"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Fenomena Pendaki Cilik

Akhir akhir ini aksi para pendaki cilik berhasil mencuri perhatian pendaki tanah air. Para Balita atau pun Bayi tersebut bisa menapakkan kaki kakinya di puncak gunung tertinggi. Tentu mereka tidak berjalan sendiri, terkadang ada yang digendong oleh ayah ataupun ibunya. Para pendaki cilik tersebut mampu berada di puncak gunung, seperti yang kita tahu orang dewasa pun membutuhkan perjuangan luar biasa untuk sampai di puncak gunung.

Selalu ada banyak sudut pandang dalam memahami sebuah persoalan,

Gunung adalah tempat yang tidak ramah bagi siapapun. Tanjakan dan turunan membuat siapapun akan berkeringat untuk melewatinya. Udaranya yang dingin begitu tajam menusuk kulit. Jika siang, panasnya terik mampu menghanguskan kulit dengan mudah. Jumlah sumber air di gunung juga sangat terbatas begitu pula dengan jumlah makanan. Gunung tidak pernah ramah untuk para bayi. 

Jika kita melihat dari sudut pandang pertama maka akan terlihat betapa luar biasa bayi bayi yang telah berhasil sampai di puncak. Mereka telah melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan bayi lainya. Meskipun bayi tersebut bisa sampai di puncak karena bantuan orang tuanya, harus kita acungi jempol karena bayi tersebut juga harus menghadapi dinginya udara dan panasnya terik.

Dari sudut pandang kedua terlihat bahwa orang tersebut terlalu memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Jika alasan adalah "mengenalkan alam sejak dini" tentu hal itu sangat tidak masuk akal. Coba anda ingat ingat apa saja yang pernah anda lakukan pada umur 1-4 tahun ? tentu kita sudah lupa. Kesimpulanya adalah bayi tidak bisa mengingat dengan jelas tentang kejadian yang dialaminya sejak kecil. Jika mengingat saja belum bisa apalagi memahaminya.

Ketika si bayi sampai di puncak gunung tentu orang tuanya akan kebanjiran pujian. Tapi saya rasa hal itu tidak setimpal dengan apa yang dialami oleh sang bayi. Sang bayi belum bisa berteriak kelaparan, kehausan, kedinginan dll. Sang bayi belum bisa mengatakan apa yang dia rasakan, tapi kita seolah olah tau apa yang dia rasakan.

Jika saya punya anak kecil maka tidak akan pernah saya ajak untuk naik gunung. Daripada saya menggendongnya ke puncak puncak gunung, saya lebih bangga ketika kelak dia mampu berada disana dengan jerih payahnya sendiri, dengan usahanya sendiri. Saya juga tidak pernah tega jika dinginya udara menyentuh kulit anak saya yang masih rapuh, ketika debu mengepung hidung mungilnya, ketika hujan membasahi wajahnya. 

Tergantung dari sudut pandang mana anda memandang,

Salam Lestari

 


Peta Jalur Pendakian Gunung Semeru

Saya buka mesin pencari google dengan keyword "Peta Jalur Pendakian Gunung Semeru". Dari hasil pencarian yang ada saya tidak melihat "Peta Jalur pendakian gunung Semeru" yang benar benar sesuai kaidah pembuatan peta. Menurut saya gambar gambar yang ada di hasil pencarian google tersebut tidak bisa mewakili peta karena tidak mempunyai sistem refrensi koordinat dan skala. Berdasarkan pada realita tersebut saya akan berusaha menyajikan peta jalur pendakian gunung Semeru hasil buatan saya sendiri.

Saya mendapatkan data GPS dalam bentuk tracking dari Komunitas Pendaki Gunung. Data tersebut saya overlay dengan data sekunder lain yang saya miliki. Saya memiliki peta kontur gunung Semeru dan juga peta penggunaan lahan gunung semeru. Saya kombinasikan semua data yang ada untuk menghasilkan peta terbaik untuk para pendaki gunung Indonesia. Peta jalur pendakian gunung Semeru saya bagi dalam beberapa jenis, berikut penjelasan lengkapnya :

1. Peta Jalur Pendakian Gunung Semeru (Klasifikasi Ketinggian)

Peta ini disajikan dengan warna warna yang menampilkan ketinggian tertentu. Klasifikasi warna tersebut didapatkan menggunakan peta kontur yang diolah sedemikian rupa dengan software pemetaan. Peta ini juga dilengkapi dengan grid Koordinat dalam bentuk Geografis. 

2.  Peta Jalur Pendakian Gunung Semeru (Peta Kontur)

Peta ini sangat cocok untuk mereka yg ingin melihat penampakan topografi gunung semeru. Peta kontur bisa dijadikan dasar dalam pembuatan jalur pendakian atau untuk keperluan SAR.

3. Peta Jalur Pendakian Gunung Semeru (Penggunaan Lahan)

Peta ini diklasifikasi berdasarkan penggunaan tanah di kawasan gunung Semeru. Terbagi menjadi beberapa item seperti Danau, Hutan, Padang Rumput, Pemukiman, Perkebunan, Semak Belukar, Tegalan hingga Kawasan puncak Semeru.

4.  Peta Jalur Pendakian Gunung Semeru (Peta Citra)

Citra ini bukan berasal dari google maps, tapi dari Bing Map. Citra ini diambil pada tahun 2012 sehingga kenampakan alamya tidak akan banyak berubah.

