"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kehidupan. Tampilkan semua postingan

4 Dasar sifat manusia (Koleris, Melankolis, Sanguinis, Plegmatis)


Pada umunya karakter dasar setiap manusia tersusun dari 4 elemen. Bukan... ke 4 elemen tersebut bukan air, api, udara dan tanah. Bayangkan saja jika setiap manusia bisa menguasai elemen elemen tersebut seperti avatar. Mungkin para pendaki gunung akan punah dengan sekejap. Orang orang bisa terbang untuk sampai ke puncak gunung dengan bantuan pengendali udara. Mereka juga tidak akan pernah kekurangan air dengan bantuan para pengendali air. Jika gunungnya terlalu tinggi untuk didaki maka mereka bisa membuatnya rendah dengan bantuan para pengendali tanah. Mereka juga bisa menggunakan jasa pengendali api untuk membuat api unggun besar yang bisa melenyapkan dingin di puncak gunung. Bagaimanapun ke 4 elemen tersebut telah berubah semenjak negara api menyerang.

Ke-4 elemen yang dimaksudkan dalam pembicaraan ini adalah sifat Koleris, Melankolis, Sangunis dan Plegmatis (serius). Setiap manusia pasti memiliki ke-4 sifat tersebut dalam dirinya. Meskipun demikian setiap manusia pasti memiliki 2 sifat yang lebih dominan dari sifat sifat yang lain. Ke-4 sifat tersebut adalah :

Koleris (Yang Kuat)
Koleris merupakan sifatnya para pemimpin. Mereka mempunyai karakter tegas, pantang menyerah, tidak suka menyerah, tidak suka mengalah, bertanggung jawab dan tidak pernah takut menghadapi tantangan. Mereka biasanya suka memerintah dan mengatur orang orang disekitarnya. Selain itu jika kita mempunyai 2 orang dengan tipe koleris dalam satu kelompok maka mereka akan cenderung saling mengintimidasi karena sifatnya yang tidak mau kalah. Karena karakternya yang demikian biasanya mereka hanya mempunyai sedikit teman. Bagi orang orang koleris tidak pernah ada hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Mereka akan selalu berusaha sekuat mungkin mewujudkan apa yang telah dia impikan. Oleh karena itu orang orang ini biasa disebut “Yang kuat”

Melankolis (Yang sempurna)
Melankolis biasanya dimiliki oleh seorang musisi atau penggiat seni lainya. Orang orang dengan tipe ini sangat peka terhadap sesuatu yang menyangkut perasaan. Orang orang melankolis juga sangat suka berfikir. Mereka selalu melakukan apapun dengan pemikiran yang matang. Biasanya mereka cenderung diam, menganalisa, mempertimbangkan dan tidak banyak bicara. Tapi sekali dia bicara maka apa yang disampaikanya adalah sesuatu yang begitu penting dan mendalam. Orang orang ini juga memiliki sifat rapi dan teratur. Segala sesuatu yang terjadi harus sesuai dengan pemikiran dan aturanya. Oleh karena itu orang orang ini biasa disebut “Yang sempurna”

Sanguinis (Yang Populer)
Sanguinis adalah sifat yang dimiliki oleh seorang presenter atau artis. Mereka cenderung ingin populer dan disukai orang lain. Mereka mudah bergaul dengan siapapun dan dimanapun. Mereka sangat humoris dan biasa memulai percakapan. Emosinya juga sering berubah ubah. Ada kalanya mereka sangat bergembira dan ada kalanya mereka menangis tersedu sedu. Mereka adalah seorang pendengar yang baik. Mereka bisa mencairkan suasana sedih yang sedang dihadapi orang lain. Dengan sifatnya yang seperti itu maka orang orang ini biasanya mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Oleh karena itu orang orang ini biasa disebut “Yang populer”

Plegmatis (Cinta Damai)
Plegmatis adalah sifatnya orang orang yang cinta damai. Mereka cenderung mengalah untuk menghindari suatu konflik. Mereka tidak pernah terlihat menonjol dalam suatu kelompok. Mereka selalu hidup dengan biasa biasa saja dan sebisa mungkin berada di zona aman. Mereka terlalu takut untuk menerima tantangan. Mereka juga selalu takut dalam mengambil keputusan keputusan penting. Mereka tidak memiliki ambisi yang kuat untuk mewujudkan sesuatu. Mereka hidup seperti air yang mengalir. Orang orang dengan tipe seperti ini biasanya bisa menjadi pendengar yang baik. Mereka juga sangat sabar dalam menghadapi sesuatu. Emosinya bisa terkontrol dan sangat jarang marah marah. Oleh karena itu orang orang ini biasa disebut “Cinta Damai”

Bagaimanapun kita tau lebih dalam tentang diri kita sendiri jadi saya rasa kita tidak perlu mengikuti test apapun untuk menemukan jawabanya

Contoh, ini adalah komposisi sifat penyusun karakterku :

Koleris : 40 %                                     
Melankolis : 40 %                                                        
Sanguinis : 15 %     
Plegmatis : 5 %                                  


Kalau anda ?

SALAM LESTARI





Perjalanan untuk bersyukur

Sore ini aku pergi ke sebuah desa di tepian laut utara pulau jawa. Desa ini terletak di sisi utara Kab. Demak, sekitar 30 menit dari rumahku yang berada di Demak kota. Sore ini aku ingin mengobati kerinduanku pada sunset, karena aku mulai lupa bagaiaman wujudnya. Aku pergi membawa DSLR Nikon dengan lensa fix 50 mm.

Lensa fix biasanya digunakan untuk fotografi life still, makro atau model. Lensa fix dengan ukuran 50 mm sangat jarang digunakan untuk fotografi landscape, termasuk untuk memotret sunset. Tapi aku tetap berangkat dengan bekal apa adanya karena masih berharap mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar foto.

Aku pergi membawa motor, melewati jalanan yang semakin lama semakin rusak. Jalanan yang dilewati pun tampak becek karena hujan. Di sisi kiri jalan terdapat sungai yang akan bermuara di laut. Sungai inilah yang menjadi jalan perahu para nelayan untuk bisa sampai di laut. Jika sedang tidak melaut maka perahu perahu tersebut akan tampak berjajar di pinggir sungai.

Di pinggir jalan terdapat warga yang sedang menjemur ikan asin. Selain itu juga banyak warga yang sedang membuat perahu di halaman rumahnya. Kebanyakan warga di sini sudah bisa membuat perahu sendiri. Jika kita mendekat ke tempat pembuatan perahu maka akan tercium aroma aneh yang cukup menyengat. Aroma tersebut berasal dari lem yang digunakan untuk merekatkan perahu.

Keadaan di sekitar sungai sangatlah kumuh. Banyak sampah yang tercecer di jalanan. Sampah yang sengaja dibuang masuk ke sungai juga tidak kalah banyak. Kebanyakan warga disini memang belum menyadari arti pentingnya kebersihan. Hal itulah yang membuat sungai ini semakin lama semakin menyempit.

Di jalanan juga terdapat kambing kambing yang berjuang keras untuk hidup. Kambing tersebut tampak sangat kotor dan tidak terawat. Kulit kambing tersebut tampak seperti sedang terkena virus. Yang pasti kambing tersebut tampak tidak sehat. Lingkungan yang kumuh menjadi salah satu penyebabnya.

Di pinggir jalan banyak anak anak kecil yang sedang bermain. Mereka tidak memakai alas kaki, rambutnya merah karena terlalu sering terkena panas. Mereka adalah objek yang sempurna untuk fotografi human interest, tapi aku tidak terlalu tega untuk mengabadikanya. Aku membiarkan satu demi satu moment terlewat. Otakku sedang tidak sinkron untuk menghasilkan sebuah foto. Aku masih berfikir tentang keadaan yang sedang mencoba berbicara padaku.

Aku duduk terdiam di muara sungai. Laut yang luas sudah sangat dekat di depanku. Aku melihat perahu perahu nelayan yang lewat. Anak anak muda sepertiku harus ikut berlayar ke laut. Aku tidak mengerti bagaimna cara mereka bisa berada di sekolah besok pagi.

