 12 Km jalanan batu setapak di tengah perkebunan teh. Dalam perjalanan tersebut kami sempat beberapa kali nyasar mengingat banyaknya percabangan jalan di daerah perkebunan teh. Sekitar jam 19.30 kami sampai di kawasan menara pemancar dengan melalui jalanan yang cukup extreme.

Di kawasan tersebut terdapat banyak menara pemancar TV. Mulai dari TVRI, TPI hingga INDOSIAR. Kami menitipkan motor di kantor menara pemancar INDOSIAR. Kami mencari informasi tentang jalur pendakian pada orang orang setempat karena kami belum pernah sekalipun mendaki gunung ini. Di butuhkan waktu sekitar 5-6 jam pendakian untuk mencapai puncak cikuray.


Setelah itu kami tidur di tenda yang di bangun di halaman menara pemancar. Hanya bisa kunikmati secangkir kopi yang berpadu dengan pemandangan malam kota garut pada malam yang sunyi itu. Ku buat agar agar untuk persiapan summit attack sebelum ku terlelap tidur.

Hari-3 
Selasa,1 Februari 2011 jam 04.30 kami mulai mendaki gunung cikuray. Tipe Packing yang di gunakan pun sama dengan sebelumnya. Kami berencana menggunakan celana pendek untuk lebih memperingan kaki. Tapi untuk menghormati orang setempat agar tidak terkesan meremehkan, kami terpaksa memakai celana panjang,meskipun di tengah jalan celana di timbun.

Kami memulai pendakian dengan melewati kawasan kebun teh. Sekitar 15 menit kami mulai meninggalkan kawasan kebun teh dan berganti dengan perkebunan gundul. Kami tidak bisa menemukan pintu masuk jalur yang mengarah ke puncak cikuray. Kami melakukan navigasi dan berputar putar di area perkebunan. Kami naik turun meneliti jalan yang telah terlewati.

Sekitar jam 05.30 hari mulai terang sehingga mempermudah proses navigasi. Ku lihat sebuah punggungan di sebelah kanan dan menurut perkiraan kontur gunung,jalur berada di atas punggungan bukit tersebut. Kami memotong jalan melewati perkebunan dan langsung mengarah ke punggungan tersebut. Jam 06.00 kami berhasil menemukan jalur pendakian. Kami menghabiskan sekitar 45 menit untuk menemukan jalur pendakian.

Setelah itu kami melaju melewati jalur pendakian yang berupa hutan. Kami terus melaju tanpa kesulitan hingga sampai di puncak cikuray pada jam 08.00. Setelah itu kami berfoto,makan roti dan sedikit minum. Sekitar jam 09.30 kami mulai turun gunung. Kami sampai di kawasan menara sekitar jam 11.00. Kami langsung packing dan bersiap menuju gunung papandayan yang terletak di cisurupan. Pendakian gunung cikuray telah sukses meski sedikit bernoda karena salah jalur.




Papandayan

Sekitar jam 14.00 kami sampai di kawasan wisata kawah gunung papandayan yang terletak di cisurupan. Karena pendakian ke puncak harus memakai pemandu dengan harga yang mahal,maka kami hanya ijin untuk berwisata ke kawah. Meski kami tak bertanya berapa rupiah harga untuk pemandu,berapapun itu kami takkan memakai pemandu.

Kami menitipkan motor dan peralatan lainya di pusat informasi center. Pada saat itu suasana di lokasi wisata sangat sepi karena bukan merupakan hari libur. Tipe packing yang di gunakan pun lebih extreme lagi,yaitu hanya membawa 1 tas samping kecil sebagai tempat kamera,HP dan peralatan navigasi.

Karena kami belum pernah sekalipun ke sini,kami mencoba mencari cari informasi dengan orang sekitar. Kami harus benar benar menjaga setiap kata yang terucap agar orang tidak mengira kami seorang pendaki gunung yang akan ke puncak. Kami hanya mengaku pendaki yang baru saja naik gunung cikuray dan akan berwisata ke kawah papandayan karena tidak ada tenaga yang cukup untuk menggapai puncak papandayan.

Menurut informasi dari seorang rekan,untuk menuju ke puncak papandayan memerlukan waktu pendakian sekitar 3 jam. Tepat sekitar jam 15.00 kami mulai mendaki ke puncak. Pertama tama kami melewati kawasan wisata kawah papandayan. Setelah melewati kawah kami terus melaju ke tempat camping. Kami sampai di tempat kamping pada jam 16.00,namun kami kembali salah jalan .

Untuk menuju pondok salada pendaki harus memasuki jalur kecil yang masuk ke hutan. Namun kami terus mengikuti jalur berbatu yang perlahan mulai turun. Setelah 15 menit berjalan akhirnya kami mulai sadar jika jalan yang kami lewati salah. Ku teringat bawha ada sebuah jalur lain yang lebih cepat untuk mencapai puncak papandayan. Akhirnya kami simpulkan bahwa Jalan yang kami lewati adalah jalan dari kawasan lain untuk menuju tempat camp. Sepertinya melalui jalur tersebut motor ataupun mobil tertentu bisa menjangkau tempat camp.

Sekitar jam 16.30 kami kembali sampai di tempat camping. Di tepi tepi jalur pendakian benar benar tidak ada petunjuk sama sekali. Menurutku tidak adanya petunjuk di fungsikan agar para pendaki menyewa pemandu untuk perjalanan mereka.Kami mengambil jalan kecil yang masuk ke dalam hutan.

