"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Kenapa Kita Harus Kaya

Saya bukan orang kaya, tapi saya sangat ingin menjadi kaya

Saya pernah membayangkan jika semua orang yang ada di dunia hartanya di sita oleh tuhan. Kemudian tuhan membagikan uang dengan jumlah yang sama kepada setiap manusia. Setelah 20 tahun berlalu saya yakin akan ada golongan yang mempunyai uang lebih banyak dan ada golongan yang mempunyai uang sangat sedikit. Hal itu tidak lain karena kemampuan berfikir setiap orang berbeda. Orang orang kaya kebanyakan mempunyai pengetahuan yang luas dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Mereka memang hidup dengan pemikiran yang cerdas sehingga pantas jika menjadi orang kaya.

Yang membuat suatu negara menjadi miskin adalah rendahnya tingkat pendidikan di suatu negara tersebut. Selain itu kemiskinan seolah menjadi budaya sangat sangat sulit dihilangkan. Budaya tersebut membentuk pemikiran suatu kaum untuk tidak ingin kaya. Banyak orang berkata " Tidak apa apa saya miskin di dunia, yang penting saya kaya di akhirat". Tuhan melihat hambanya bukan dari seberapa banyak kekayaan yang bisa mereka kumpulkan, tapi berdasarkan ibadah yang telah mereka lakukan.

Saya pernah membayangkan kelak saya akan hidup di sebuah rumah kecil yang sederhana. Saya akan menikmati hidup bersama keluarga kecil saya. Saya ingin anak saya bisa sekolah setinggi mungkin. Saya ingin istri saya bisa membeli bahan makanan untuk dimasak. Itu semua sudah menjadi sebuah anugerah luar biasa bagi saya, sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Hidup sederhana sudah cukup untuk membuat saya bahagia.

Kemudian saya mulai  berjalan dari sudut ke sudut, 
Dari tempat yang sepi hingga tempat yang ramai,
Dari gedung bertingkat hingga kolom jembatan,
Dari pusat kota hingga pelosok desa,

Di pertigaan jalan ada seorang nenek tua yang mengemis sendirian. Bahkan untuk berdiri saja susah, apalagi untuk berjalan mencari makan. Pun jika dia bisa sampai di warung, bagaimana dia bisa membayarnya. Saya tidak tahu bagaimana bisa dia melewati dinginya malam. Saya pun tidak tau bagaimana cara menolongnya.

Ketika pagi ada anak kecil yang sedang berjualan koran di kemacetan jalan. Sementara itu beberapa anak kecil lainya sedang duduk di dalam mobil. Mereka diantar oleh ayahnya pergi ke sekolah. Anak penjual koran tidak terlalu memperdulikan bagaimana cara dia bisa sekolah. Apalagi sekolah, makan saja susah. Apalagi makan, senyum saja susah.

Di pelosok desa ada kakek tua menggendong kayu dengan berat puluhan kilo. Kayu tersebut ditopang tulang sang kakek yang sudah rapuh. Sementara itu jalanan tampak sunyi karena hari telah sangat larut. Rumah rumah penduduk masih jarang karena daerah ini sangat terpencil. Saya tidak tahu bagaimana cara kakek tersebut bisa sampai di rumah, atau bahkan malah tidak ada rumah yang dia tuju.

Saya tahu bagaimana rasanya kelaparan.
Saya tahu bagaimana rasanya kedinginan. 
Saya tahu bagaimana rasanya membawa beban berat
Saya tahu bagaimana rasanya tidur tanpa atap
Saya tahu bagaimana rasanya tidur tanpa alas
Gunung telah memberitahu saya semuanya,

Perjalanan memberitahu saya bahwa bertujuan untuk hidup sederhana adalah sebuah pilihan yang egois

Di luar sana masih banyak orang orang yang harus kita bantu. Masih banyak teman dan saudara yang harus kita tolong. Hidup sederhana akan membawa kebahagiaan bagi keluarga saya. Tapi tidak membawa kebahagiaan bagi banyak orang di luar sana.

Saya ingin mempunyai uang banyak. Saya ingin memberikannya pada para pengemis yang saya temui di pinggri jalan. Saya ingin menolong anak anak kecil penjual koran. Saya ingin membantu setiap manusia yang bisa saya bantu.

Saya ingin mempunyai pangkat tinggi. Saya ingin memperjuangkan kehidupan orang orang miskin yang kelaparan. Saya ingin memperjuangkan para siswa yang tidak mempunyai uang untuk sekolah. Saya ingin memperjuangkan para nenek yang tidak punya uang untuk berobat.

Saya benci hidup miskin, tidak bisa membantu siapapun
Saya benci hidup sederhana, bahagia di atas penderitaan yang ada di luar sana

Mungkin dengan hidup sederhana kita masih bisa membantu manusia lain, tapi tidak sebanyak yang bisa kita lakukan ketika hidup kita begitu kaya, ketika jabatan kita semakin tinggi.

Orang selalu berfikir bahwa dalam membantu yang terpenting adalah keiklasan,
Lalu lebih baik mana orang yang membantu dalam jumlah kecil tapi iklas, atau orang yang membantu dalam jumlah besar tapi iklas ?

Kita butuh banyak uang untuk disumbangkan, kita butuh jabatan yang tinggi untuk berjuang.

Yang saat ini masih berfikir untuk menjadi orang sederhana yang hidup bahagia,
Keluarlah saat malam, lihat apa yang ada di jalanan
Keluar ke pelosok negeri, lihat apa yang ada di sana
Pergilah ke gunung gunung, agar kau tahu bagaimana rasanya kedinginan dan kelaparan

Jangan egois untuk bahagia seorang diri

Tulisan ini memberi kita alasan kenapa kita harus kaya, alasan tersebut akan menjadi sebuah niat
Niat tersebut adalah awal yang berharga untuk sebuah kesuksesan
Orang besar dibentuk dari cara berfikir yang besar dan mimpi mimpi yang tinggi
Selamat berjuang bro !

Perjalanan telah memberiku alasan kenapa kita harus kaya di dunia,
Perjalanan telah memberiku jalan bagaimana kita akan kaya di akhirat,

Lakukanlah banyak perjalanan, maka kau akan temukan puzzel puzzel kehidupan
Susun puzzel tersebut agar kau mengerti bagaimana cara untuk hidup

Sebuah tulisan dari orang tidak kaya, tapi sangat ingin kaya

Adriyano Louizzao




4 komentar:

Adriyano Louizzao mengatakan...

Salam Lestari

Ilham Nur Gumilang mengatakan...

sangat inspiratif sob .... mantap

Adriyano Louizzao mengatakan...

Semoga kita semua bisa kaya bro, :D

rafie firdhaus mengatakan...

Sanngat bermanfaat sekali postinganya bang :D

Posting Komentar