"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Mendaki Gunung sendiri, Menaklukkan sepi


Saat itu saya adalah mahasiswa Teknik geodesi UNDIP semester 8. "Pembuatan Peta Jalur Pendakian Gunung Merbabu" adalah judul dari skripsiku.  Saya mencoba untuk berbakti pada dunia pendakian, dunia yang telah memberi banyak ilmu tentang kehidupan. Pun pada saat ini, lagi lagi gunung memberiku inspirasi untuk menaklukkan gelar ST.

Gunung merbabu mempunyai 4 jalur pendakian yang biasa digunakan para pendaki yaitu jalur thekelan, selo, wekas dan chuntel. Saya harus menjelajah semua jalur pendakian gunung Merbabu untuk memasukkanya dalam peta sekaligus untuk melakukan proses analisis. Pada skripsi saya juga dilakukan proses analisis pengaruh keadaan jalur pendakian gunung merbabu terhadap tingkat kesulitan pendakian.

Pada saat itu saya memutuskan untuk mendaki gunung sendiri. Mendaki gunung sendirian akan lebih cepat karena data harus segera dikumpulkan dan skripsi juga harus segera dituntaskan. Karena saya mendaki gunung sendirian, maka saya bebas memutuskan kapan akan mendaki tanpa harus bertanya pada siapapun, salah satu hal yang membuat "mendaki sendirian" akan membuat skripsi saya lebih cepat.

Saya akan mendaki dari Wekas kemudian turun di Thekelan, dilanjutkan mendaki dari Chuntel dan turun di Selo. Saya sudah pernah mendaki gunung Merbabu dari jalur thekelan dan jalur selo. Saya sengaja menjadikan jalur Selo dan Thekelan sebagai jalur yang akan saya lalui ketika turun gunung. Turun gunung melalui jalur yang belum pernah kita lalui akan jauh lebih beresiko daripada mendaki dari jalur yang belum pernah kita lalui. Karena saya mendaki gunung sendirian, resiko sekecil apapun harus diperhitungkan dengan matang.

Pagi itu sekitar jam 08.00 WIB saya sudah sampai di basecamp wekas. Saya diantar oleh seorang teman yang berdomisili di magelang. Saya hanya berpesan pada teman saya untuk menjemput saya besok sore di basecamp Selo. Saya mendaki gunung membawa tas daypack yang berisi roti basah, roti kering, air dan jas hujan serta 2 buah GPS Navigasi, Camera Digital dan DSLR.

Sendiri saya melewati tanjakan demi tanjakan. Bertemu dengan pendaki lain adalah sesuatu yang sangat berharga ketika itu. Terkadang kabut mencoba menakutiku, menjauhkanku dari terik sang surya. Ketika saya sedang duduk untuk mencatat data, hanya hembusan angin yang menemani saya. Kesendirian ini benar benar nyata menerpa. 

Terkadang saya bertemu dengan pendaki lain di tengah jalan. Saya sejenak menyapa ramah, kemudian meninggalkan mereka. Saya harus tetap berjalan sendiri agar pendakian ini cepat selesai. Dengan isi tas saya yang seperti itu, Terperangkap malam di gunung adalah sesuatu yang sangat menakutkan.

Jam 14.30 WIB saya sampai di basecamp jalur pendakian thekelan. Di basecamp thekelan tidak ada seorang pun pendaki. Jauh berbeda dengan keadaan beberapa tahun silam. Beberapa tahun yang lalu jalur thekelan sangat populer di kalangan pendaki. Basecamp jalur pendakian thekelan adalah salah satu basecamp Favorit saya karena dulu saya sangat sering kesini. Kini pengunjung jalur pendakian thekelan gunung merbabu harus terbagi ke 3 jalur pendakian lain.

Saya mengurungkan niat untuk menginap di basecamp thekelan. Saya memutuskan untuk menunda nostalgia dengan basecamp kesayangan. Saya memilih untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju basecamp chuntel, berharap ketemu rekan pendaki yang bisa saya ajak bicara. Saya menggunakan ojek untuk menuju basecamp chuntel. Di basecamp chuntel ada beberapa pendaki, hal itu sedikit menghangatkan hati saya yang terlalu dalam terendam sepi.