Sekitar jam 16.45.kami sampai di kawasan yang kami kira pondok salada, yaitu sebuah sabana yang cukup besar . Kami tidak bisa menemukan jalur untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Di sabana terlalu banyak jejak kaki yang mengarah ke semua sudut. Selain itu di kawasan ini juga banyak tali tali rafia yang tidak bisa di pertanggungjawabkan fungsinya sebagai petunjuk arah. Kami menemukan beberapa jalur yang masuk ke hutan di sekitar sabana. Kami mencobanya satu persatu dan 2 di antaranya buntu. 1 lagi jalur yang kami selidiki mengarah ke bawah yang kami prediksi sebagai jalur pendakian dari kawasan lain. Kami terus melakukan navigasi hingga akhirnya kami menemukan jalur yang cukup meyakinkan pada jam 17.30.

Mengingat kami tidak membawa senter kami memutuskan untuk kembali ke bawah dan melanjtkan perjalanan esok pagi. Selain itu kami tidak akan mendapat apa apa jika sampai di puncak pada malam hari serta kami khawatir akan di cari oleh orang orang bawah karena kami Cuma ijin mau ke kawah. Dan ternyata setelah kami sampai di bawah tidak ada seorang pun di kawasan parkir wisata. Kami pun tidur di pusat informasi center pada malam itu.


Hari-4
Rabu, 2 Februari 2011 jam 04.00 pagi kami kembali beraksi. Kami melaju mulus melewati kawah papandayan,tempat camp,pondok salada dan sampailah kami pada sebuah sabana besar di kawasan puncak papandayan pada jam 06.30. Lagi lagi kami tak tau yang mana puncak tertinggi papandayan karena banyak puncak puncak yang hampir sama tinggi di kawasan tersebut. Saat kami melakukan navigasi dengan mempertimbangkan jejak jejak kaki dan beberapa tali rafia akhirnya kami menemukan sebuah jalur. Namun setelah beberapa menit kami menyusuri jalur tersebut, jalur tersebut mengarah turun ke arah kawah. Tanpa pikir panjang kami terpaksa kembali ke sabana tersebut. Kami terus melakukan navigasi untuk mencari puncak tertinggi gunung ini. Sabana tersebut ternyata adalah puncak gundul gn.Papandayan

Menurut informasi dari seorang rekan, puncak tertinggi papandayan dapat di capai dalam waktu 3 jam. Menurut perhitungan kami harusnya kami sudah berdiri di puncak pada saat ini. Selain itu jika kami terlalu lama di gunung ini jadwal pendakian selanjutnya akan berantakan. Dengan mempertimbangkan aspek aspek tersebut akhirnya kami kembali ke bawah dan langsung mengarah ke gunung guntur di daerah garut. Kami benar benar kehilangan banyak waktu dan tenaga di gunung ini.

Guntur

Sekitar jam 11.00 kami sudah berada di sebuah desa yang berada di kaki gunung guntur. Kami menitipkan motor di RW setempat yang memang biasanya menjadi tempat penitipan motor untuk wisatawan yang berkunjung ke air terjun citiis. Setelah packing dan mengorek informasi dengan orang orang setempat akhirnya kami berangkat mendaki. Biasanya orang lokal membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk mencapai puncak gunung guntur dari air terjun citiis,namun kami lupa bertanya waktu tersebut untuk mencapai puncak guntur 1,2 atau 3 karena gunung tersebut mempunya 3 puncak.

Sekitar jam 11.30 kami mulai berjalan. Kemudian kami menumpang truck penambang pasir yang kebetulan lewat. Truck tersebut sering beroperasi di daerah pertambangan pasir yang terletak di dekat air terjun citiis.

Setelah itu kami langsung mengarah ke air terjun citiis. Air terjun tersebut terletak sekitar 1 Km dari lokasi pertambangan. Tidak ada kendaraan apapun yang bisa mencapai lokasi air terjun. Kami hanya membawa 1 botol air yang di ambil di sungai dekat air terjun. Air terjun ini adalah air terakhir sepanjang perjalanan ke puncak.

Setelah itu kami mulai mendaki dengan menyusuri jalan yang langsung menanjak di tengah hutan yang tidak begitu lebat. Kurang dari 30 menit kami mulai keluar dari hutan dan medan berubah menjadi padang ilalang. Medan yang di lalui berupa bebatuan yang bercampur dengan pasir dan kerikil. Hanya 10 persen jalan yang terdiri dari tanah sepanjang perjalanan ke puncak gunung ini. Kami pun tak mengira akan jadi se extreme ini.

Kami masih berjalan menyusuri jalanan batu, pasir dan kerikil dengan kemiringan yang sangat menanjak. Hampir tidak ada bonus jalan hingga mencapai puncak guntur 1. Jalan yang di lewati berada di padang ilalang yang langsung berhadapan dengan mentari yang panas. Jika melakukan pendakian pada siang hari akan menghabiskan banyak air mengingat medan yang sangat gersang dan menanjak.