Kebanyakan anak muda disini akan menikah dengan anak muda lain di desa ini. Sangat jarang anak muda yang bisa keluar dari desa dan menjadi orang orang sukses. Setelah menikah mereka akan berusaha membuat rumah di sekitar desa ini. Kemudian anak anak mereka harus kembali berjuang ke tengah laut. Begitulah seterusnya. Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan, bagaimanapun keadaan ini sangat sulit untuk diingkari. Keadaan ini telah menciptakan budaya yang telah hidup turun temurun. 

Aku pernah berfikir bagaimana jadinya jika aku dilahirkan di desa ini, mungkin sekarang aku sedang berada di tengah laut mencari ikan. Lingkungan akan menjadikanku manusia yang mempunyai cara berfikir mirip dengan kebanyakan orang yang hidup di sana. Mungkin membuang sampah sembarangan tidak akan menjadi penyesalan bagiku. Mungkin aku tak mempunyai banyak waktu untuk bermain guitar, bermain piano, menciptakan lagu, fotografi dan karya karya lainya.

Mungkin aku tidak akan tahu bagaimana cara membuat blog. Mungkin aku tidak akan mempunyai ambisi untuk membuat tulisan. Mungkin aku akan sangat sulit untuk bisa memperoleh gelar sarjana. Lingkungan dan budaya yang ada terlalu kuat menjerat. Hanya orang orang hebat yang bisa melepaskan diri menjadi orang besar.

Aku befikir untuk menyulap apa yang terlihat. Di jalanan tidak lagi ada sampah yang tercecer, Anak anak muda giat pergi ke sekolah, Kapal yang berangkat ke laut memiliki teknologi canggih. Ah, tapi bagaimana caranya. Mungkin tuhan memang menciptakan segala sesuatunya seperti itu agar kita bisa belajar banyak hal tentang kehiduapan.

Bukan maksudku untuk meremehkan atau merendahkan. Aku hanya melihat dan mendengar, kemudian berfikir, merasakan, menemukan kejanggalan, mempelajari, kemudian menulisnya

Aku tidak paham tentang bagaimana cara tuhan bisa memilih kita untuk terlahir dari rahim ibu kita yang sekarang. Kita dilahirkan di lingkungan yang sangat mendukung untuk melangkah, kita sangat dekat dengan orang orang hebat. Kita harus benar benar banyak bersyukur.

Perjalanan sore ini mengajarkanku untuk lebih bersyukur

"Aku tidak pernah melihat ke bawah, karena aku tidak pernah merasa ada di atas"

Tak perlu melihat ke atas atau ke bawah, lihatlah di sekitarmu !
Banyak hal yang masih harus kita pelajari,
Bannyak tanda tanya yang masih harus kita pecahkan,

Sekian dan terimakasih

Lhoh ?

Katanya mau cari foto ?
Fotonya mana ?

Entahlah bro, perjalanan ini telah berubah makna

SALAM LESTARI




Aku, kau dan dunia



Kita berjalan melalui jalan yang tidak sewajarnya
Kita menempuh jalan yang lebih terjal dari biasanya
Kita bertujuan untuk menjadi berbeda dengan kebanyakan
Dan perbedaan itulah yang membuat kita tampak sama

Kita berbicara dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh kita
Hanya dengan bahasa itulah kita bisa mengerti satu sama lain
Kita berbicara dengan bahasa yang hanya diciptakan untuk kita
Karena bahasa itulah yang mempertahankan adanya kita

Kita menjelma menjadi merah ketika semuanya tampak biru
Kita menjelma menjadi putih ketika semua tampak hitam
Walaupun kita selalu berbeda dengan dunia
Dunia tak akan pernah membuat kita berbeda

Mungkin kita selalu melihat sunset dari tempat yg berbeda
Tapi kita melihatnya dengan tatapan mata yang sama
Mungkin kita selalu melihat bintang malam dari sisi yang berbeda
Tapi setidaknya kita melihatnya dari sudut pandang yang sama

Kita sama sama berjalan menuju sebuah puncak
Dari jalan yang berlainan, dari arah yang berbeda
Kita berjalan sendiri melewati malam yang begitu dingin
Menerjang kabut yang begitu sunyi

Tapi selama kita masih mempunyai tujuan yang sama
Selama kita masih mempunyai mimpi yang sama
Selama kita masih berjalan menuju puncak yang sama
Percayalah kau tak akan pernah sendiri

Karena aku hanya berjalan dari sudut yang lain

Sampai jumpa di puncak itu

Aku, kau dan dunia - Catatan Pendaki Gunung


Untuk ayah yang tak pernah menjadi ayahku





Untuk ayah yang tak pernah jadi ayahku

Telah lama kita tak saling bicara
Telah lama kita tak saling bercerita

Waktu menghadirkan kerinduan yang mendalam
Kerinduan tentang sosokmu yang belum sempat ku panggil ayah

Malam ini aku punya banyak cerita yang harus kau dengar
Aku punya banyak cerita yang akan membuatmu bahagia

Ada saat ketika kau bercerita padaku tentang sesuatu yang tak kumengerti
Kau bercerita tentang segala hal yang belum pernah kulewati
Aku mencoba memahami dengan seksama setiap kalimat yang kau ucap
Aku berfikir keras untuk merangkai setiap kata yang harus kujawab

Setiap kalimat yang keluar dari mulutmu adalah sebuah kehormatan bagiku
Setiap waktu yang kau luangkan adalah sebuah kebahagiaan untukku
Kau banyak bercerita padaku
Pada seseorang yang bukan anakmu

Aku tak banyak tahu tentangmu
Begitupula kau yang tak banyak tau tentangku
Aku bukan siapa siapa dalam masa lalumu
Tapi aku akan menjadi cahaya untuk masa depanmu

Tapi sepertinya tuhan tak mengijinkan kita bersatu dalam masa depan
Tuhan tak pernah mengijinkanku untuk memanggilmu ayah
Kini kau pergi untuk selama lamanya
Kau meninggalkanku bersama mimpi mimpiku

Aku ingin berbicara padamu sebagai laki laki
Tentang sesuatu yang hanya dimengerti oleh laki laki

Aku mempunyai mimpi 
Untuk menemani putrimu hingga mati
Untuk menjadi ayah dari cucumu kelak

Tapi aku tak punya waktu lagi 
Aku tak punya kesempatan lagi
Tuhan telah mengambil waktuku untuk membuktikan
Aku telah kehilangan cara untuk membuktikan

Kau tak akan pernah melihat kami menyatu
Kau tak akan pernah melihat kami bahagia
Kau pergi terlalu cepat

Mungkin kau sedang tersenyum ketika melihatku menulis
Mungkin kau menertawakan apa yang sedang kutulis

Wajar jika kau tak percaya padaku
Karena kebanyakan laki laki memang tak pernah bisa mencintai satu wanita hingga mati

Tapi aku hanya ingin kau tahu satu hal
Bahwa aku bukanlah bagian dari kebanyakan

Putrimu telah membuatku belajar banyak hal tentang cinta
Putrimu mampu membuatku melakukan apapun untuk cinta

Aku hanya ingin kau bahagia di alam sana
Aku hanya ingin kau percaya pada laki laki ini

Kelak aku akan datang ke duniamu
Sebagai laki laki yang tak pernah ingkar janji
Ketika itu aku akan memanggilmu ayah
Sebagaimana putrimu memaggilmu ayah

Aku akan datang ke surga bersama bersama sebuah nama
Sebuah nama yang kau beri untuk putrimu

Sampai betemu di alam sana
Selalu damai dalam terangmu

And


Teori Tentang Kegagalan


Gn. Welirang 2010
Setiap orang pasti pernah gagal. Ya, karena kegagalan adalah sesuatu yang wajib dilewati oleh setiap manusia. Tapi sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bangkit dari kegagalan tersebut dan kembali ke jalur kemenangan. Tapi untuk melakukanya bukanlah perkara yang mudah. Kadang kita membutuhkan sebuah alasan kuat kenapa kita harus kembali bangkit.

Kegagalan tersebut menyeret kita ke dalam sebuah ruangan yang teramat gelap. Sebuah ruangan yang terletak jauh di bawah sana. Kita hanya duduk terdiam melihat tembok yang penuh coretan. Coretan yang selalu mengingatkan kita pada kegagalan, coretan yang selalu membelenggu kita dalam kegagalan. Kita butuh banyak waktu untuk tersadar tapi sebenarnya waktu yang kita miliki tidak sebanyak itu.