Skala pada semua peta diatas hanya berlaku jika di print dengan ukuran A0. Peta peta diatas hanya penampakan sekilas saja, peta aslinya bisa di download dalam bentuk PDF pada link dibawah ini


Semoga peta peta tersebut bermanfaat bagi para pendaki gunung yang akan mendaki gunung semeru

Salam Lestari


Ketika hidup tak bisa dihitung

Lebaran kemarin saya mudik ke kampung, berkumpul dengan sanak saudara untuk merayakan lebaran. Setidaknya saya bisa tersenyum lebar dengan status saya sebagai PNS instansi pusat. Saya membayar lunas apa yang telah orang tua saya korbankan untuk saya. Tapi semua takkan berahir disini, perjalanan masih panjang dan hidup masih terus bergulir. Pun sebenarnya utang seorang anak kepada orang tua tidak akan pernah lunas sepenuhnya.

Singkat cerita saya ngobrol dengan bapak tentang usaha sampingan yang sejak dulu saya impikan. Saya masih bingung untuk membuka usaha dalam bidang apa. Saya tidak pernah berbisnis dengan sesuatu yang tidak ada hubunganya dengan “teknik”. Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Saya tidak punya pengalaman dalam bidang ini. Saya sudah sering merencanakan usaha dengan Ms. Exel. Hitung hitungan dari mulai modal sampai keuntungan sudah saya hitung rinci sedemikian rupa.

Anggap saja saya punya modal yang cukup, tau lah bro kalo SK PNS bisa di tukar dengan segepok uang di bank alias utang. Tapi yang masih mengganjal dalam pemikiran saya adalah ketakutan untuk memulai, saya sangat takut bangkrut. Dalam hitung hitungan yang saya lakukan ternyata keuntunganya terlau sedikit, saya khawatir tidak bisa membalikkan modal. Dalam rencana yang lain tenaga ahlinya kurang banyak dan uang untuk membayar gajinya juga terlalu banyak. Ah, saya sangat bingung dengan semua angka di otak saya.

Kemudian bapak saya berkata “Kalo punya uang belilah sawah”. Otak saya langsung merespon dengan segala kemungkinan tentang sawah. Sawah tidak akan memberikan keuntungan besar, tenaga yang dihabiskan tidak sepadan dengan uang yang dihasilkan. “Bukan begitu cara berfikirnya”, bapak saya memulai ceritanya….

Ada seorang penjahit kecil, tidak mempunyai toko besar atau cabang, istrinya hanya ibu rumah tangga biasa. Dia mempunyai 5 orang anak dan seluruh anaknya bisa merasakan bangku kuliah. Kini anak anaknya telah menjadi orang sukses, membuat bapaknya sangat bangga akan anak anaknya. Jika dihitung dengan angka angka dan perhitungan matematis tentu mustahil seorang penjahit kecil bisa membiayai kuliah 5 orang anaknya. Tapi kenyataanya dia mampu ….

Ada seorang pedagang kecil di sebuah desa. Berjualan kebutuhan rumah tangga bagi orang orang desa. Tokonya tidak besar, layaknya pedagang kecil biasa. Tapi dia bisa naik haji. Mungkin kalkulator saya akan eror ketika diminta untuk menghitung kejadian ini. Mungkin Ms. Exel juga akan blank jika digunakan untuk menghitung kejadian ini. Bagaimana bisa keuntungan yang mungkin sangat kecil itu bisa terkumpul untuk naik haji. Entahlah, tapi begitu kenyataanya …..

Bukan berarti orang orang itu punya pesugihan atau memuja dukun tertentu, tapi karena orang orang tersebut mempunyai “usaha yang berkah”, yaitu usaha yang dijalankan dengan tulus dan sepenuh hati, mencari keuntungan dengan sebuah kerja keras, sebuah usaha yang di niati dengan kebaikan, sebuah usaha yang tidak merugikan orang lain.

Tentunya cerita tersebut bermaksud menegur pemikiran saya yang sangat rasional dengan angka dan perhitungan. Ternyata dalam membangun usaha,  modal dan pemikiran saja tidaklah cukup. Tentu harus diniati dengan kebaikan, kerja keras, pantang menyerah, tulus dan ikhlas. Intinya kisah kisah tersebut mengingatkan saya bahwa sekeras kerasnya saya berfikir tidak pernah akan terwujud tanpa persetujuan yang kuasa. Yang sering kita lupakan adalah ada kekuatan yang sangat besar yang sedang mengatur takdir untuk kita.

Ada orang yang mempunyai peghasilan besar, tapi karena hidupnya kurang berkah, tidak mau beramal, tidak mau bersyukur maka dikirimkanlah takdir untuk mengingatkan mereka. Misalnya mobilnya hilang, rumahnya terbakar dan lain sebagainya. Di lain sudut ada orang dengan peghasilan kecil tapi hidupnya berkah, mereka tidak pernah tersentuh musibah dan selalu dilimpahkan oleh keberuntungan keberuntungan.

Memang kita tidak bisa meramalkan takdir dengan ilmu matematika. Hidup itu tidak semudah satu ditambah satu sama dengan dua.