Sekitar jam 15.00 kami sampai di puncak guntur 1. Di puncak guntur 1 ada sebuah tugu trianggulasi. Dari puncak guntur 1 menjulang puncak guntur 2 yang sangat mertuntuhkan mental. Kami langsung turun menyusuri sabana dan kembali naik puncak guntur 2. Kami memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai puncak guntur 2. Di puncak guntur 2 tidak ada apa apa selain lahar yang telah beku. Lahar yang beku tersebut hampir mirip seperti aspal sehingga tadinya aku mengira landasan mini helikopter. Dari puncak guntur 2 terlihat puncak guntur 3 yang lebih meruntuhkan mental. Kami kembali menyusuri turunan yang lebih terjal sebelum kembali naik ke puncak guntur 3. Sebelum kami naik ke puncak guntur 3 kami melewati sebuah perempatan jalur. Kami terlalu lelah untuk ber navigasi dan langsung mengikuti jalur yang lurus menanjak ke puncak guntur 3.


Setelah kami sampai di kawasan puncak guntur 3 kabut pun mulai datang. Lagi lagi kami tak bisa menemukan jalur menuju puncak yang sudah terlihat dekat berdiri. Kami kembali ber navigasi untuk menemukan puncak tertinggi gunung ini. Namun mengingat waktu yang semakin gelap dan langit pun mulai mendung kami mulai menghentikan navigasi. Selain itu kami telah berjalan lebih dari 3,5 jam dengan kecepatan yang tinggi,namun kami belum juga berdiri di puncak. kami menyimpulkan bahwa waktu 3,5 jam digunakan untuk mencapai puncak guntur 1. Kemudian Kami mengarah pada sebuah bukit yang ada sebuah pemancar di puncaknya dan menjadikan tempat ini sebagai tempat tertinggi yang bisa kami capai. Bukit ini mungkin sekitar 50 meter lebih rendah dari puncak guntur 3.


Kabut semakin pekat menghadang jiwa jiwa yang mulai lelah. Kami kembali turun dari kawasan puncak guntur 3 dan memanjat puncak guntur 2. Di sini tidak terlihat apapun selain kabut pekat. Kami turun dari puncak ini dan mengarah ke puncak guntur 1. Kabut yang pekat menutupi banyak jalan yang berada di tengah tengah sabana. Kami harus berhati hati karena banyak pendaki hilang dengan suasana seperti ini. Persediaan air kami menipis dan menyisakan kurang dari 0,5 botol 500 Ml.

Sekitar jam 16.30 kami kembali sampai di puncak guntur 1. Hari mulai gelap dan berkabut selain itu hujan gerimis mulai menerpa. Kami langsung turun dengan kecepatan tinggi. Di tengah jalan tas samping yang ku bawa putus. Terpaksa ku betulkan dahulu tas tersebut di tengah gerimis. Kemudian kami terus berlari hingga akhirnya hujan menghentikan sejenak langkah kami. Kami memakai jas hujan dan kembali melaju. Selain karena gerimis hari juga semakin redup sehingga memaksa kami untuk terus bergerak cepat.

Hujan adalah anugerah bagi kami karena jalan berbatu, kerikil dan pasir menjadi lebih padat sehingga mudah di lewati. Kami terus melaju meskipun sering jatuh terpeleset. Di sela sela jalan ku tadahkan jas hujanku untuk memperoleh air karena kami benar benar sudah tidak mempunyai air satu tetes pun.

Hujan semakin deras, halilintarpun bersahutan di atap langit. Kami terpaksa berjalan kaki dari tempat penambangan pasir sampai ke perkampungan karena pada saat itu tidak ada truck yang lewat. Sekitar jam 18.00 kami sampai di rumah RW. Tanpa melepas jas hujan kami kembali melaju ke arah bandung dengan motor Vega-R kebanggaan.

Sekitar jam 9 malam kami sudah berada di depan gedung sate. Beberapa menit menunggu akhirnya seorang rekan bernama budi menjemput kami. Kami beristirahat di kost Budi karena dia punya 2 kost,bahkan kami mempunyai kunci kostnya jika sewaktu waktu kembali ke sini. Budi adalah sempat bersekolah selama se tahun di UNDIP sebelum akhirnya pindah ke ITB.

Hari-5
Kamis, 3 Februari 2011 jam 07.00 kami meluncur ke kawasan danau situ lembang untuk mendaki gunung burangrang. Dari bandung kami langsung mengarah ke parompong dan melanjutkan perjalanan ke desa kertawangi melewati pos komando.

Sesampai pos lapor pendakian kami di tanya tentang surat ijin mendaki dari suatu instansi pemerintah yang namanya agak ku lupa. Instansi tersebut terletak di kawasan kabupaten bandung kota. Di sini banyak polisi yang berjaga di pos lapor. Perijinan gunung burangrang tidak semudah dulu lagi. Gunung burangrang adalah tempat pelatihan militer para polisi sehingga sering menggelar latian militer di gunung ini. Sialnya lagi pada saat itu sedang ada latian militer di atas gunung sehingga sekalipun kami punya surat ijin,kami tidak akan di ijinkan mendaki.

Kami tidak berfikir untuk menerobos penjagaan ini seperti yang telah sering kami lakukan di gunung gunung lainya. Sepertinya tidak lucu jika terpampang di koran atau televisi bahwa di temukan 2 pendaki tewas di gunung karena terkena peluru nyasar polisi atau terkena ranjau yg mungkin saja di gunakan untuk latian militer.