Keesokan harinya, sekitar jam 06.00 WIB saya kembali memulai perjalanan ini. Tanjakan demi tanjakan saya lewati sendiri. Kesepian ini terasa sangat menyengat, membuatku merindukan kehadiran orang orang yang biasa menemaniku mendaki. Saya menyusuri satu demi satu puncak, melewati satu demi satu pendaki. Kabut mencoba menemani langkah kaki ini, membuat buram gambar yang saya abadikan dengan kamera.

Di puncak saya tidak sendiri, kabut masih setia menemani. Awan mendung mulai menghampiri, memaksa saya untuk berlari menjauhi puncak. Di tengah perjalanan turun hujan pun datang, membuat sempura kesepian ini. Keadaan ini membuat saya tersesat di jalan kenangan. Saya seperti berjalan diantara satu demi satu kisah. Kenangan terindah bersama orang orang terdekat terus menghantui, menyapa saya dalam setiap jejak yang terukir. Hujan berhasil membangkitkan sejuta kenangan indah tentang gunung Merbabu.

Kenangan itu terus menyerang tanpa henti, memaksa saya untuk meratapi kepedihan. Keadaan ini benar benar menyeretku pada masa lalu, suatu masa yang tak akan pernah terulang kembali. Semakin jauh saya melangkah, semakin banyak saya kehilangan. Saya tak mampu menghadapinya lagi, kesepian ini terlalu kuat untuk dijinakkan.

Setelah sekian lama berjalan akhirnya saya sampai di pos 3. Di sana saya memutuskan untuk bergabung dengan team pendaki lain yang sedang melakukan perjalanan turun. Mereka menyelamatkan saya dari sepi, dari memori yang terus menghantui. 

Sore itu hujan kembali menerpa, mengiringi kedatangan kami di basecamp jalur pendakian selo. Jam 17.00 WIB, Saya menikmati segelas teh hangat di depan basecamp. Saya mencoba memahami beberapa pendaki yang melakukan pendakian solo. 

Sudah 10 kali lebih saya mendaki gunung ini, dan jika pun saya selalu kembali kesini, alasanya adalah karena saya ingin menikmati pendakian bersama teman teman saya, sebuah kehangatan yang tidak bisa diperoleh ketika mendaki sendirian. Hal itu menyebabkan saya tidak mempunyai ambisi lagi untuk menggapai puncak Merbabu.

Beberapa orang yang rela mendaki gunung sendiri pasti memilki ambisi yang besar untuk menggapai puncak yang mereka tuju

Sebenarnya pendaki solo tidak sendiri dalam mendaki, ambisi mereka menjadi teman terbaik dalam pendakian. Oleh karena itu mereka tidak pernah merasa kesepian

Itulah yang menyebabkan saya merasa sendiri, karena tidak ada lagi ambisi untuk mendaki gunung ini.

Kita tidak akan pernah merasa sendiri, selama kita mempunyai tujuan dan ambisi untuk mencapainya (Adriyano Louizzao)

SALAM LESTARI

Peringatan ! Jangan terinspirasi untuk mendaki sendiri, semua itu membutuhkan pengalaman, pengetahuan dan persiapan yang matang

18 komentar:

Lulu Wulandari mengatakan...

gak akan terinspirasi bang untuk mendaki sendiri,,,
takut saya,hehee
^_^

Adriyano Louizzao mengatakan...

Jangan neng, nanti kalo dimakan macan, hahaha

Anonim mengatakan...

pengen...
seru kyk ny ngebolang...
:D

santi mengatakan...

saya perempuan dan berencana mendaki sendiri, tapi bukan gunung sbg parmulaan bukit dan lembah

Adriyano Louizzao mengatakan...

@Anonim : Seru, tapi hati hati, harus extra siap, :D

Adriyano Louizzao mengatakan...

@Santi : Siapkan segalanya dengan baik sob, perbanyak informasi dan pengalaman

apotek puskesmas sarang mengatakan...

teringat dulu sendirian dipereng putih

Cresnawan Sumual mengatakan...

lain kali sya mau coba rasakan gimana itu yg namanya mendaki , biar rasa ingin tahu ini terpuaskan masbro :)

Bryan Gerald mengatakan...

saya lagi rencana menghilangkan penat di puncak merbabu awal taun baru nih gan, dan sialnya saya sendirian, emm.. ada tips2nya gan ?? reply

Sis mengatakan...

salam kenal andri :)

nur laila mengatakan...

masih terlalu dini bagi saya untuk mendaki seorang diri..

ramayatul Ulyya mengatakan...