“Ketika Hidup Tak Bisa Dihitung”

Kisah Anak Yatim

"Fin" adalah nama seorang anak yatim yang akan menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Fin adalah nama samaran yang akan saya pakai untuk menuliskan cerita nyata ini. Saya hanya tidak ingin suatu saat nanti ketika dia tumbuh besar, dia akan tahu tentang kisah kelam masa kecilnya. Biarlah masa lalunya yang terjal tertinggal pada tulisan ini dan menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua.

Fin lahir di luar negeri, tepatnya di sekitar timur tengah. Ibunya meninggal ketika melahirkanya. Ayahnya menghilang entah kemana. Ibunya adalah orang Indonesia yang bekerja di luar negeri, sedangkan Ayahnya adalah orang timur tengah asli. Sejak kecil dia dibesarkan oleh lingkungan panti asuhan. Dia bahkan tidak pernah merasakan ASI ibu kandungnya sendiri.

Ketika usianya menginjak 3 tahun dia dideportasi ke Indonesia menggunakan pesawat. Dia mendarat di Jakarta dan menetap disana selama beberapa minggu hingga akhirnya dipindahkan ke sebuah panti asuhan di salah satu propinsi di Indonesia. Sewajarnya anak kecil yang baru belajar bicara, dia pun masih bingung akan bicara menggunakan bahasa apa. Dia baru saja belajar bahasa inggris walaupun sedikit. Kini dia tiba di Indonesia, menghadapi bahasa yang sama sekali tidak dia pahami. Entah apa yang ada di pikiran anak sekecil itu. Mungkin dia juga tidak paham sama sekali pengertian “bahasa”.

Perlahan lahan dia belajar bahasa Indonesia dari pengurus panti asuhan. Sesekali dia menggunakan bahasa inggris ketika tidak tahu kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. “Noodle”, “Pocket” adalah kata kata yang sering terlontar dalam dialognya yang masih kacau. Meskipun begitu dia adalah anak yang cerdas, saya yakin kecerdasanya di atas rata rata. Dalam 5 bulan dia sudah bisa menguasai bahasa Indonesia dengan baik, bahkan lebih baik dari anak berusia 3,5 tahun yang terlahir di Indonesia.

Fin adalah anak laki laki yang sangat tampan, rambutnya agak sedikit coklat. Tangan dan kakinya penuh luka, masa lalunya benar benar tragis. Fin hidup di panti asuhan dengan keseharianya. Dia makan sendiri, mandi sendiri, memakai baju sendiri dan melakukan apapun sendiri. Pengurus panti yang jumlahnya sedikit tidak mungkin bisa mengurus semua anak yatim yang berada disana.

Kadang 1 orang pengurus panti bisa mengawasi 15 orang anak kecil sekaligus. Ada yang masih berumur 2, 3 hingga 4 tahun. Mereka kadang berebut makanan, mainan, baju, bahkan kadang bisa sampai berkelahi satu sama lain. Anak anak ini dibesarkan oleh lingkungan yang keras, tidak seindah masa kecil anak anak seusianya.

Pada hari libur banyak orang yang datang ke panti asuhan untuk menjenguk anak anak yatim. Mereka berencana mengadopsi anak tersebut, tapi tentunya harus menunggu terlebih dahulu karena begitulah peraturanya. Dalam masa tunggu tersebut calon orang tua angkat sering pergi ke panti asuhan untuk menengok calon anaknya. Mereka sering membawa makanan, minuman hingga mainan. Mereka menghabiskan hari libur dengan bermain bersama anak anak tersebut.

Waktu yang ditunggu akhirny tiba, berselang 6 bulan sejak kedatanganya di Indonesia kini Fin mempunyai orang tua angkat. Pada hari itu banyak anak panti asuhan yang dilepas kepada masing masing calon orang tua angkat. Suasana haru menyelimuti panti asuhan, para pengurus panti seperti tidak tega melepas kepergian mereka. Saya bisa memaklumi hal itu karena para pengurus ini lah yang membesarkan mereka, satu satunya orang yang mereka miliki saat itu.

Mereka harus menahan rasa sedih melihat kondisi anak anak yatim yang datang ke tempat itu untuk pertama kali. Mereka mengobati setiap luka yang ada, mengobati setiap tetes air mata yang mengalir. Mereka menjadi ibu ketika anak anak tersebut membutuhkan Ibu. Mereka menjadi ayah ketika anak anak tersebut membutuhkan Ayah. Saya juga yakin anak anak tersebut juga tidak tahu apa itu “ibu” dan apa itu “ayah”.

Mereka bekerja dengan tulus merawat anak orang lain. Mereka merawat seorang anak yang akan meninggalkanya sebentar lagi, mungkin kelak ketika dewasa mereka juga tidak akan diingat oleh anak anak tersebut. Pekerjaan ini berat, dimana mereka bermain dengan seribu rasa yang harus mereka hadapi. Kadang ada rasa prihatin, kadang juga merasa jengkel atau lelah, kadang merasa terhibur dan bahagia, juga merasa sedih karena ditinggalkan.

Jika seorang engineering adalah mereka yang bekerja dengan otak,
Jika seorang Kuli Bangunan adalah mereka yang bekerja dengan Otot,
Maka para pengurus panti ini adalah mereka yang bekerja dengan Hati,

“Bersambung”


Antara Indonesia dan Timor Leste (Part 2)

Badan Informasi Geospasial, Kementrian Pertahanan, TNI-AD, Warga Lokal




Sambungan dari tulisan sebelumnya
"Antara Indonesia dan Timor Leste (Part1)"

Pagi itu kami mulai bersiap untuk melakukan expedisi. Tim kami terdiri dari 2 orang pegawai Bakosurtanal, termasuk saya, 1 orang Kementrian Pertahanan dan sisanya 4 angota TNI yang bertugas diperbatasan, tepatnya di pos Lakmaras. Pagi itu cuaca cukup dingin, kabut turun tebal, menutupi pemandangan yang harusnya terlihat indah. Kami menunggu cuaca cerah sambil menikmati sarapan pagi. 