Ada kalanya kita telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Bahkan kita telah dianugrahi otak yang cerdas, semangat pantang menyerah, kemauan yang besar dan hal hal lain yang dibutuhkan untuk sukses. Tapi kadang hal hal tersebut tak juga mampu menyingkirkan kegagalan dalam hidup kita. Dan mungkin memang tak ada cara untuk menyingkirkan kegagalan dalam hidup ini.

Ketika kita begitu yakin akan semua hal yang telah kita persiapkan. Tiba tiba secuil kesalahan datang dan membuyarkanya. Kadang kesalahan tersebut tidak sesuai dengan logika yang ada. Tapi bagaimanapun kesalahan itu telah terjadi. Sebuah kerikil kecil pun bisa membuat bus yang besar terguling. Juga bisa membuat kereta yang melaju cepat tersendat. Ah, hidup memang penuh dengan tanda tanya

Jika kegagalan adalah hal yang pasti dilewati dalam hidup, saya tidak ingin mengingkarinya. Tapi terkadang saya ingin memilih waktu kapan saya harus gagal dan kapan saya harus sukses. Tapi lagi lagi hidup tidak mengijinkanya. Hidup memang kejam bro !

Tapi tak apalah, kegagalan pun bisa memberi saya inspirasi untuk menulis. saya punya teori tersendiri tentang kegagalan, yaitu :

1. Orang cerdas
Adalah mereka yang sering masuk lubang
2. Orang agak Bodoh
Adalah mereka yang sering terperosok di lubang yang sama
3. Orang Bodoh
Adalah mereka yang terperosok di lubang dan tak pernah kembali ke atas
4. Orang paling bodoh
Adalah mereka yang tidak pernah masuk lubang manapun

Kenapa ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan ?

Tentu saja, kerena mereka juga tidak pernah melakukan sesuatu untuk berhasil. Mereka hanya diam di tempat dan tidak memulai perjalanan apapun. Bagaimana bisa mereka terjatuh di lubang jika tidak pernah memulai perjalanan apapun ?

Bagi anda yang sering gagal, jangan kecewa. Pantas jika kita sering gagal. Karena kita sering melakukan perjalanan panjang untuk berhasil. Jika kita tidak ingin gagal, tidak usah berjalan kemanapun. Diamlah saja di tempat sambil menikmati rasanya 'tidak pernah gagal'. Tapi apakah rasanya nikmat ?

Coba bayangkan ?
Apakah rasanya nikmat ?

Tentu saja lebih nikmat ketika kita mampu bangkit dari kegagalan dan menyelesaikan perjalanan tersebut.
Benar kan ?

Jika tidak pernah gagal berarti kita tidak pernah melakukan sesuatu untuk berhasil
(Adriyano Louizzao)

Kegagalan adalah sesuatu yang wajar. Kita harus segera bangkit dari kegagalan, dengan cara apapun dengan jalan manapun. Walau harus merayap, merangkak, merengek dan menangis kita harus kembali pada jalur kemenangan, SECEPATNYA !

Karena apa ?

Karena kita tidak tahu kapan kematian akan tiba. 
Bagaimanapun kita harus mati dalam keadaan berjuang, bukan dalam keadaan menyerah
Dan karena kematian adalah misteri
Berjuanglah hingga mati


SELAMAT BERJUANG BRO !

Terinspirasi dari sebuah kegagalan

SALAM LESTARI

Loyalitas Organisasi



Pengertian loyalitas berasal dari bahasa inggris 'loyal' yang artinya setia. dan kesetiaan adalah kualitas yang menyebabkan kita tidak menggemingkan dukungan dan pembelaan kita pada sesuatu. Loyalitas lebih banyak bersifat emosional, loyalitas adalah kualitas perasaan, dan perasaan tak selalu membutuhkan penjelasan rasional.

Pada beberapa organisasi ajaran tentang loyalitas menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran. Seorang anggota organisasi tanpa loyalitas hanya akan tampak seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Mereka tidak akan pernah kembali pada organisasi untuk membesarkanya. Mereka tidak akan memberikan pengaruh positif pada organisasi.

Hanya di organisasi pecinta alam seperti SISPALA atau MAPALA kita akan menemukan hal hal menarik tentang loyalitas. Seorang yang sebenarnya sudah lulus dan sudah bekerja di pulau yang jauh di luar sana rela kembali dan meninggalkan kesibukanya hanya untuk menghadiri acara MAPALA atau SISPALA. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika kenapa orang orang tersebut bisa melakukanya.

Senior organisasi SISPALA, Mas 'Henry Bella' pernah mengatakan :
Mungkin kita bisa mendaki gunung gunung yang tinggi tanpa harus ikut organisasi pecinta alam
Tapi nanti beberapa tahun lagi atau ketika kita sudah mulai tua
Kita tidak punya 'rumah' untuk pulang

Berbeda halnya dengan anggota organisasi pecinta alam yang biasanya keanggotaanya seumur hidup. Para senior bisa kembali ke organisasinya kapanpun. Di 'rumah' selalu ada sambutan hangat untuk mereka. 'Rumah' tidak akan pernah kosong karena selalu ada anggota baru setiap tahun. Di 'rumah' kita bisa mengingat banyak hal yang telah kita lewati bersama organisasi tersebut. Semua cerita, kisah dan kenangan manis terukir indah dalam 'rumah'.

Sedangkan bagi mereka yang tidak mempunyai organisasi. Beberapa tahun lagi mereka akan kesepian. Tidak ada rumah bagi mereka untuk pulang. Tidak ada lagi basecamp yang bisa dituju. Tidak ada lagi teman untuk berpetualangan. Mereka hanya bisa duduk di rumah sambil meratapi kebanggaan akan gunung gunung tinggi yang telah didaki.

Prinsip Loyalitas SHERPA Geodesi UNDIP (Adriyano Louizzao)
Pedang dibuat dari besi yang tumpul, 
Besi tumpul tidak bisa digunakan untuk memotong apapun,
Besi tersebut ditempa, dibakar dengan api yang sangat panas hingga jadilah pedang,
Setelah itu pedang tidak akan pernah kemanapun,
Dia selalu ada untuk melindungi nyala api,


Tanpa api mereka hanyalah besi yang tumpul, Ingat itu !

Besi : Calon anggota
Pedang : Anggota
Api : Organisasi
"Besarkan organisasi yang membuatmu besar"

Gn. Ungaran, November 2013
Inspirasi : Diklatsar angkatan 4 SHERPA

SALAM LESTARI

Makna Perjalanan


Akhir akhir ini saya mulai kehilangan inspirasi untuk menulis. Saya tidak bisa lagi menyusun kata untuk menghasilkan tulisan yang inspiratif. Saya harus berfikir keras menggunakan otak kiri untuk membuat sebuah tulisan. Biasanya saya hanya menggunakan otak kanan untuk mengingat sesuatu kemudian menulisnya. Mungkin apa yang saya ingat telah semua saya tulisakan sehingga memang tidak ada lagi sisa memory untuk digali.

Semua tulisan saya bersumber dari perjalanan. Saya tidak akan menulis sesuatu jika tidak mempunyai pengetahuan atau pelajaran untuk dituliskan. Perjalanan tersebut mengajarkan saya banyak pengetahuan dan pelajaran. Pelajaran yang mungkin tidak bisa kita peroleh di bangku sekolah maupun kualiah. Pengetahuan yang mungkin belum tertulis di buku manapun. 

Sebisa mungkin saya selalu menyisipkan pengetahuan dan pelajaran dalam setiap tulisan. Bagaimanapun setiap tulisan harus mempunyai makna. Yang membuat sebuah tulisan menjadi bernilai adalah tentang makna yang terkandung di dalamnya. Mungkin banyak tulisan yang enak untuk dibaca, tapi tidak semua mempunyai makna dalam keberadaanya

Untungnya saya mempunyai banyak perjalanan dalam hidup. Perjalanan dari puncak ke puncak, perjalanan dari pantai ke pantai, perjalanan mendirikan organisasi, perjalanan tentang fotografi, perjalanan tentang musik dan perjalanan tentang kehidupan. Setiap perjalanan mengajarkan pelajaran yang berbeda. Tapi tidak setiap orang bisa menangkap makna dari setiap perjalanan

Menurut saya tidak penting seberapa tinggi gunung yang bisa kita daki, juga tidak begitu penting tempat apa saja yang pernah kita datangi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami makna dari setiap perjalanan. Kita harus lebih peka dalam memahami alam dan membaca kehidupan. Semakin kita bisa memahaminya maka kita akan semakin tahu cara untuk hidup.