Gunung Malabar (Puntang)


Kami langsung bertolak ke banjaran untuk mendaki gunung malabar. Sesampai banjaran kami langsung mengarah ke bumi perkemahan banjaran sesuai informasi yang ku peroleh dari suatu situs di internet. Namun ketika kami bertanya jalan pada orang orang setempat tentang gunung malabar,mereka berkata bahwa gunung malabar berada di pangalengan. Bumi perkemahan banjaran di gunakan untuk mendaki gunung puntang.

Kami langsung mengarah ke pangalengan untuk mencari gunung malabar. Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan yang melelahkan,kami sampai juga di pangalengan. Setelah sampai di pangalengan kami kembali bertanya arah kepada orang orang setempat. Mereka menyusuh kami untuk menuju perkebunan teh malabar. Setelah kami sampai di perkebunan teh malabar kami bertanya pada penjaga gerbang. Pak penjaga menjawab bahwa dari perkebunan teh malabar tidak ada jalur yang bisa di gunakan untuk menuju puncak malabar. Selain itu mereka berkata bahwa untuk mendaki gunung malabar adalah lewat bumi perkemahan banjaran. Pendaki harus mendaki terlebih dahulu melewati gunung puntang sebelum sampai ke puncak gunung malabar. Begitulah informasi yang kami peroleh.

Perjalanan mencari gunung ini sangat sulit karena minimnya informasi. Bahkan warga setempat pun tak tau keberadaan gunung ini. Sehingga keberadaan gunung ini sangat samar. Informasi yang di peroleh pun tidak bisa di percaya karena simpang siur. Setelah itu kami mereka menyarankan kami untuk menuju sebuah wisata yang mungkin terdapat jalur pendakian ke puncak malabar. Kami langsung mengarah ke wisata pemandian air panas camelia.

Setelah kami bertanya pada banyak orang akhirnya kami sampai pada sebuah desa di sekitar kawasan pemandian. Namun setelah kami bertanya pada orang orang setempat tidak ada yang tau tentang keberadaan gunung malabar. Keadaan ini benar benar membuatku jengkel dan putus asa sebelum akhirnya ada orang yang memberikan informasi bahwa yang di maksud gunung malabar adalah gunung wayang. Sedangkan kalau mendaki gunung wayang bisa dilakukan dari desa ini.

Kami bertanya pada berbagai sumber lagi dan mendapat informasi bahwa di sini tidak ada gunung malabar. Yang ada hany gunung batu dan gunung wayang. Bahkan motor pun bisa sampai di puncak gunung gunung ini. Ketika otakku sudah terlalu emosi menghadapi suasana ini,ku putuskan untuk kembali ke bumi perkemahan banjaran untuk mendaki gunung puntang. 1 hari pun terlewati tanpa hasil. Jadwal yang telah tersusun menjadi sangat molor karena gunung papandayan dan malabar.

Ketika hari mulai sore kami telah sampai di basecamp pendakian gunung puntang yang di kelola oleh PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia). Di sini kami baru mendapat kejelasan tentang gunung malabar. Malabar adalah nama sebuah pegunungan yang mana terdiri dari gunung gunung kecil. Gunung wayang,Gunung Haruman,Gunung batu dan Gunung puntang adalah beberapa di antaranya. Dari sekitar lokasi bumi perekamahan terdapat 2 jalur pendakian untuk mendaki gunung puntang dan gunung haruman. Puncak gunung puntang di sebut puncak mega dengan ketinggian sekitar 2220 Mdpl. Sedangkan puncak tertinggi gunung haruman di sebut dengan puncak besar yang bereketinggian lebih dari puncak mega.

Untuk menuju ke puncak mega di butuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan. Untuk mencapai puncak ini pendaki dapat memakai 2 jalur umum. Pendaki dapat memakai jalur biasa yang lebih datar atau menggunakan jalur VIP yang lebih cepat dan menanjak. Ke 2 jalur pendakian ini berakar dari sekitar kawasan ini.

Sedangkan untuk mencapai puncak besar di butuhkan waktu sekitar 6-7 jam melalui jalur yang berbeda lagi. Dahulu kala pendaki bisa mencapai puncak besar setelah melewati puncak mega. Namun bukit yang menghubungkan ke dua puncak tersebut telah longsor dan jalur pun terputus sehingga harus menggunakan jalur lain untuk mencapai puncak besar. Begitulah sedikit informasi berharga yang dapat kami korek pada kesempatan malam itu sebelum kami terlelap tidur di basecamp PGPI.

Hari-6
Jumat, 4 Februari 2011 jam 07.00 kami mulai mendaki gunung puntang dengan tipe packing sama dengan sebelum sebelumnya. Untuk mencapai puncak tertinggi gunung puntang (Puncak Mega) kami harus terlebih dahulu melawati puncak Batu kareta. Kami sampai di puncak tertinggi gunung puntang pada jam 09.00 atau hanya memerlukan waktu 2 jam untuk mendaki gunung ini. Setelah sedikit berlama lama di puncak,akhirnya kami turun setelah betrfoto dan makan 1 bungkus biskuit roma. Sekitar jam 10.00 kami sudah berada di basecamp PGPI. Bahkan tenggorokanku sama sekali tak tersentuh air selama pendakian gunung ini.