Jam 09.00 WITA cuaca mulai cerah, kami pun segera memulai perjalanan. Sebelumnya kami telah menghubungi seorang teman dari Kementrian Luar Negeri Timor Leste. Kami sepakat untuk bertemu di sungai perbatasan. Expedisi kali ini adalah expedisi bersama antara tim Indonesia dengan tim Timor Leste dalam rangka survey pembuatan pilar batas Negara. 

Akses jalan daerah perbatasan RI-Timor Leste
Kami meninggalkan pos, menuruni bukit menuju ke sungai. Kami membawa HT untuk berkomunikasi dengan pos Tentara lain di sekitar perbatasan. Kami juga membawa senjata laras panjang sebagai prosedur keamanan. TNI yang mengiringi kami memakai pakaian loreng dengan sepatu lapangan.

Perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste berupa sungai yang membentang dari arah utara ke selatan. Kali ini kami akan menyusuri sungai tersebut untuk menentukan pemasangan pilar batas antara Indonesia dan Timor Leste. Jalan yang kami lalui untuk menuju sungai sangat licin, mungkin bekas gerimis semalam. Jalan ini membentang diantara semak belukar dan rerumputan. Di seberang tampak pemandangan perbukitan hijau yang sangat indah. Sayangnya bukit tersebut adalah milik Timor Leste. 

Sungai Perbatasan RI-Timor Leste
1 jam berselang akhirnya kami sampai di sungai. Kami menunggu teman dari timor leste sambil beristirahat sejenak. 1 Jam berlalu tak juga tampak wujudnya, akhirnya kami berinisiatif mencarinya. Akhirnya kami bertemu dengan teman dari Timor Leste. Mereka datang hanya bertiga, 1 orang dari Kementrian Luar negeri dan 2 orang anggota UPF (United Police Force) atau polisi perbatasan Timor Leste.

Kami memulai perjalanan ini, kami menyusuri sungai untuk menentukan lokasi lokasi pemasangan pilar batas Negara. Pilar ini dipasang di pinggir sungai. Setiap titik batas dipasang 2 pilar, 1 di tepi sungai Indonesia dan 1 lagi di tepi sungai Timor Leste. Pada expedisi kali ini kami akan memasang sekitar 40 pasang pilar.

Sementara itu di perbatasan bagian selatan juga terdapat tim lain yang melakukan kegiatan serupa sehingga totalnya kedua Negara akan memasang 80 pasang pilar yang mana 40 pasang dipasang oleh Indonesia dan 40 pasang lagi dibuat oleh Timor Leste. Anggaran yang digunakan untuk memasang 40 pasang pilar sekitar 900 juta rupiah. Itulah yang menyebabkan pekerjaan ini tidak bisa langsung diseleseikan di seluruh perbatasan timor leste, selain karena anggaranya besar juga tim ahlinya kurang. Kegiatan ini membutuhkan kemampuan otak dan fisik yang sama baiknya. Ini adalah medan yang tepat untuk seorang Engineering sejati.

Sungai Perbatasan RI-Timor Leste
Kami terus berjalan, menyusuri sungai yang tidak terlalu dalam. Sungai ini mengalir ke utara, berlawanan arah dengan kami yang bergerak ke selatan. Air sungai ini mengandung zat kapur, kita harus memasaknya hingga mendidih sebelum diminum. Di pinggir sungai tampak semak belukar dan hutan yang cukup lebat.

Ketika musim hujan sungai ini biasanya meluap. Air bah bisa datang sewaktu waktu ketika musim hujan. Bahkan jika disini tidak hujan air bah bisa datang karena dikirim dari wilayah hulu yang mungkin sedang hujan. Jika air tiba tiba menjadi keruh kecoklatan, kemudian terdengar suara gemuruh yang dahsat, maka hal itu menjadi pertanda bahwa air bah telah tiba. Kami harus waspada …..

Tim Gabungan Indonesia-Timor Leste
Ya, inilah aku dengan kehidupanku. Aku yang dibesarkan di gunung gunung. Aku yang dibesarkan di alam liar. Aku yang selalu berfikir bahwa semua itu tidak akan sia sia. Kini Aku bekerja di BAKOSURTANAL atau sekarang dikenal dengan BIG (Badan Informasi Geospasial), tepatnya di Pusat Pemetaan Batas Wilayah. BIG adalah badan setingkat kementrian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden, Instansi Pemetaan tertinggi di Indonesia.

Sulit bro bisa berada disini. Aku harus melewati 5 test untuk bisa berada disini. Test Kemampuan Dasar, Test Psikotes, Wawancara Psikotest, Test Kemampuan Bidang dan Wawancara Bidang. Tidak ada lagi KKN di instansi setingkat kementrian, semua serba “0” rupiah. Masih ingat ketika aku selalu bertapa di rumah setelah lulus kuliah. Membaca buku TKD yang super tebal, membaca buku psikotest dan buku buku akademik hingga les Bahasa Inggris privat untuk persiapan Wawancara.