Cobalah melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Lihatlah dengan pikiran terbuka dan jiwa yang luas. Temukan sesuatu yang bernilai didalamnya. Susunlah setiap detail jejak langkah. Satukan hingga terbentuk sebuah makna.

Ini adalah beberapa catatan perjalanan yang menyimpan makna, bahkan makna tersebut sebenarnya lebih berharga daripada perjalanan itu sendiri

Perjalanan memberikan alasan untuk kaya 

Perjalanan yang memberikan pelajaran tentang arti sebuah pertempuran

Perjalanan yang memberikan kita pelajaran untuk menjadi laki laki"

Perjalanan yang mengajarkan kita untuk belajar dari siapapun"

Perjalanan yang membuatku menemukan apa yang lebih berharga dari puncak

Yang pasti saya tidak akan bisa menulis apapun jika tidak pernah melakukan perjalanan. Dan jika kita tidak bisa memahami makna dari setiap perjalanan maka hanya sebuah tulisan tanpa makna yang akan tercipta

Lakukanlah banyak perjalanan !, Maka kau akan temukan puzzel puzzel kehidupan, susunlah puzzel tersebut agar kau mengerti cara untuk hidup

"Petualang sejati bukan mereka yang bisa sampai di ujung bumi, tapi mereka yang bisa memahami makna dari setiap perjalanan" (Adriyano Louizzao)

SALAM LESTARI


Pelajaran dari (bukan) Pendaki Gunung



2 Januari 2010
07.00 WIB
Puncak Gunung Lawu

Gunung lawu adalah gunung yang sangat keramat di pulau jawa. Sejarah tentang gunung ini menjadikanya begitu dikeramatkan oleh warga sekitar, terutama warga keraton solo. Petilasan Prabu Brawijaya V sebagai raja kerajaan majapahit yang terletak di kawasan Hargodalem gunung Lawu menjadikan daya tarik tersendiri bagi para pengunjung gunung Lawu. Gunung ini tidak hanya ramai dikunjungi oleh para pendaki gunung tapi juga oleh para peziarah yang ingin berziarah ke petilasan prabu Brawijaya .

My Friend
Pagi itu puncak gunung Lawu sangat ramai oleh para peziarah. Di antara peziarah terdapat beberapa pendaki gunung yang sedang menikmati kebanggan di puncak. Hari ini adalah salah satu hari yang dikeramatkan oleh warga keraton solo. Di puncak terdapat beberapa sesaji yang dibawa oleh para peziarah. Mereka memanjatkan doa yang tak bisa kumengerti apa artinya.

Sekitar jam 08.00 WIB kami bertiga mulai turun gunung. Kami turun menggunakan jalur Cemara Kandang. Jalur ini lebih datar daripada jalur pendakian cemara sewu, hanya saja membutuhkan waktu tempuh lebih lama. Di tengah jalan kami bertemu dengan beberapa bapak bapak yang mendaki gunung dengan membawa kuda. Kami terkejut melihatnya. Baru pertama kali kami bertemu dengan kuda yang sedang mendaki gunung. Kami bertemu dengan kuda kuda tersebut di antara pos 2 dan pos 3 jalur pendakian cemara kandang. Pada saat itu terdapat sekitar 5 ekor kuda yang sedang berjalan mendaki gunung lawu.

Aku & Kuda
Dari penampilanya orang yang membawa kuda tersebut tidak tampak seperti pendaki gunung. Mereka bahkan tidak menunggangi kuda tersebut, mereka hanya membawanya untuk sampai ke puncak. Di punggung kuda tersebut terdapat karung yang entah apa isinya. Sepertinya kuda tersebut digunakan untuk membawa beban yang berat menuju ke puncak gunung lawu.

Kuda yang terletak di barisan terakhir tampak kesakitan. Kuda tersebut baru saja terpeleset dan mengalami gangguan pada kakinya. Jika kuda tersebut tidak bisa melanjutkan perjalanan mungkin dia akan ditinggal di tempat itu. Aku sangat kasihan pada kuda kuda tersebut, tapi aku tak mampu berbuat banyak untuk menolongnya.

Selang beberapa menit kami bertemu dengan rombongan yang berasal dari keraton solo. Rombongan tersebut terdiri sekitar 10 orang. Beberapa menit kemudian kami kembali bertemu dengan rombongan dari keraton solo. Kami melewatinya dengan senyum sapa khas pendaki gunung. Mereka pun membalasnya dengan ramah tamah.

Beberapa menit kemudian kami sampai di jalan yang cukup sempit. Di sisi kiri lintasan terdapat jurang yang dalam. Disana kami bertemu dengan rombongan dari keraton solo dengan jumlah yang besar. Rombongan tersebut diamankan oleh petugas khusus dari keraton. Petugas tersebut menyuruh kami untuk berhenti karena jalan yang kami lalui tidak muat untuk dilewati banyak orang. Kami berhenti sejenak di pinggir jalan sambil menanti rombongan tersebut lewat.

Kami duduk di pinggir jalan karena ternyata rombongan tersebut sangatlah panjang. Rombongan tersebut terdiri dari banyak karakter manusia, ada bapak bapak, ibu ibu, kakek kakek, nenek nenek, anak muda, anak kecil dst. Mereka sama sekali tidak tampak seperti seorang pendaki gunung. Jumlah orang dalam rombongan tersebut mungkin sekitar 100 orang. Kami menunggu cukup lama untuk membiarkanya lewat.

Mereka membawa barang barang aneh ke puncak gunung. Ada yang membawa 1 gepok pisang, ada yang membawa karung, ada yang membawa kayu bakar bahkan ada yang menggendong kambing. Meskipun begitu mereka semua selalu menyapa kami yang sedang duduk di pinggir jalan. Senyuman ramah mereka membuat kami selalu sabar untuk menunggu. "Mari mas", "Monggo mas", "Permisi mas" kalimat kalimat tersebut sering terucap dari beberapa orang yang lewat.

Mudah bagi mereka untuk mengucapkanya karena mereka hanya perlu mengucapkanya pada kami bertiga. Sedangkan kami bertiga harus membalas salam 100 orang. Meski kami sedikit jenuh, bosan dan lelah tapi kami selalu memberikan senyuman hangat kepada mereka. Senyum dan sapa mereka membuat kami tidak keberatan untuk menunggu lama. Keramahan ini menjadi pelajaran berharga untuk kami. 

Meskipun mereka bukan seorang pendaki gunung, tapi mereka selalu memberi salam ketika lewat. Hal itu menjadi kenangan yang mengiris hati saya beberapa bulan belakangan. Kini pendaki gunung sangatlah banyak. Puncak puncak gunung tak lagi sepi. Tapi keramahan tersebut seakan hilang. 

Keramahan pendaki telah menjadi tradisi yang harus kita jaga kelestarianya. Seorang yang bukan pendaki gunung pun memberikan salam dan senyum ramah ketika bertemu dengan rombongan lain di ketinggian. Sebagai seorang pendaki gunung kita harusnya malu jika tidak bisa menjaga keramahan tersebut.

Terimakasih pada robongan keraton solo,
Pertemuan singkat tersebut tidak membuat kami tahu apa yang membuatmu mendaki,
Tapi pertemuan tersebut membuat kami memahami tentang arti keramahan,

"Terkadang kita harus belajar mendaki dari seseorang yang bukan pendaki"

Baca juga :
Keramahan yang hilang

SALAM LESTARI


Kenapa Kita Harus Kaya

Saya bukan orang kaya, tapi saya sangat ingin menjadi kaya

Saya pernah membayangkan jika semua orang yang ada di dunia hartanya di sita oleh tuhan. Kemudian tuhan membagikan uang dengan jumlah yang sama kepada setiap manusia. Setelah 20 tahun berlalu saya yakin akan ada golongan yang mempunyai uang lebih banyak dan ada golongan yang mempunyai uang sangat sedikit. Hal itu tidak lain karena kemampuan berfikir setiap orang berbeda. Orang orang kaya kebanyakan mempunyai pengetahuan yang luas dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Mereka memang hidup dengan pemikiran yang cerdas sehingga pantas jika menjadi orang kaya.