Kami masak nasi dan lauk yang telah kami bawa untuk sedikit menghemat uang. Setelah bedug kami meluncur ke arah kawah putih untuk mendaki gunung patuha. Namun di tengah jalan saat ku bertanya pada seseorang,kami mendapatkan informasi bahwa gunung ini tidak di buat untuk acara pendakian gunung,bahkan motor pun bisa sampai ke puncaknya. Kami langsung mempercayai keterangan orang itu setelah di berkata bahwa dia adalah warga kaki bukit gunung ini. Tak mau berlama lama kami langsung meluncur deras menuju gunung salak. Setelah melewati kota Cianjur dan sukabumi akhirnya kami sampai di cicurug.
Gunung Salak

Dari cicurug kami menuju taman nasional gunung salak yang terletak di cidahu. Setelah kami sampai di sana kami langsung di sodori informasi oleh petugas bahwa gunung salak sedang di tutup. Gunung ini biasanya di tutup pada bulan februari dan agustus sehingga tutupnya gunung ini pada bulan februari menimbulkan tanda tanya besar di otakku. Namun petugas menjawab bahwa penutupan ini sangat mendadak karena ada alasan tertentu,oleh sebab itu belum sempat di umumkan. Mengingat hari sudah menunjukkan jam 21.30 malam kami tak mau repot repot berfikir dan memilih untuk tidur di dalam kantor Taman Nasional Halimun Salak (TNGHS).

Jam 23.00 2 teman kami dari jakarta sampai di Kantor TNGHS. Fadli adriyansah seorang teman dari organisasi pecinta alam yang bernama “Sedekah Alam” dan seorang rekan yang bernama Aji yang merupakan mahasiswa UNDIP jurusan perikanan telah tiba. Kami langsung terbangun dari tidur dan bersama sama menikmati teh dan camilan di tengah malam yang dingin ini. Ketika hari mulai berganti,akhirnya kami mulai tidur pada jam 01.00 Sabtu, 5 Februari 2011.

Hari-6 
Sekitar jam 05.30 kami mulai memasak nasi yang di nikmati rame rame dengan sekaleng sarden. Setelah itu kami mulai mengurus perijinan. Dengan teknik bersilat lidah akhirnya kami mendapat tiket masuk gunung salak. Namun terdapat sebuah tulisan di belakang tiket yang berbunyi. Ini tiket ijin masuk ke kawasan wisata,bukan ijin melakukan pendakian. Pihak Taman Nasional tidak bertanggunung jawab jika kami tertangkap polisi hutan yang sering berpatroli di gunung salak.

Polisi hutan biasanya melakukan patroli di sekitar 2 jalur pendakian gunung salak yang resmi,yaitu jalur Cangkuang Cidahu dan jalur pasir renggit. Setelah membayar tiket sebesar 5 ribu per orang kami mulai mendaki gunung ini pada jam 08.00 pagi. Kami mengambil arah ke puncak, sedangkan fadli dan rekanya terpaksa hanya bisa mengambil arah ke air terjun untuk berwisata karena kaki temanya yang cidera . Selain itu fadli sedang ada acara yang membuatnya harus berada di jakarta pada sore ini juga. Maka beruntunglah kami ada teman yang menyambut kedatangan kami di sela sela kesibukanya.

Gunung salak mempunyai medan pendakian yang lain dari gunung gunung biasanya. Gunung ini bermedan lumpur yang kadang membuat perjalanan turun lebih lama daripada perjalanan naik. Untuk mencapai puncak salak 1 dari jalur ini membutuhkan waktu 7-8 jam. Waktu paling cepat untuk mendaki gunung ini adalah 6 jam yang biasanya di lakukan oleh Orang orang Taman Nasional yang sudah terbiasa mendaki gunung ini.

Kami terpaksa memanjat pintu masuk jalur pendakian yang tertutup. Pintu itu terletak di kiri jalan sebelum javana spa. Di sebelah kiri pintu ada sebuah pos kecil yang di gunakan petugas untuk menjaga jalur. Karena gunung ini di tutup maka otomatis tidak ada petugas di pos ini.

Jika waktu tercepat mendaki gunung ini 6 jam, maka kami mungkin akan membutuhkan waktu 7 jam karena selain belum mengenal medan juga tenaga kami sudah mulai habis. Sedangkan perjalanan turun kami perkirakan sekitar 5 jam. Total waktu yang akan di habiskan adalah sekitar 12 jam naik dan turun. Perkiraan kami mirip dengan informasi yang kami dapat dari orang Taman Nasional bahwa waktu paling cepat untuk mendaki dan turun dari gunung ini adalah 11 jam. Setelah ku melihat jam yang masih melekat di tangan kiriku, expedisi ini sepertinya tidak memungkinkan. Jam 8.30 kami baru berada di dekat gerbang pendakian, maka bisa di simpulkan kami akan kembali berada di Kantor TNGHS pada 12 jam berselang atau sekitar jam 9 malam di tambah cadangan waktu 30 menit untuk faktor X.

Dengan perkiraan bahwa kami terlalu telat untuk mendaki dan kabut mulai pekat dengan di selingi hujan gerimis kami memutuskan untuk turun. Selain faktor tersebut belum lagi kami harus bermain petak umpet dengan polisi hutan yang sering berpatroli. Kami berencana mendaki gunung ini pada esok hari jam 03.00 petang.