Aku duduk di depan rumah menggambar pohon, menggambar orang, menggambar benda benda sebagai persiapan test psikotes. Seperti anak TK, mungkin itu yang dipikirkan orang orang rumah ketika melihatku. Beberapa hari sebelum hari-H aku sempat menghubungi Temanku yang juga seorang dokter. Dia menyuruhku untuk banyak banyak minum susu sebelum hari H, menyiapkan vitamin dan obat herbal agar tidak sakit, menyiapkan CTM jika semalam sebelum hari H kesulitan tidur, menyiapkan Vitamin otak untuk membuat otak bisa berfikir lebih lama, jangan makan nasi ketika pagi karena akan membuat ngantuk, segalanya dipersiapkan dengan begitu detail.

Dan yang terakhir adalah meminta pada Tuhan yang mahas Esa, jangan pernah Sholat 17 rakaat dalam sehari, jangan puasa 30 hari dalam se-tahun. lakukan lebih dari itu ! Segalanya akan berakhir Indah, sangat Indah …….

Semoga bisa menginspirasi bagi teman teman yg gagal terus menerus mengikuti test CPNS, hahaha

Ini adalah perjalanan Dinasku yang pertama dalam hal perbatasan luar negeri. Rasanya seperti kembali ke rumah, dimana hutan menjadi taman bunga dan kabut menjadi penyejuk kalbu. Inilah dunia PNS menurutku, duniaku yang berbeda dengan PNS PNS biasanya.

Ngantor itu nggak harus di depan Monitor
Ngantor itu nggak harus In Door
Ngantor itu boleh pakai celana Kolor
Begitulah bunyi salah satu iklan Rokok,
Aku banget ……

Dulu aku mempunyai mimpi untuk bekerja di PT. Freeport Indonesia. Gaji yang besar akan membuatku leluasa untuk berkarya, bisa menggerakkan komunitas, mendaki gunung manapun, membeli kamera mahal, piano, guitar, mobil mewah, rumah dan lain sebagainya. Sialnya orang tua tidak merestuiku untuk hal itu dan akhirnya takdir membawaku menjadi PNS.

Kini aku menyadari bahwa saat ini aku harusnya bangga. Saat ini aku bekerja dalam pengukuran batas Negara. Tidak lagi membawa nama besar almamater UNDIP, tidak lagi membawa nama Pusat Pemetaan Batas Wilayah, tidak lagi membawa Nama Badan Informasi Geospasial tapi membawa nama besar Indonesia, berjuang untuk memastikan bahwa setiap jengkal tanah Indonesia adalah milik kita.

Selamat datang di perbatasan

Wahai pejuang garis Batas

"Bersambung"

SALAM LESTARI

Baksos Komunitas Pendaki Gunung Reg. Jabodetabek

Komunitas Pendaki Gunung Regional Jabodetabek
Pada tanggal 13 juli 2014 Komunitas Pendaki Gunung regional Jabodetabek telah berhasil melakukan bakti sosial di panti asuhan HAJJAH HASMAH NOOR, sunter, jakarta utara. Kami menyumbang sejumlah barang berupa buku dan alat ibadah beserta dana tunai. Komunitas pendaki gunung sejatinya adalah komunitas yang menghimpun para pendaki gunung di Indonesia. Kegiatan baksos seperti ini tentunya sangat jauh dari kegiatan mendaki gunung. Tapi sebagai pendaki gunung yang telah dibesarkan di alam liar membuat kami mengerti makna sesungguhnya tentang solidaritas.

Ide untuk membuat kegiatan baksos ini bermula dari KOPDAR Kpg reg. Jabodetabek yang dilaksanakan di Bekasi sebulan sebelumnya. Setelah itu segera disusun kepanitiaan untuk mewujudkan acara tersebut. Panitia ini adalah anggota Komunitas pendaki gunung yang sering hadir pada Kopdar yang dilaksanakan sebelum sebelumnya. Karena sering datang KOPDAR akhirnya kami semakin dekat sehingga menumbuhkan rasa saling percaya satu sama lain.

Kegiatan pertama yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara mengumpulkan dana. Dalam upaya pengumpulan dana tersebut kami membagi tim menjadi 3 regional kecil, yaitu regional bogor, regional Jakarta dan regional bekasi. Masing masing regional mencari sumbangan dana dengan cara masing masing. Ada yang berjualan makanan kecil, ada yang mengamen, ada yang mencari donator dan tentunya dibantu dengan publikasi melalui group facebook kami yang mempunyai member sekitar 45 ribu orang.

Sembari mengulkan dana panitia segera mencari panti asuhan yang akan dijadikan tempat baksos. Dari hasil pencarian dan survey lapangan akhirnya kami memilih panti asuhan HAJJAH HASMAH NOOR yang terletak di Sunter, Jakarta Utara. Agenda acara segera disususun, pun dengan perkiraan biaya yang akan digunakan untuk baksos. Kebetulan kami memiliki Koki koki handal sehingga kami memasak makanan sendiri untuk mengirit dana. Meskipun begitu kalau soal rasa, dijamin tidak kalah dengan masakan masakan restoran ternama. Sang koki langsung menentukan menu makanan yang akan disajikan. Setelah mencatat bahan baku apa saja yang dibutuhkan bendahara langsung mengelurkan dana untuk meng eksekusinya. Kami mempunyai dana kas hasil dari sumbangan sukarela yang diadakan setiap KOPDAR, cukup besar nominalnya.

