"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Pendaki Gunung VS Porter


2010
Jalur Pendakian Senaru, Gunung Rinjani

Siang itu kabut tipis turun perlahan. Menyelimuti kami yang masih terdiam. Rerumputan hijau diterpa angin, diantara kesunyian. Kami sedang berada di tengah perjalanan antara Danau Segara Anak dan Plawangan Sembalun. Kami bertiga sedang duduk ditemani oleh seorang porter. Tas karier yang kami bawa tersandar di tepi jalur pendakian. Begitupula barang bawaan sang porter yang beratnya mungkin lebih dari 50 Kg.

Kami tidak menyewa porter. Kami bertemu porter itu di tengah jalan. Porter itu sedang disewa oleh seorang turis luar negeri. Turis tersebut tertinggal jauh dibelakang bersama guide. Sang porter hanya duduk terdiam sambil menunggu sang bule yang masih tertinggal. Kami bertiga menemani sang porter yang sedang duduk sendiri, sambil sejenak menghela nafas.

Porter adalah seseorang yang tugasnya membawakan beban. Biasanya beban tersebut telah ditimbang sebelum mendaki. Setiap porter memiliki batas maksimal beban yang bisa mereka angkut. Mereka membawa beban dengan 2 wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Kedua wadah tersebut dihubungkan dengan sebuah bambu yang kemudian di pinggul di pundak mereka. Selain itu porter juga mempunyai tanggung jawab untuk membuat makanan bagi para turis yang menyewanya. Porter mendapatkan upah sesuai dengan perjanjian yang telah dibicarakan sebelumnya.

Guide adalah seorang pemandu bagi para turis. Guide tersebut menjelaskan dengan detail tentang gunung yang sedang mereka daki. Guide tersebut juga bertindak sebagai penerjemah jika turis ingin berbicara sesuatu dengan orang indonesia yang mereka temui. Berbeda dengan porter, guide tidak membawa banyak barang bawaan ketika mendaki. Upah yang diterima guide biasanya lebih tinggi dari porter meskipun kerjanya tidak seberat porter.

Kami membicarakan banyak hal dengan porter tersebut. Kami banyak bicara tentang gunung rinjani, pendaki bule dan mendaki gunung. Pada umunya porter telah puluhan kali mendaki sebuah gunung dengan beban yang berat. Hal itu menjadikan mereka begitu familiar dengan kegiatan ini. Kebanyakan porter mampu berjalan sangat cepat walaupun membawa beban lebih berat. Alam benar benar telah mendidik mereka dengan baik.

Kami sedang berada di tengah tengah jalur antara segara anak dan plawangan sembalun. Dari segara anak ke plawangan sembalun biasanya membutuhkan waktu tempuh 4 jam perjalanan. Sekitar 2 jam lagi mungkin kami akan sampai di plawangan sembalun. Tapi semua berubah sejak sang porter bergabung dengan tim kami.

Porter tersebut memilih menunggu sang bule di plawangan sembalun sambil membuat tenda dan menyiapkan makanan. Sang porter mulai berjalan meninggalkan tempat ini, sementara kami berjalan tepat dibelakangnya. Sang porter berjalan sangat cepat meskipun beban yang dibawanya sangat berat. Kami pun terseok seok mengikutinya

Kami berjalan menyusuri padang rumput. Semua tampak hijau membentang. Sesekali kabut tipis perlahan merayap. Menutupi rerumputan yang tertiup angin. Jalan yang kami lalui cukup menanjak. Memaksa kami bekerja lebih keras. Beberapa kali aku sempat berada di depan sang porter. Aku banyak memotong jalan supaya bisa mengimbangi sang porter. Sementara itu Azka dan Nanda masih setia menguntit di belakang sang porter. Mungkin sang porter memiliki banyak tenaga, tapi aku memiliki banyak akal untuk mengimbanginya. Kemampuan navigasi yang baik mampu membuat seseorang menemukan jalan paling cepat menuju puncak.

Akhirnya sang porter mengajak kami untuk sejenak istirahat. Semua terdiam, semua terengah engah. Dalam hati berkata "Alhamdulilah". Rasanya seperti memenangkan sebuah piala, karena akhirnya sang porter yang meminta istirahat terlebih dahulu. Detak jantung belum mereda, sang porter kembali mengajak kami untuk berangkat.
"Ayo mas berangkat !", begitu dia berucap pada kami.
"Ayo pak mari" begitu kami balas ucapanya
"Gila banget ini orang, ini orang atau robot" dalam hati kami berkata

Kali ini jalur menyempit sehingga aku tidak bisa lagi memotong jalur. Aku berjalan tepat dibelakang sang porter diikuti oleh Azka dan Nanda. Keringat mulai bercucuran, nafas kembung kempis, jantung berdetak keras, darah terpompa begitu cepat tapi sang porter masih berajalan. Demi harga diri kami masih berjalan mengikutinya. 

Waktu demi waktu berlalu hingga akhirnya Nanda mulai membuat jarak dengan Azka, begitupula Azka yang mulai tertinggal beberapa meter dibelakangku. Dengan kaki yang rasanya seperti mau patah aku pun mulai tertinggal oleh sang porter. Dari jauh terlihat bahwa tempat yang kami tuju mulai terlihat. Tekad kembali berkobar, kami bertiga mempercepat langkah dan berhasil kembali dalam barisan. 

Akhirnya kami semua sampai di plawangan sembalun. Kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai disini, jauh lebih cepat daripada waktu yang biasa digunakan para pendaki. Porter ini benar benar gila, membuat kami tampak berantakan. Kami segera minum air yang kami simpan di tas karier. Air ini terasa lebih sejuk dari pada sebelumnya. Jantungku seakan masih tertinggal jauh di belakang

Alam telah melatih sang porter sehingga bisa berjalan dengan cepat meskipun membawa beban yang berat. Kebiasaan mampu merubahnya menjadi seseorang yang kuat. Meskipun begitu kami masih bisa mengimbanginya walaupun hanya bermodal tekad dan semangat. Kemauan untuk berjuang dan kemampuan untuk tidak menyerah adalah hal yang dibutuhkan untuk melakukanya.

Seseorang harus merasakan sebuah pertempuran, agar dia mengerti cara untuk menang
Karena kita tidak akan pernah menang tanpa bertempur, 

Meskipun begitu,
Sesungguhnya tidak ada yang kami menangkan atau kami kalahkan, semuanya hanya proses pembelajaran menuju sifat yang lebih bijak

Pemenang sejati adalah dia yang bisa mengambil hikmah dari sebuah pertempuran, bukan dia yang memenangkan pertempuran (Adriyano Louizzao)

Semoga kita bisa kembali bertemu di lain waktu,
Kau telah mengajariku tentang arti sebuah perjuangan, kegigihan dan pantang menyerah
Sebuah perjalanan singkat yang padat magna

SALAM LESTARI


4 komentar:

bocah petualang mengatakan...

Para porter itu sama seperti orang di desa yg sudah terbiasa membawa beban berat menaiki atau menuruni bukit, kebiasaan telah menempa mereka menjadi orang yg kuat.

Adriyano Louizzao mengatakan...

Iya bos, mereka "Bisa karena terbiasa" , sedangkan kita harus "Berjuang luar biasa untuk bisa"

alwan zamroni mengatakan...

gan tgl 14 agustus ikut kami mau gak muncak ke semeru?

jojomarkojo mengatakan...

wah tulisannya bagus sekali, saya sedang menulis novel tentang porter rinjani, dan catatan mas adriyano sangat membantu riset saya, saya ijin gunakan infonya yaa ^_^

Posting Komentar