Kami langsung turun dan bergabung bersama fadli dan aji yang sedang menyedu kopi hangat di dekat air terjun. Kami menghabiskan pagi itu dengan secangkir kopi di kedai kecil dekat air terjun. Saat otakku mulai dingin dan mulai bisa berfikir jernih akhirnya ku putuskan takkan mendaki gunung ini lewat jalur ini. Kami berencana akan menggunakan jalur lain yang lebih singkat dan aman dari jangkauan polisi hutan. Selain lewat jalur ini jalur yang bisa di lewati adalah jalur Giri Jaya,Cimelati,Kertajaya dll.

Kala hari menjelang siang kami kembali ke kantor TNGHS karena fadli akan pulang ke jakarta karena ada urusan tertentu. Beberapa menit setelah mereka pulang kami juga ikut pergi dari TNGHS. Di tengah jalan aku coba mencari informasi di internet. Ku bandingkan jalur Kertajaya,Girijaya Dan cimelati dengan data yang ada. Mengacu pada waktu yang di butuhkan untuk mencapai puncak salak dan waktu yang di butuhkan untuk sampai di basecampnya akhirnya kami putuskan untuk menggunakan jalur Girijaya.

Sekitar jam 13.00 kami sampai di kawasan desa giri jaya yang lebih di kenal dengan kawasan makam eyang santri. Di giri jaya tidak ada basecamp pendakian. Seseorang yang sangat baik menghampiri kami dan mengajak kami untuk masuk ke rumahnya.

Warga setempat sering memanggilnya abi yakub yang merupakan seorang pengelola majelis taklim yang bernama Majelis Taklim Ar-Rohaya. Beliau adalah juru kunci makam eyang santri. Beliau biasa menampung para peziarah yang datang ke gunung salak. Tidak sering para peziarah adalah orang orang penting seperti Bupati dan anggota DPR. Rumah beliau mirip basecamp para peziarah yang akan mendaki gunung untuk mengunjungi makam eyang santri.

Setelah mengorek informasi lebih dalam tentang jalur ini, kami mendapat informasi bahwa hanya di butuhkan waktu 3 jam untuk mencapai puncak. Bahkan beliau berkata jika kami sekarang sudah siap mendaki maka beliau akan menyuruh orang untuk mengantar kami.

Jam 14.30 kami mulai mendaki gunung ini bersama seorang yang bernama pak nana. Jalur yang di lalui begitu rumit dan sulit terbaca. Selain itu juga tidak ada satu pun petunjuk arah di jalur ini. Jalur melewati 2 buah komplek pemakaman. Kami terus melaju hingga bertemu dari jalur lain dari kanan punggungan yang lebih layak . Beberapa meter setelah pertigaan kami sampai di sebuah makam yang orang desa sering menyebut puncak tugu.

Hatiku begitu terkejut ketika pak nana berkata bahwa ini lah puncak salak. Biasanya orang orang mencapai tempat ini dengan waktu 3 jam. Kami pun berkata bahwa bukan tempat ini yang kami tuju, kami bermaksud untuk mendaki puncak tertinggi gunung ini. Lalu beliau pun berkata untuk mencapai puncak salak yang tertinggi di butuhkan waktu sekitar 4 jam dari sini . Selain itu beliau juga belum pernah mendaki sampai ke sana.

Lagi lagi keadaan memaksa otakku untuk kembali berfikir. Akhirnya ku bujuk pak nana untuk mendaki bersama sama ke puncak salak 1 dengan berbagai pertimbangan. Kembali ku lihat jam yang masih menempel di tangan kiriku yang menunjukkan jam 15.30. Jika orang orang biasa sampai di tempat ini dengan waktu 3 jam,maka kami hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai tempat ini. Jika puncak salak 1 masih berjarak 4 jam dari sini,mungkin kami bisa mencapainya dalam 1,5 jam. Mengingat jam masih menunjukkan pukul 15.30 sepertinya pertimbanganku cukup masuk akal. Kami memperkirakan bahwa kami akan sampai di puncak pada jam 17.00 dan kembali sampai di bawah pada jam 19.00.

Akhirnya kami bertiga berangkat menuju puncak salak 1. Jalur yang di lewati lebih jelas dari jalur jalur sebelumnya dan mulai terdapat sedikit petunjuk arah. Karena sama sama tidak tau kami harus lebih ber hati hati agar tidak salah jalur. Jika perjalanan sebelumnya adalah pak nana yang mengantar kami ke puncak tugu,maka kali ini sepertinya kami yang mengantar pak nana ke puncak salak 1.

Kami mulai melaju dengan tampang agak putus asa. Di tengah jalan ku lihat sebuah patok yang bertuliskan HM 46. Wajahku berubah menjadi optimis karena patok inilah yang ku jumpai saat mendaki gunung ini lewat cangkuang cidahu. Puncak salak 1 berjarak 5 KM dari TNGHS yang berarti HM 50. Dengan keadaan ini ku perkirakan bahwa puncak salak hanya berjarak sekitar 400 meter dari tempat kami berdiri (50 Hm – 46 Hm = 4 Hm = 400 Meter). Sekitar jam 16.30 kami sampai di puncak salak 1


Aku bahkan tak mengira bisa sampai di puncak salak. Karena kami hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk menggapainya. Tak perlu berlama lama kami langsung berfoto dan sedikit makan. Jam 17.00 kami mulai turun gunung.