Kebetulan kami juga punya master desain grafis yang menyumbangkan karyanya dalam bentuk sticker dan spanduk. Komunitas ini memang terdiri dari banyak orang dengan latar belakang berbeda sehingga mempermudah pergerakan kami. Memang benar kata orang bijak, perbedaan bukanlah penghambat, melainkan sesuatu yang membuat kita semakin mudah untuk maju. Sementara itu panitia lainya sudah mempersiapkan alat alat yang digunkan untuk memasak dan menyajikan makanan.

Buber dan penggalangan dana se-minggu sebelum Baksos


Perhitungan Donasi

Beberapa hari sebelum hari H dana hasil pengumpulan segera dihitung. Beberapa dana digunakan untuk membeli barang yang kemudian akan disumbangkan. Sehari sebelum pelaksanaan tim dapur sudah berada di lokasi untuk menyiapkan segalanya. Pada waktu hari H tim menjemput peserta di stasiun KRL Jakarta Kota. Dari sana kami menggunakan angkot yang disewa sampai tempat tujuan. Peserta yang lain langsung datang di lokasi pada saat acara dimulai.

Suasana Dapur Sebelum Buka Bersama
Peserta yang datang cukup banyak, mungkin lebih dari 50 orang anggota KPG. Total secara keseluruhan ada sekitar 100 orang yang terdiri dari 50 orang anggota KPG dan sisanya anggota panti asuhan. Pada jam 14.00 WIb acara segera dimulai, tim panitia sudah menyiapkan MC untuk memandu acara ini. MC nya tentunya berasal dari anggota Komunitas Pendaki Gunung.

Acara segera dimulai sesuai agenda yang telah dibuat sebelumnya.
  1. Sambutan dari ketua panti asuhan
  2. Sambutan dari Ketua Panitia yang diwakili oleh Ubay
  3. Sambutan dari Admin KPG yang diwakili oleh Nanda Afrilyan (Nanda Punk)
  4. Sambutan dari Ketua KPG Regional Jabodetabek. Harusnya Iman, tapi karena dia tidak bisa datang maka diwakili oleh Henry Bella, salah satu tetua KPG. Tapi karena pada saat acara sedang ada keperluan maka terpaksa digantikan oleh A’and (Adriyano Louizzao)
  5. Pengenalan alam kepada anggota panti asuhan yang disampaikan oleh Saiful Darwi
  6. Penampilan rebana dari anak anak panti asuhan
  7. Sholat ashar berjamaah
  8. Kuis dan Game berhadiah yang ditujukan bagi anak anak panti asuhan.
  9. Pembacaan ayat ayat suci al-quran oleh anak anak panti asuhan
  10. Ceramah dari Ustad
  11. Buka bersama
  12. Penyerahan sumbangan yang diwakili oleh Henry Bella yang merupakan tetua Komunitas Pendaki Gunung
  13. Selesai
Total biaya yang dihabiskan untuk kegiatan ini beserta jumlah sumbangan yang diserahkan sekitar 12 jt rupiah. Cukup banyak untuk komunitas yang terlahir dari dunia maya. Terimakasih sebesar besarnya kami ucapkan untuk para penyumbang dana yang telah ikhlas berbagi rezeki pada kaum yang membutuhkan.

Sebetulnya saya tidak terlibat keseluruhan dalam acara ini, tentunya saya mohon maaf sebesar besarnya. Saya mempunyai banyak tugas penting Negara, yang memaksa saya harus meninggalkan pulau jawa dalam waktu yang lama

Tentunya terimakasih juga kami ucapkan pada pihak pihak yang telah membantu kesuksesan acara ini. Kepada pihak pihak yang telah rela menyisihkan waktu, pemikiran dan tenaga untuk melakukan kegiatan ini.
  • Kepada ketua panitia, yang selalu mengontrol perencanaan kegiatan ini sampai pada pelaksanaanya
  • Kepada para tetua yang selalu memberikan pemikiran cerdasnya, memberikan masukan masukan brilian untuk setiap masalah yang ada
  • Kepada pihak pihak yang membantu dalam proses penggalangan dana, yang ngamen di jalanan, yang berjualan makanan
  • Kepada pihak pihak yang membantu dalam proses publikasi dan sosialisasi
  • Kepada Bendahara KPG yang sering begadang karena terlalu sering menghitung uang,
  • Kepada Sekertaris KPG yang selalu mencatat setiap rencana dan notulen setiap pergerakan,
  • Kepada Koki koki KPG yang telah menyajikan masakan dengan rasa yang mantrab
  • Kepada Admin KPG, Nanda Punk yang sengaja datang jauh jauh dari Semarang demi acara ini
  • Kepada seluruh peserta yang telah datang

Susunan panitia kegiatan baksos KPG reg. Jabodetabek  :
  • Ketua Pelaksana : Ubaydillah
  • Wakil Ketua Pelaksana : Kribo
  • Sekretaris : Intan
  • Bendahara : Anang
  • Transportasi : Ibnu dan Panji
  • Konsumsi : aab, wanda dan joe
  • Kordinator Acara : Laili
  • Notulen : Henry dan Ipul
Sekali lagi terimakasih

Tulisan ini dibuat bukan untuk sekedar “pamer” pada para pembaca, tapi dimaksudkan agar bisa dijadikan inspirasi untuk para pendaki gunung Indonesia. Bawasanya kita sebagai pendaki gunung adalah orang orang yang telah dibesarkan oleh alam. Bagaimana Alam telah mengajari kita arti makna solidaritas dengan sangat baik.