Yang membuat suatu negara menjadi miskin adalah rendahnya tingkat pendidikan di suatu negara tersebut. Selain itu kemiskinan seolah menjadi budaya sangat sangat sulit dihilangkan. Budaya tersebut membentuk pemikiran suatu kaum untuk tidak ingin kaya. Banyak orang berkata " Tidak apa apa saya miskin di dunia, yang penting saya kaya di akhirat". Tuhan melihat hambanya bukan dari seberapa banyak kekayaan yang bisa mereka kumpulkan, tapi berdasarkan ibadah yang telah mereka lakukan.

Saya pernah membayangkan kelak saya akan hidup di sebuah rumah kecil yang sederhana. Saya akan menikmati hidup bersama keluarga kecil saya. Saya ingin anak saya bisa sekolah setinggi mungkin. Saya ingin istri saya bisa membeli bahan makanan untuk dimasak. Itu semua sudah menjadi sebuah anugerah luar biasa bagi saya, sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Hidup sederhana sudah cukup untuk membuat saya bahagia.

Kemudian saya mulai  berjalan dari sudut ke sudut, 
Dari tempat yang sepi hingga tempat yang ramai,
Dari gedung bertingkat hingga kolom jembatan,
Dari pusat kota hingga pelosok desa,

Di pertigaan jalan ada seorang nenek tua yang mengemis sendirian. Bahkan untuk berdiri saja susah, apalagi untuk berjalan mencari makan. Pun jika dia bisa sampai di warung, bagaimana dia bisa membayarnya. Saya tidak tahu bagaimana bisa dia melewati dinginya malam. Saya pun tidak tau bagaimana cara menolongnya.

Ketika pagi ada anak kecil yang sedang berjualan koran di kemacetan jalan. Sementara itu beberapa anak kecil lainya sedang duduk di dalam mobil. Mereka diantar oleh ayahnya pergi ke sekolah. Anak penjual koran tidak terlalu memperdulikan bagaimana cara dia bisa sekolah. Apalagi sekolah, makan saja susah. Apalagi makan, senyum saja susah.

Di pelosok desa ada kakek tua menggendong kayu dengan berat puluhan kilo. Kayu tersebut ditopang tulang sang kakek yang sudah rapuh. Sementara itu jalanan tampak sunyi karena hari telah sangat larut. Rumah rumah penduduk masih jarang karena daerah ini sangat terpencil. Saya tidak tahu bagaimana cara kakek tersebut bisa sampai di rumah, atau bahkan malah tidak ada rumah yang dia tuju.

Saya tahu bagaimana rasanya kelaparan.
Saya tahu bagaimana rasanya kedinginan. 
Saya tahu bagaimana rasanya membawa beban berat
Saya tahu bagaimana rasanya tidur tanpa atap
Saya tahu bagaimana rasanya tidur tanpa alas
Gunung telah memberitahu saya semuanya,

Perjalanan memberitahu saya bahwa bertujuan untuk hidup sederhana adalah sebuah pilihan yang egois

Di luar sana masih banyak orang orang yang harus kita bantu. Masih banyak teman dan saudara yang harus kita tolong. Hidup sederhana akan membawa kebahagiaan bagi keluarga saya. Tapi tidak membawa kebahagiaan bagi banyak orang di luar sana.

Saya ingin mempunyai uang banyak. Saya ingin memberikannya pada para pengemis yang saya temui di pinggri jalan. Saya ingin menolong anak anak kecil penjual koran. Saya ingin membantu setiap manusia yang bisa saya bantu.

Saya ingin mempunyai pangkat tinggi. Saya ingin memperjuangkan kehidupan orang orang miskin yang kelaparan. Saya ingin memperjuangkan para siswa yang tidak mempunyai uang untuk sekolah. Saya ingin memperjuangkan para nenek yang tidak punya uang untuk berobat.

Saya benci hidup miskin, tidak bisa membantu siapapun
Saya benci hidup sederhana, bahagia di atas penderitaan yang ada di luar sana

Mungkin dengan hidup sederhana kita masih bisa membantu manusia lain, tapi tidak sebanyak yang bisa kita lakukan ketika hidup kita begitu kaya, ketika jabatan kita semakin tinggi.

Orang selalu berfikir bahwa dalam membantu yang terpenting adalah keiklasan,
Lalu lebih baik mana orang yang membantu dalam jumlah kecil tapi iklas, atau orang yang membantu dalam jumlah besar tapi iklas ?

Kita butuh banyak uang untuk disumbangkan, kita butuh jabatan yang tinggi untuk berjuang.

Yang saat ini masih berfikir untuk menjadi orang sederhana yang hidup bahagia,
Keluarlah saat malam, lihat apa yang ada di jalanan
Keluar ke pelosok negeri, lihat apa yang ada di sana
Pergilah ke gunung gunung, agar kau tahu bagaimana rasanya kedinginan dan kelaparan

Jangan egois untuk bahagia seorang diri

Tulisan ini memberi kita alasan kenapa kita harus kaya, alasan tersebut akan menjadi sebuah niat
Niat tersebut adalah awal yang berharga untuk sebuah kesuksesan
Orang besar dibentuk dari cara berfikir yang besar dan mimpi mimpi yang tinggi
Selamat berjuang bro !

Perjalanan telah memberiku alasan kenapa kita harus kaya di dunia,
Perjalanan telah memberiku jalan bagaimana kita akan kaya di akhirat,

Lakukanlah banyak perjalanan, maka kau akan temukan puzzel puzzel kehidupan
Susun puzzel tersebut agar kau mengerti bagaimana cara untuk hidup

Sebuah tulisan dari orang tidak kaya, tapi sangat ingin kaya

Adriyano Louizzao




Pendaki Gunung VS Porter


2010
Jalur Pendakian Senaru, Gunung Rinjani

Siang itu kabut tipis turun perlahan. Menyelimuti kami yang masih terdiam. Rerumputan hijau diterpa angin, diantara kesunyian. Kami sedang berada di tengah perjalanan antara Danau Segara Anak dan Plawangan Sembalun. Kami bertiga sedang duduk ditemani oleh seorang porter. Tas karier yang kami bawa tersandar di tepi jalur pendakian. Begitupula barang bawaan sang porter yang beratnya mungkin lebih dari 50 Kg.

Kami tidak menyewa porter. Kami bertemu porter itu di tengah jalan. Porter itu sedang disewa oleh seorang turis luar negeri. Turis tersebut tertinggal jauh dibelakang bersama guide. Sang porter hanya duduk terdiam sambil menunggu sang bule yang masih tertinggal. Kami bertiga menemani sang porter yang sedang duduk sendiri, sambil sejenak menghela nafas.

Porter adalah seseorang yang tugasnya membawakan beban. Biasanya beban tersebut telah ditimbang sebelum mendaki. Setiap porter memiliki batas maksimal beban yang bisa mereka angkut. Mereka membawa beban dengan 2 wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Kedua wadah tersebut dihubungkan dengan sebuah bambu yang kemudian di pinggul di pundak mereka. Selain itu porter juga mempunyai tanggung jawab untuk membuat makanan bagi para turis yang menyewanya. Porter mendapatkan upah sesuai dengan perjanjian yang telah dibicarakan sebelumnya.

Guide adalah seorang pemandu bagi para turis. Guide tersebut menjelaskan dengan detail tentang gunung yang sedang mereka daki. Guide tersebut juga bertindak sebagai penerjemah jika turis ingin berbicara sesuatu dengan orang indonesia yang mereka temui. Berbeda dengan porter, guide tidak membawa banyak barang bawaan ketika mendaki. Upah yang diterima guide biasanya lebih tinggi dari porter meskipun kerjanya tidak seberat porter.

Kami membicarakan banyak hal dengan porter tersebut. Kami banyak bicara tentang gunung rinjani, pendaki bule dan mendaki gunung. Pada umunya porter telah puluhan kali mendaki sebuah gunung dengan beban yang berat. Hal itu menjadikan mereka begitu familiar dengan kegiatan ini. Kebanyakan porter mampu berjalan sangat cepat walaupun membawa beban lebih berat. Alam benar benar telah mendidik mereka dengan baik.