Di tengah jalan sandal Eigerku putus, sehingga memaksaku untuk berjalan tanpa sandal. Keadaan di perparah karena kami hanya membawa senter korek yang bercahaya redup. Sekitar Jam 19.00 ketika adzan isyak belum terdengar kami sudah sampai di desa girijaya. Lagi lagi tak setetes air pun membasahi tenggorokanku. Pendakian gunung salak pun di nyatakan usai dengan keberhasilan.

Hari-7
Minggu, 6 Februari 2011 kami berangakt ke rumah saudaraku yang terletak di jampang kulon sukabumi. Dari kota sukabumi masih memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk sampai di tempat ini. Mengingat tujuan kami selanjutnya dalah gunung Gede Pangrango, sepertinya terlalu konyol untuk menjebol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada hari minggu yang mana suasana di gunung sangat ramai. Kami berencana akan melanjutkan perjalanan ke cibodas esok pagi.

Hari-8
Senin,7 Februari 2011 pagi saat kami akan berangkat ke cibodas Tante memarahiku. Masak jauh jauh dari Demak Cuma mampir sehari di sini. Kami tidak di perbolehkan untuk pulang. Sebenarnya aku juga ingin lama lama di sini namun Azka di kejar kejar waktu pengisian KRS di kampus. Selain itu Ban motor Vega-R yang di bawa adalah milik seorang teman. Ban tersebut di minta oleh pemiliknya karena ada urusan penting sehingga memaksa kami secepatnya harus pulang. Akhirnya kami mulai berangkat ke cibodas pada Selasa, 8 Februari 2011 jam 11.00 pagi.

Hari-9
Gede-Pangrango

Sekitar jam 16.00 kami sampai di Basecamp Green Ranger Indonesia setelah menerjang hujan yang cukup lebat. Aku telah mengenal orang orang basecamp karena sebelumnya aku pernah ke sini. Bang Yudi yang biasanya di sini sedang pergi ke bekasi. Sedangkan anggota GNR lainya sedang sibuk kuliah. Biasanya tempat ini akan rame oleh anak anak GNR pada akhir pekan atau pada saat liburan. Kami mencoba mengorek informasi pada malam itu sebelum akhirnya tidur di kamar bang yudi. Dari beberapa informasi sepertinya keadaan sangat memungkinkan untuk mendaki.

Hari-10
Rabu, 9 Februari 2011 jam 07.00 pagi kami mulai meninggalkan basecamp GNR . Setelah makan dan membeli sandal japit Sky Way akhirnya kami baru benar benar berangkat memdaki pada jam 07.30 pagi. Kami membeli tiket air terjun yang berharga 3 ribu rupiah. Pak petugas tidak curiga sedikitpun terhadap kami karena penyamaran kami benar benar sempurna.

Aku hanya memakai setelan celana pendek dan kaos berlengan panjang dengan memanggul tas eiger yang hanya berisi jas hujan,2 Roti Biskuat dan 1 Roti Roma abon serta bolol air 500 Ml yang kosong sehingga tasku terlihat sangat tipis. Selain itu sandal Japit Sky Way ku meyakinkan pak petugas kalau aku bukan pendaki gunung.Sementara itu Azka memakai setelan celana pendek dan swetter. Dia memakai kaca mata hitam dan kamera yang menggantung di lehernya seperti layaknya seorang wisatawan.

Kami langsung melaju mulus ke puncak pangrango. Kami berjalan berhati hati dan sangat sunyi karena menghindari jika saja ada polisi hutan yang berpatroli. MP3 yang biasanya selalu berkumandang kini tak terdengar lagi.

Di tengah jalan tubuhku benar benar sangat tak berdaya karena seketika terserang masuk angin dan panas. Namun ku paksakan kaki ini untuk terus melaju meski sendi sendi lutut sangat kaku (Gejala orang sakit Panas).

Setelah melawati Pos air panas dan pos kandang badak kami sampai di puncak tertinggi gunung pangrango pada jam 11.15. Kami berfoto dan tak lupa mengunjungi sejenak alun alun mandalawangi. Setelah itu kami langsung kembali ke pos kandang badak. Jam 13.00 kami telah sampai di pos kandang badak. Kami langsung mendaki gunung gede dan berhasil mencapai puncaknya pada jam 14.30. Setelah berfoto kami langsung tancap gas turun gunung. Jam 17.30 kami sampai di Basecamp GNR. Pendakian kali ini benar benar Cepat,Tepat Dan senyap tanpa ternoda oleh kesalahan apapun. Total waktu yang di butuhkan untuk menggapai puncak Pangrango dan puncak Gede Serta kembali turun ke cibodas adalah 11 jam. Yaitu Jam 07.30 sampai 17.30.



Setelah malam tiba tubuhku benar benar rapuh karena terlalu mamaksakan untuk melakukan pendakian. Setelah minum Tolak angin di susul oleh Mixagrip dan di dorong oleh Mie Rebus dan teh hangat akupun terlelap. Perutku terlalu mual untuk menelan nasi, bahkan 1 mangkok mie rebus pun tak akan habis. Azka menghabiskan waktu untuk bercerita bersama bang idhat Lubis dan Istrinya.