Saya selalu berkata :
Bukan tentang seberapa tinggi gunung yang telah kau daki
Bukan tentang seberapa jauh gunung yang telah kau daki
Bukan tentang seberapa banyak gunung yang telah kau daki
Bukan tentang seberapa sering engkau mendaki
BUKAN……..

Tapi tentang manfaat adanya kita pada dunia
Tentang para pendaki gunung yang telah mencoba memberikan sesuatu pada dunia, mencoba merubah dunia ……..

“Jika ada atau tidaknya kita tidak merubah apapun di dunia, maka kita telah gagal dalam hidup” – Catatan Pendaki Gunung


Berawal dari Mimpi
Menjelma menjadi wacana
Berubah menjadi Fakta
Dan kelak, semoga menjadi sejarah


Adriyano Louizzao, TTD Admin

Desain by Henry Bella


SALAM LESTARI

Pentingnya Memahami Karakter Penggunaan Tanah Ketika Mendaki Gunung

Penggunaan fungsi tanah telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah. Pemerintah mempunyai hak untuk mengeluarkan perijininan terhadap pemakaian tanah. Pemerintah tidak akan memberikan ijin jika kita akan membangun pabrik di tengah pemukiman atau mendirikan perumahan di tengah hutan. Pada dasarnya penggunaan tanah ini telah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah karakter yang hampir pasti.

Menurut saya pengetahuan tentang karakter penggunaan tanah pegunungan akan membantu kita dalam kegiatan pendakian, terutama dalam hal navigasi. Misalnya, jika kita sedang tersesat di gunung, kita sedang berada di antara ladang penduduk, maka dengan mudah kita akan tahu bahwa kita sedang berada di ketinggian antara sekitar 1.000 mdpl – 2.000 mdpl karena penduduk tidak akan membuat ladang yang jauh dari pemukiman mereka, dan pemukiman mereka tidak akan terletak di daerah yang terlalu tinggi. Intinya kita tidak jauh dari perumahan penduduk.

Kasus lain adalah, misalnya kita sedang tersesat di gunung, kita tersesat diantara padang edelweiss. Berdasarkan karakter penggunaan tanah pegunungan bunga edelweiss biasanya terletak di ketinggian lebih dari 2.500 mdpl. Dengan dasar tersebut kita tahu bahwa kita sedang tersesat di area yang dekat dengan puncak atau jauh dari pemukiman.

Kasus lain adalah, misalnya kita sedang tersesat di gunung, kita menemukan sungai yang cukup besar. Biasanya sungai yang besar tidak pernah terletak di daerah yang tinggi. Pada daerah yang tinggi biasanya sungai akan mengecil dan habis di puncak. Dengan dasar tersebut kita akan tahu bahwa kita mungkin berada di daerah yang cukup rendah, mungkin tidak jauh dari ladang dan pemukiman penduduk.

-     Ladang biasanya terletak di dekat pemukiman penduduk
-    Sungai besar biasanya terletak di dataran rendah
-    Edelweis biasanya terletak di ketinggian
-    Kebun teh biasanya terletak di atas pemukiman penduduk
-    Hutan lebat biasanya terletak di atas ladang penduduk
-    Semakin mendekati puncak biasanya ketebalan hutan akan berkurang
-    Jika medan berpasir dan kerikil biasanya terletak tidak jauh dari puncak
-    Pohon pisang tidak mungkin terletak di ketinggian

Fakta fakta tersebut sebenarnya telah menjadi karakter “khas” gunung gunung di Indonesia. Karekter tersebut bias digunakan untuk dasar Navigasi Darat.

Jika kita memahami karakter penggunaan tanah pegunungan maka hal tersebut akan sangat membantu kita dalam navigasi darat. Tapi untuk memahaminya kita perlu merangkai satu persatu pengalaman yang kita miliki, kita perlu merangkai fakta fakta detail yang ada di lapangan.

SALAM LESTARI

Antara Indonesia dan Timor Leste (Part 1)

Perbatasan Indonesia- Timor Leste 

Minggu, 18 mei 2014, saya mendarat di Kupang-Nusa Tenggara Timur. Bandara di Kupang sangat kecil, lebih besar terminal terminal di jakarta seperti terminal Kp. Rambutan atau terminal Pulau Gadung. Dari Kupang saya harus naik mobil ke daerah kota Atambua selama 6 jam. Jalan yang dilewati naik turun dan berkelak kelok. Ada beberapa bagian jalan yang longsor dan belum sempat diperbaiki. Jalan yang saya lewati membentang di tengah hutan dan perbukitan. Di beberapa bagian jalan sempat turun kabut yang menjadikan perjalanan ini semakin menyenangkan.

Atambua adalah daerah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Saya yang tergabung dalam tim Badan Informasi Geospasial berada disini dalam rangka pemasangan pilar batas negara Indonesia dan Timur Leste. Kami menginap sementara di Kota Atambua sambil menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan. Kami mengunjungi kantor pemerintahan setempat seperti Bappeda, Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Satgas Pamtas untuk melakukan koordinasi.