Kami sedang berada di tengah tengah jalur antara segara anak dan plawangan sembalun. Dari segara anak ke plawangan sembalun biasanya membutuhkan waktu tempuh 4 jam perjalanan. Sekitar 2 jam lagi mungkin kami akan sampai di plawangan sembalun. Tapi semua berubah sejak sang porter bergabung dengan tim kami.

Porter tersebut memilih menunggu sang bule di plawangan sembalun sambil membuat tenda dan menyiapkan makanan. Sang porter mulai berjalan meninggalkan tempat ini, sementara kami berjalan tepat dibelakangnya. Sang porter berjalan sangat cepat meskipun beban yang dibawanya sangat berat. Kami pun terseok seok mengikutinya

Kami berjalan menyusuri padang rumput. Semua tampak hijau membentang. Sesekali kabut tipis perlahan merayap. Menutupi rerumputan yang tertiup angin. Jalan yang kami lalui cukup menanjak. Memaksa kami bekerja lebih keras. Beberapa kali aku sempat berada di depan sang porter. Aku banyak memotong jalan supaya bisa mengimbangi sang porter. Sementara itu Azka dan Nanda masih setia menguntit di belakang sang porter. Mungkin sang porter memiliki banyak tenaga, tapi aku memiliki banyak akal untuk mengimbanginya. Kemampuan navigasi yang baik mampu membuat seseorang menemukan jalan paling cepat menuju puncak.

Akhirnya sang porter mengajak kami untuk sejenak istirahat. Semua terdiam, semua terengah engah. Dalam hati berkata "Alhamdulilah". Rasanya seperti memenangkan sebuah piala, karena akhirnya sang porter yang meminta istirahat terlebih dahulu. Detak jantung belum mereda, sang porter kembali mengajak kami untuk berangkat.
"Ayo mas berangkat !", begitu dia berucap pada kami.
"Ayo pak mari" begitu kami balas ucapanya
"Gila banget ini orang, ini orang atau robot" dalam hati kami berkata

Kali ini jalur menyempit sehingga aku tidak bisa lagi memotong jalur. Aku berjalan tepat dibelakang sang porter diikuti oleh Azka dan Nanda. Keringat mulai bercucuran, nafas kembung kempis, jantung berdetak keras, darah terpompa begitu cepat tapi sang porter masih berajalan. Demi harga diri kami masih berjalan mengikutinya. 

Waktu demi waktu berlalu hingga akhirnya Nanda mulai membuat jarak dengan Azka, begitupula Azka yang mulai tertinggal beberapa meter dibelakangku. Dengan kaki yang rasanya seperti mau patah aku pun mulai tertinggal oleh sang porter. Dari jauh terlihat bahwa tempat yang kami tuju mulai terlihat. Tekad kembali berkobar, kami bertiga mempercepat langkah dan berhasil kembali dalam barisan. 

Akhirnya kami semua sampai di plawangan sembalun. Kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai disini, jauh lebih cepat daripada waktu yang biasa digunakan para pendaki. Porter ini benar benar gila, membuat kami tampak berantakan. Kami segera minum air yang kami simpan di tas karier. Air ini terasa lebih sejuk dari pada sebelumnya. Jantungku seakan masih tertinggal jauh di belakang

Alam telah melatih sang porter sehingga bisa berjalan dengan cepat meskipun membawa beban yang berat. Kebiasaan mampu merubahnya menjadi seseorang yang kuat. Meskipun begitu kami masih bisa mengimbanginya walaupun hanya bermodal tekad dan semangat. Kemauan untuk berjuang dan kemampuan untuk tidak menyerah adalah hal yang dibutuhkan untuk melakukanya.

Seseorang harus merasakan sebuah pertempuran, agar dia mengerti cara untuk menang
Karena kita tidak akan pernah menang tanpa bertempur, 

Meskipun begitu,
Sesungguhnya tidak ada yang kami menangkan atau kami kalahkan, semuanya hanya proses pembelajaran menuju sifat yang lebih bijak

Pemenang sejati adalah dia yang bisa mengambil hikmah dari sebuah pertempuran, bukan dia yang memenangkan pertempuran (Adriyano Louizzao)

Semoga kita bisa kembali bertemu di lain waktu,
Kau telah mengajariku tentang arti sebuah perjuangan, kegigihan dan pantang menyerah
Sebuah perjalanan singkat yang padat magna

SALAM LESTARI


Yang Lebih Berharga Dari Puncak


Kalimati
02.00 WIB

Petang itu hujan deras mengguyur Kalimati, salah satu pos pendakian Gunung Semeru. Sementara itu puncak Mahameru masih berada jauh di ujung sana, menanti jejak langkah kami. Dari Kalimati setidaknya butuh waktu sekitar 4-5 jam untuk sampai di puncak mahameru, itupun jika kondisi cuaca mendukung. Sementara itu para pendaki tidak boleh berada di puncak mahameru lebih dari jam 9 pagi. Pada siang hari letusan kawah jonggring saloka akan mengarah ke puncak dan hal itu sangat berisiko bagi keselamatan para pendaki.

Hujan deras masih setia menemani kami, seakan tak mau melepaskan pelukanya. Keadaan ini kembali menggiringku ke alam bawah sadar, kembali terlelap dalam dekapan hangat sleeping bag. Tenda ini cukup tangguh untuk menjauhkanku dari dingin. Hal itu semakin membuatku sulit untuk terbangun.

Satu jam kemudian aku kembali bangun dari tidurku, berharap hujan telah reda. Tapi sang hujan tak juga pergi dari tempat ini, membuatku semakin kebingungan dalam gelap. Sementara itu personil lain masih terlelap dalam malam, bersama dengan harapan yang semakin memudar. Para personil lain belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke puncak mahameru sehingga ambisi mereka meluap luap untuk mencapainya. 

Aku yang sudah pernah menginjakkan kaki di puncak tetap berusaha sebisa mungkin untuk mewujudkan mimpi mereka. Tapi keadaan ini begitu tidak bersahabat bagi team kami yang rata rata terdiri dari pendaki gunung yang belum berpengalaman. Hingga jam 4 pagi pun hujan belum juga reda, sepertinya tidak ada waktu lagi untuk memulai perjalanan ini. Pada jam 6 pagi gerimis masih mengguyur, bersamaan dengan kabut yang semakin tebal. Kabut melayang di sela sela pepohonan, menutupi puncak mahameru yang begitu agung.

Kali ini aku tidak begitu nekad untuk mencoba menjejakkan kaki di puncak, walau sebenarnya hal itu bisa saja terwujud. Pun jika aku melakukanya hal itu akan sangat berisiko bagi personil lainya. Pagi itu kami memasak beberapa gelas teh dan kopi. Menikmati kekecewaan yang tak bisa lagi disembunyikan. Kami menghabiskan waktu untuk bersosialisasi dengan banyak pendaki lain yang juga gagal ke puncak semeru. Kami saling berkenalan satu sama lain sambil menikmati rintik rintik hujan. Disini kami mendapatkan teman teman baru yang akan menambah warna dalam hidup kita.

Beberapa pendaki memilih untuk tetap bertahan di kalimati sambil menunggu cuaca membaik. Sementara itu kami memutuskan untuk segera turun karena keterbatasan waktu dan bekal pendakian. Langkah langkah penuh kekecewaan berjalan pulang menyusuri rimba, keindahan ranukumbolo pun tak mampu untuk mengobatinya.

Langkah demi langkah berlalu, Kini kita mulai saling mengenal satu sama lain. Aku mengenal mereka beberapa hari yang lalu karena sebelumnya kita semua hanyalah teman Facebook. Perjalanan ini membuat kita saling memahami satu sama lain, seakan kita sudah lama saling kenal.

Kawan .......

Sebenarnya kita telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari puncak !

Hanya saya kita tidak menyadarinya

Yaitu teman teman baru

Percayalah kelak orang orang tersebut akan mengantarkanmu pada puncak puncak lain yang lebih tinggi dari ini. Dan jika kau sudah berdiri di puncak yang lebih tinggi dari ini jangan pernah lupakan orang orang tersebut

Sampaikan salamku pada puncak puncak itu, karena kini kau telah berdiri disana

SALAM LESTARI


Pendaki Gunung atau Pecinta Alam ?