Gilak, keren abis gan
Lanjutkan soloisnya ya... Ditunggu pendakian solo selanjutnya

Aboed Arief mengatakan...

kalau jalurnya sdh pernah apalagi sdh sering kita lewati sih okee... kalau beloom... maaf... hehehe

Janur Nurzaman mengatakan...

pernah 2 kali mendaki sendiri, ciremai via palutungan...sepi2 sedap deh...
juga danau gunung tujuh jambi..pas ngecamp sendirian gk ada siapa2 jadi aja takut, jam 18.30 bongkar tenda packing langsung dah lari2 hehehehee...

Igo Bule mengatakan...

Alhamdulilah saya pernah melakukan perjalanan seorang diri ke gunung ciremai thl 17 desember kemarin..sangat berbeda rasanya mendaki seorang diri..malah saya lebih menikmati berjalan seorang diri...salam lestari

puncak petualang mengatakan...

Cari Tempat Rental Tenda Dome / Sewa Peralatan Camping / Hiking / Pendakian Maupun Kegiatan Outdor, Kami ada untuk anda yang mencari rental / sewa / persewaan Tenda Dome Maupun Peralatan Lainnya.

penyewaan tenda, Sewa tenda, dan peralatan lainnya, Tenda dome kapasitas 2 - 3 dan 4 - 5 orang, Tenda dome double layer, Tenda waterproof, Tenda Windproof, Tenda dome sewa perhari, maupun sewa Tenda harga diskon silakan hubungi kami, Puncak Petualang No.1 di Sidoarjo.

Perlengkapan kami :
1 Carrier 80lt/60lt (cover) > Rp 13.000 /hari
2 Carrier CONSINA 85lt (cover) > Rp 30.000 /3hari
3 Tenda dome doble layer ( 4-5 Orang ) > Rp 15.000 /hari
4 Sleping Bag ( dacron / Polar ) > Rp 5.000 /hari
5 Kompor ( Gasmate ) > Rp 5000 /hari
6 Nesting > Rp 5.000 /hari
7 Matras > Rp 3.000 /hari
8 Headlamp > Rp 5.000 /hari
9 Lentera Tenda > Rp 5.000 /hari
10 Tenda Pramuka > Rp 35.000 /hari
11 Egg Holder (isi 12) > Rp 5.000 /hari
12 Flysheet (3x3m) > Rp 5.000 /hari
13 Tongkat (Trekking Pole) > Rp 5.000 /hari
14 Tenda dome ( consina magnum 4 ) > Rp 25.000 /hari
15. Carrier Rei 60lt/80lt > Rp.25.000 /hari

= DAPATKAN POTONGAN UNTUK KEGIATAN OUTDOOR INSTANSI / SEKOLAH / TRANING OUTBOUND =

Alamat Petualang :
Lokasi : P. Sidokare Asri QQ.2, Sidoarjo ( Dekat Gading Fajar & Taman Pinang ) - Jawa Timur
SMS / WA : 08563430171
PIN : 28DC0A3D
www.puncakpetualang.com

galih angga mengatakan...

udah pernah sendiri ke lawu dan menyenangkan .. bahkan kalau udah ada dana-kesempatan akan ngulangi lagi..
benar harus punya ambisi tekat yg tinggi membuat track record pendakian dsb.. luar biasa pokoknya lah... saat turun sampai pos 2 ke 1 jalur cemoro sewu juga hujan, saat menndaki dari pos 5 ke sendang drajad bahkan dah malem, ketakutan harus diatasi karena mau gimana lagi mau balik jauh lari sembunyi juga tidak bisa.. itulah kenyataan, dan setiap kenyataan harus dihadapi mungkin itu salah satu pelajaran dari solo hiking saya .. hhee

Salam Lestari !!

ahmad fauzi mengatakan...

Sudah pernah pendakian solo ke puncak salak, dan itu rasanya luar biasa...

Posting Komentar