Hari-11
Kamis,10 Februari 2011 jam 11.00 pagi kami meluncur ke Bandung. Kami sampai di kost Budi sekitar jam 15.00 sore. Malam harinya kami mencoba berkunjung ke KMPA (Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam) Ganesha / MAPALA Universitas ITB. Kami study banding antara MAPALA ini dan MAPALA Undip. Saat hari sudah mulai malam kami kembali ke markas.

Manglayang
Hari-12
Jumat, 11 Februari 2011 jam 07.00 pagi kami meluncur ke Desa Barubereum jatinangor untuk mendaki gunung Manglayang. Kami sampai di desa Barubereum sekitar jam 09.00. Kami menitipkan motor pada warung Bu Ipah. Warung ini biasanya di jadikan basecamp oleh pendaki yang akan mendaki gunung Manglayang. Setelah kami mengorek informasi lebih dalam maka di dapat data bahwa untuk mendaki gunung ini biasanya di butuhkan waktu sekitar 3-4 jam pendakian normal.

Jam 13.00 setelah melakoni ibadah sholat jumat di masjid setempat kami mulai melakukan pendakian. 30 menit berselang kami sampai di puncak bayangan. Setelah sedikit makan dan minum akhirnya kami sampai di puncak tertinggi gunung manglayang 30 menit kemudian. Di puncak terdapat beberapa makam yang menjadi tanda puncak tertinggi gunung ini. Setelah agak berlama lama di puncak kami mulai turun gunung dan sampai di basecamp jam 16.00 sore.


Kami langsung meluncur ke arah sumedang untuk mendaki gunung Tamponmas. Kami menuju bumi perkemahan yang terletak di padayungan. Namun setelah kami sampai di sana di bumi perkemahan benar benar tidak ada orang. Setelah kami bertanya pada penduduk setempat kami di sarankan untuk menggunakan jalur tenggara yang bermula dari penambangan pasir. Dari jalur itu beliau mengatakan bahwa pendakian akan lebih terjamin karena ada basecampnya.

Setelah kami menuju ke sana akhirnya kami sampai di daerah pertambangan pasir. Kami bertanya pada penduduk setempat tentang basecamp gunung ini. Dari informasi yang kami peroleh kami di suruh untuk terus menanjak mengikuti jalan aspal ke gunung yang akan mengantar kami ke basecamp. Kami terus melaju melewati pertambangan pasir hingga akhirnya kami sampai pada sebuah kawasan TPA,Namun di situ tidak ada basecamp.

Ku cari kabel kabel listrik di sekitar tempat ini,hingga ku simpulkan tidak ada listrik di tempat ini. Ketika hari sudah mulai gelap kami turun menuju sebuah desa yang berjarak sekitar 2 KM dari kawasan TPA. Kami mencari makan di warung terdekat dan mencari informasi tentang gunung tamponmas. Akhirnya kami mendapat informasi tentang gunung ini. Puncak gunung tamponmas dapat di capai sekitar 4 jam dari TPA. Untuk menghemat jarak sekitar 2KM Biasanya pendaki menumpang truck sampah yang mengantar sampah ke TPA . Jika berjalan kaki menuju TPA perjalanan akan terasa berat karena melewati jalanan aspal yang keras. Truck sampah tersebut baru beroperasi sekitar jam 8-9 pagi. Di dekat kawasan TPA juga ada tempat pembuangan limbah rumasakit.

Aku heran mengapa gunung di jadikan TPA dan pembuangan limbah rumasakit. Keadaan ini benar benar membuatku tak semangat untuk mendaki gunung ini. Selain itu aku terlanjur emosi karena sangat sulit menemukan jalur untuk mendaki gunung ini. Jika kami benar mendaki gunung ini maka kami akan mendaki pada jam 04.00 pagi karena hari minggu kami harus sudah sampai di rumah. Namun mengingat truck sampah yang lewat sekitar jam 8-9 pagi sepertinya keadaan benar benar membuatku tak semangat mendaki gunung ini.

Berdasarkan perkiraan jika kami berjalan menuju TPA maka akan membutuhkan waktu 1 jam. Dari TPA ke puncak membutuhkan waktu 4 jam. Maka totalnya kami membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai ke puncak. Sedangkan ketinggian gunung ini kurang dari 2000 mdpl, keadaan ini benar benar membuatku tak semangat untuk mendaki gunung ini. Kamipun memutuskan untuk beristirahat dan langsung pulang esok hari.

Ternyata kami sedang makan di rumah saudara juru kunci gunung Tamponmas. Malam itu kami tidur di rumah beliau dan langsung meluncur ke Demak pada Sabtu,11 Februari 2011 jam 06.00 pagi. Kami akhirnya sampai di demak sekitar jam 14.00 dan EXPEDISI TANAH SUNDA dinyatakan selesai dengan berhasil mendaki 9 gunung yaitu Ciremay, Cikuray, Papandayan, Guntur, Malabar, Salak, Gede, Pangrango dan Manglayang.

Salam Extreme


Di tulis Oleh : Adriyano Louizzao


Baca Juga
- Sebuah Janji pada Pulau Jawa
- XPDC 9 Puncak Tanah Sunda
- Misi Penyelamatan Di Gunung Slamet
- Desa Promasan : Ajaran Tentang Loyalitas
- Gunung Sumbing : Misteri Angka 13
- Gunung Ciremay : Tancap Gas
- Gunung Slamet : Tragedi Mengenaskan