Apakah kita seorang Pendaki Gunung, Penjelajah alam, Penikmat alam, Penggiat alam bebas atau Pecinta Alam ?

Kegiatan mendaki gunung sangat identik dengan seorang pecinta alam. Para pendaki gunung biasanya memiliki background sebagai anggota organisasi pecinta alam atau mahasiswa pecinta alam. Dari waktu ke waktu jumlah pendaki gunung semakin banyak. Hal itu juga diikuti dengan bertambahnya jumlah sampah di gunung. Tumpukan sampah di gunung adalah sebuah bukti bahwa hanya sedikit pendaki gunung yang mempunyai jiwa pecinta alam.

Pada dasarnya tidak semua pendaki gunung adalah pecinta alam dan tidak semua pecinta alam suka mendaki gunung. Tapi satu hal yang pasti adalah semua orang yang mendaki gunung disebut sebagai pendaki gunung. Pendaki gunung itu sendiri terdiri dari bermacam macam jenis manusia yang hidup di bumi. Hal itu akan melahirkan bermacam macam jenis pendaki gunung. Dari macam macam jenis pendaki gunung tersebut banyak yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Jika semua orang yang mendaki gunung adalah seorang pecinta alam tentunya tidak akan terdapat banyak sampah di gunung. Berdasarkan kenyataan ini kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa tidak setiap pendaki gunung adalah seorang pecinta alam.

Menjadi pendaki gunung itu mudah. Kita hanya perlu mendaki sebuah gunung dan sampai di puncaknya. Sedangkan menjadi pecinta alam itu sangat sulit. Kita harus membuktikan bahwa kita memiliki rasa cinta pada alam sehingga bisa disebut seorang pecinta alam. 
Bagaimana seseorang bisa disebut pecinta alam ?

Yaitu ketika kita bisa membuktikan rasa cinta kita pada alam. Contohnya dimulai dari hal hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya hingga berkembang menjadi hal hal besar seperti menanam pohon, menanam mangrove, membersihkan lingkungan dll.

Banyak pendaki gunung yang tidak berani mengaku sebagai pecinta alam. Mereka lebih memilih mengaku sebagai penggiat alam bebas, penjelajah alam atau penikmat alam. Ketidakberanian mereka untuk mengaku sebagai pecinta alam adalah salah satu perwujudan bahwa banyak pendaki gunung yang tidak memiliki rasa cinta pada alam. Akibatnya mereka semakin mengotori gunung karena memang mereka hanya menjelajah, menikmati lalu pulang.

Mungkin sebagian dari mereka yang mengaku sebagai penikmat alam, penjelajah alam atau penggiat alam bebas tidak membuang sampah di gunung. Tapi mereka tidak pernah menunjukkan rasa cintanya pada alam dengan berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan seperti menanam pohon, menanam mangrove atau membersihkan lingkungan. Kontribusi mereka dalam menjaga alam masih kalah jauh dengan para pecinta alam.

Mungkin sebagian dari mereka yang mengaku sebagai penikmat alam, penjelajah alam atau penggiat alam bebas kadang juga berkontribusi dalam kegiatan seperti menanam pohon, menanam mangrove atau membersihkan lingkungan. Tapi mereka masih takut untuk menyebut dirinya seorang pecinta alam, Padahal apa yang telah dilakukanya adalah perwujudan dari rasa cinta pada alam. Alasanya karena menjadi seorang pecinta alam adalah sesuatu yang berat.

Pecinta alam bukan hanya sebuah sebutan atau julukan. Pecinta alam adalah sebuah prinsip hidup. Ketika kita memutuskan untuk menyebut diri kita sebagai pecinta alam, maka saat itu juga prinsip itu telah melekat pada kehidupan kita. Prinsip tersebut harus kita jaga hingga akhir hayat, prinsip tersebut harus kita wariskan pada anak dan cucu kita.

Mudah untuk memperoleh sebutan pendaki gunung, penggiat alam bebas, penjelajah alam atau penikmat alam. Tapi untuk memperoleh sebutan pecinta alam kita harus mematuhi sebuah prinsip, karena pecinta alam bukan sekedar julukan. Keberanian kita untuk mengakui bahwa kita seorang pecinta alam adalah langkah awal untuk menjadi seorang pecinta alam. Rasa bangga kita sebagai seorang pecinta alam adalah sebuah langkah penting untuk mematuhi prinsip yang telah kita telan.

Tanyakan pada hati anda kenapa anda takut disebut pecinta alam ? 


Beberapa orang yang tidak berani menyebut dirinya seorang pecinta alam adalah mereka yang tidak selalu mencintai alam, 

Mereka tidak yakin selamanya bisa membuang sampah pada tempatnya,
Mereka tidak yakin selamanya bisa menjaga kebersihan lingkungan,
Mereka takut tidak bisa mencintai alam seutuhnya sehingga menghindari sebutan "pecinta alam"

Saya suka mendaki gunung, menikmati alam dan menjelajah alam. Tapi saya lebih suka disebut sebagai seorang pecinta alam. Sebutan tersebut merupakan sebuah amat besar. Amanat yang membuat seseorang harus selalu mematuhi sebuah prinsip yang telah kita telan. Prinsip tersebut akan membuat seseorang selalu membuang sampah pada tempatnya dan akan selalu menjaga lingkungan dimana dia berada.

Saya tidak taut disebut pecinta alam, karena saya yakin mampu membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan, Selamanya  

Kita takkan pernah tau jika tak pernah mencoba

Saya selalu bangga menjadi pecinta alam

Kalau Anda ?

SALAM LESTARI

Jatidiri seorang musisi


Musik menjadi bagian dari hidupku, menjadi pena yang mencoret warna dalam setiap jejak. Musik menjadi bagian dari diriku, menjadi kanvas yang mampu menampung semua inspirasiku. Ini adalah kisah perjalanan saya di dunia musik. Perjalanan tentang pencarian jatidiri seorang musisi. Bagiku musik bukan hanya sebuah karya, tapi juga merupakan sebuah jatidiri.



Kelas 2 SMP adalah kali pertama saya bisa bermain alat musik. Saat itu saya mulai bisa bermain piano. Saya belajar secara otodidak, dari buku dan dari teman teman sekolah. Dulu saya adalah seseorang yang malu untuk belajar dari seseorang. Saya tidak pernah meminta siapapun mengajariku bermain piano. Saya hanya mendekat, melihat mereka yang bisa bermain piano dan semua itu sudah cukup untuk membuat saya menjadi bisa.

Setelah itu saya membeli sebuah gitar. Guitar itu kini menjadi sesuatu yang berharga bagiku. Umurnya kini sudah 9 tahun. Tapi sampai hari ini guitar itu masih menggantung di kamarku. Pernah suatu ketika saya terfikir untuk membeli yang baru. Tapi memainkan alat musik bukan hanya tentang teknologi dan teknik, tapi juga tentang hubungan rasa antara alat musik tersebut dengan penggunanya.

Lagi lagi saya tidak mencoba belajar dari seorang pun. Saya belajar bermain guitar dari sebuah buku. Pacar saya memintaku untuk mengajarinya bermain guitar, tapi saya selalu menolaknya. Saya benar benar tidak tau cara mengajari seseorang bermain guitar karena saya juga tidak pernah diajari oleh seseorang untuk bermain guitar.

Setiap malam minggu tidak ada tempat yang bisa saya tuju selain studio band. Kala itu saya mempunyai sebuah band yang terdiri dari teman teman sekolah. Itu adalah band pertama saya, tapi saya telah lupa apa nama band tersebut. Kami sempat mengikuti beberapa perlombaan musik, tapi kami tidak sekalipun juara. Waktu demi waktu berlalu hingga akhirnya kelulusan sekolah membubarkan band ini.

Ketika SMA banyak panggung hiburan sekolah dimana kita bisa memperlihatkan bakat bermusik kita. Setiap band berusaha menunjukkan kemampuan yang terbaik yang dimilikinya. Mereka membawakan lagu lagu yang sangat sulit untuk dibawakan. Membawakan lagu lagu dengan tingkat kesulitan tinggi menjadi sebuah kebanggan tersendiri ketika itu.

Ketika kelas 1 SMA saya tidak lagi malu untuk belajar musik dari seseorang. Ketika itu ada seorang teman sekelasku yang sering saya minta untuk mengajariku bermain musik. Dia bisa memainkan alat musik apapun, hal itu menjadikanya musisi terhebat disekolahan ketika itu. Dia bisa memainkan lagu lagu paling sulit di saat semua orang tidak bisa memainkanya. Dia bisa menemukan kunci lagu dengan mudah, bahkan tanpa perlu memegang alat musik. Waktu demi waktu berlalu. Kamipun mulai jarang bertemu karena sudah tidak lagi menjadi teman 1 kelas.

2 tahun berselang kami tergabung dalam sebuah band darurat yang hanya dibentuk untuk mengisi acara di sekolahan. Kali ini saya sudah lebih mahir dari sebelumnya, saya lebih mahir bermain piano daripada guitar. Saat itu dia memegang posisi sebagai guitar melodi sedangkan saya masih setia memegang piano. Kami bertempur dalam sebuah lagu, menunjukkan siapa yang terhebat dalam bermain musik. Lagu yang sebenarnya biasa biasa saja disulap menjadi sebuah lagu yang kaya warna. Setiap saya memainkan teknik teknik sulit berkecepatan tinggi dia kembali membalasnya dengan petikan guitarnya. Ketika itu kami sangat menikmati pertempuran hingga memporak porandakan lagu yang kami mainkan. 

Tapi kini saya sadar, bermain musik bukan hanya tentang teknik teknik tinggi yang kita miliki. Bermain musik adalah tentang menyusun not dan melodi seindah mungkin. Untuk menjadikan sebuah lagu yang indah terkadang kita hanya perlu memainkan musik dengan sederhana. Salah besar jika kita mengganggap bahwa teknik adalah segala galanya dalam bermain musik. Bagimanapun bermusik adalah tentang rasa.

Ketika masuk di bangku kuliah saya beralih profesi jadi seorang bassist. Lagu Bang Bondan prakoso menginspirasi saya untuk bisa memainkan bass. Bermain bass memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak bisa didapatkan dari alat musik lain. Saya mulai jatuh cinta pada bass, dan saat berada di panggung saya tidak pernah lagi memegang guitar ataupun piano. Dalam bermain musik saya tidak bisa memainkan lagu lagu orang lain. Jika pun saya harus memainkanya mungkin akan saya kemas dalam warna yang berbeda. 

Saat itu telah banyak lagu yang saya ciptakan, mungkin sekitar 30 buah lagu. Saya lebih nyaman disebut sebagai musisi daripada disebut sebagai seorang guitaris, pianis ataupun bassist. Menciptakan lagu terasa lebih menyenangkan daripada sekedar bermain piano, guitar ataupun bass. Menciptakan lagu adalah tentang menyampaikan sebuah rasa dari dalam lubuk hati. Menciptakan lagu adalah tentang bagaimana mengkonversi sebuah rasa menjadi sebuah karya.

Menciptakan lagu membuat saya menemukan jatidiri. Bagaimanapun musisi sejati tidak memainkan lagu orang lain. Kini saya mampu menciptakan lagu dalam berbagai aliran. Saya bebas berexpresi dengan permainan piano, gitar dan bass dalam lagu lagu saya. Ini adalah lagu saya, ini adalah musik saya. Musik saya adalah perwujudan dari apa yang saya rasakan, tentang rasa yang telah saya ubah menjadi karya.

Sampai kapan kita memainkan lagu orang lain ?

Bagaimanapun kita membutuhkan jatidiri dalam berkarya. Jangan sampai kita tenggelam dalam karya orang lain. Jadilah musisi yang bisa menciptakan karya karya baru. Karya yang bisa menginspirasi banyak telinga. Saya seorang musisi, bukan guitaris, pianis ataupun bassist

Ini adalah beberapa lagu saya, maaf suara vokalnya saya hilangkan supaya tidak dibajak orang.


 SALAM LESTARI


Menjadi Bermanfaat, dimulai dari jejaring sosial


Sebagian besar dari kita pasti mempunyai jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Hal tersebut menjelma menjadi kebutuhan mendasar bagi anak muda jaman sekarang. Dengan jejaring sosial kita bisa melakukan banyak hal dari mulai mencari teman hingga hingga mencari musuh. Untuk mempunyai akun di jejaring sosial kita tidak perlu membayar sepeserpun. Kemudahan itu membuat setiap orang bisa memilikinya. 

Setiap orang bisa menulis apapun, meng upload foto apapun dan video apapun. Kita bisa menulis apapun tentang isi hati kita, kisah kita, kritikan kita hingga kesombongan kita. Kita pun bisa meng upload foto apapun mulai foto Narsis, foto alay foto porno hingga foto inspiratif. Jika semua itu belum cukup kita bisa mempertegasnya dengan video.

Si adriyanoselalucetiyagithulhohhhh, tiap hari updatenya :
  • Aduh perut gua mules nih, kebanyakan makan sambal
  • Aduh kaki gua patah nih, gara gara terjun dari atas pesawat
  • Aduh duit gua habis nih, gara gara kebanyakan shoping
Kemudian
si Adriyanocelaluingindicintaiiii, tiap hari updatenya :
  • sabar...cewek sekarang itu emang ganjen" nggak tw diri yg d ganjenin itu cowoknya orang..
    dan cowok sekarang itu mata kranjang, kalau liat yg bening dan sexy dikit jadi lupa ma pacarnya yg d rumah... 
  • cowok cewek nya sama aj, mulutnya tak pernah makan bangku sekolaha..
    aku sih cuek cowok kyak gtu ngpain d urusin..
    ganteng jga nggak..
    pinter jga nggak..
    apa lagi sholeh?? nggak banget dy..
Kemudian
si Adriyanogalauwersejatii, tiap hari updatenya :
  • Kamu telah menyia"kan orang yang mencintai kamu,
    dan aku yakin, karma masih berlaku ,,
  • Sudahlah . .
    Aku akan menghapus rasa cinta itu sebelum semakin dalam terhadapmu
    mungkin ini rasa kecewaku 
  • Dulu kamu yang bilang kalo kita gak usah kenal lagi? Iya gak?
    Tapi ngapain sekarang kamu marah kalo aku gak pernah nyapa kamu kalo kita ketemu?
    Sekarang salah siapa coba?
    Aku udah tepatin janjiku kan? Anggap aja gak pernah kenal . .
     
     
Terkadang saya tersenyum ketika melihat beranda facebook. Dari sekian banyak status yang melayang hanya sedikit yang bisa memberi manfaat. Yang lainya hanya sekedar menulis untuk dirinya sendiri tidak memprdulikan apakah tulisanya bermanfaat bagi orang lain. Memang tidak ada aturan yang melarang tentang seperti apa tulisan yang harus kita buat. Tapi alangkah baiknya kita bisa memberi manfaat bagi rekan rekan kita di jejaring sosial.

Mau menulis status apapun itu pun terserah kita. Tidak ada siapapun yang memaksa tentang apa yang harus kita tulis. Mungkin sesekali kita bisa perlu menulis sesuatu yang bermanfaat, di sela sela tulisan kita yang biasanya. 

Cobalah sejenak berfikir !

Apakah status yang anda tulis bisa memberi manfaat bagi rekan rekan di jejaring sosial ?

Selain itu status jejaring sosial kita adalah perwujudan tentang seperti apa kita sebenarnya. Cobalah untuk mengendalikan diri dimulai dari hal hal kecil. Buatlah dirimu menjadi orang yang terpandang dan dihormati. Itu adalah langkah awal bagaimana dunia melihat keberadaan kita.

Saya pribadi lebih suka mempunyai teman jejaring sosial yang berasal dari kalangan Penulis, Pendaki gunung, musisi atau Fotografer

Penulis, Tulisanya selalu memberi inspirasi 
Pendaki Gunung, Kisahnya selalu memberi warna dalam kehidupan
Musisi, Lagunya bisa menjadi motivasi untuk berkarya
Fotografer, Fotonya selalu menebarkan kendahan pada setiap mata

Tapi apapun latar belakanganya, semoga kita semua bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain, dimulai dari hal hal kecil seperti jejaring sosial.

SALAM LESTARI

Maaf untuk teman teman yang statusnya saya copas ke posting ini, karena saya tidak mengerti bagaimana cara untuk menulis tulisan seperti itu