Mayoritas penduduk atambua beragama Kristen, kebanyakan dari mereka berkulit hitam. Meskipun begitu masih ada beberapa gelintir warga muslim atau cina yang hidup di kota ini. Kota ini tidak semegah kota kota yang ada di pulau jawa. Terlalu jauh jika kita membandingkanya dengan kota seperti Bandung, Semarang atau Malang. Bangunan kantor pemerintahanya pun tidak semewah gedung gedung yang ada di pulau jawa, apalagi infrastruktur jalanya.

Siang itu kami pergi ke markas komando satgas pamtas untuk melakukan koordinasi, tapi komandan sedang sibuk melakukan pengawalan karena presiden Timor leste sedang melewati wilayah indonesia. Begitulah prosedur standar jika ada pejabat dari negara lain yang berkunjung di Indonesia. Anehnya para pejabat di timur leste dulunya adalah orang orang yang dimusuhi TNI karena dipandang sebagai aktifis upaya pemberontakan, tapi setelah timur Leste merdeka mereka menjadi pejabat dinegaranya. Dan ketika pejabat tersebut melintas di Indonesia mereka mendapatkan pengawalan dari TNI.

Disini BBM cukup sulit dicari walaupun jumlah kendaraan tidak sebanyak di pulau jawa. Usut demi usut ternyata BBM tersebut banyak diselundupkan ke negara sebelah. Penduduk Indonesia lokal sengaja membeli BBM di Pom Bensin kemudian menyelundupkanya ke negara sebelah dengan menggunakan kapal kecil. Mereka menjual BBM ke negara sebelah dengan harga yang lebih tinggi. BBM di negara sebelah tidak disubsidi sehingga harganya sangat mahal dan warga lokal memilih membeli BBM dari Indonesia.

Satgas pamtas sering melakukan razia dan menangkap banyak barang bukti, barang bukti tersebut diserahkan ke polisi setempat dan ............ 

Aneh memang, di sisi lain wilayah Indonesia warga merengek karena kehabisan BBM tapi di sisi yang lain warga malah menjual BBM ke negara sebelah. Ada ada saja cara yang digunakan untuk mencari uang.

"Orang Indonesia itu lebih pintar mikir perut masing masing daripada mikir negara"

Jumat, 23 Mei 2014, Pukul 3 WITA, kami segera meluncur menuju Pos Satgas Pamtas Lakmaras. Satgas Pamtas adalah TNI yang bertugas menjaga daerah perbatasan dengan negara lain. Desa Lakmaras adalah salah satu desa yang terletak di Kabupaten Belu. Desa tersebut berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste. Kami menggunakan Mobil Ford untuk menuju desa Lakmaras. Mobil tersebut diisi oleh 6 orang, 1 orang dari BNPP (Badan Nasional Pengelola Perbatasan), 1 orang TNI dari Markas Komando Atambua, 1 orang TNI dari Kementrian Pertahanan dan 2 orang dari Badan Informasi Geospasial serta Pak Sopir. Pekerjaan ini sebenarnya adalah wewenang dari Badan Informasi Geospasial. Kita melibatkan TNI karena medan yang dilewati sangatlah berat juga karena alasan keamanan.

Perjalanan menuju Desa Lakmaras awalnya cukup menyenangkan. Jalan aspal yang kami lalui masih bagus walaupun tidak begitu lebar. Lama kelamaan kami mulai sampai di daerah pedalaman. Kini tidak ada lagi jalan halus. Kami melewati jalan tanah yang sangat berdebu. Beberapa bagian jalan longsor sehingga dibutuhkan sopir yang benar benar ahli. Mobil kami menyusuri daerah perbukitan, jurang dan tebing berkeliaran di sekitar. Tidak ada lagi signal Handphone, kami benar benar sudah menghilang dari jangkauan teknologi. Beberapa bagian jalan sangat menanjak, mobil kami hampir tidak kuat melaluinya.

Mobil kami berjalan di atas perbukitan. Sesekali kami melewati rumah warga pedalaman. Dari atas bukit tampak sungai sungai besar yang menjadi batas antara Indonesia dan Timor Leste. Sepanjang jalan pemandangan yang tersaji sangatlah indah. Rumput hijau di perbukitan perpadu dengan cahaya jingga mentari yang mulai tenggelam. Liarnya jalan membuatku mual. Alih alih mengambil gambar, duduk pun susah. Ah, indah pokoknya .....

Jam 06.00 WITA kami masih dalam perjalanan menuju desa lakmaras. Kabut tebal menghadang jalan kami. Jarak pandang mungkin sekitar 2 meter. Sementara itu mobil kami masih berkelana diantara tebing dan jurang. Kami sering berhenti di tengah jalan. Kami sempat turun untuk memastikan bahwa jalan yang kami lewati tidak berujung di jurang. 1 jam berselang akhirnya kami sampai di Pos Lakmaras.

Pos Lakmaras terletak di daerah perbukitan. Suhu di pos ini sangat dingin. Angin tidak pernah berhenti bertiup. Kabut juga sering datang mengganggu. Di pos ini terdapat sekitar 10 orang TNI yang berasal dari berbagai daerah. Ada orang jawa, orang bali, orang lombok, orang ambon, orang NTT dll. Mereka rela ditugaskan di pedalaman demi NKRI.

Kami menikmati makan malam yang telah disediakan. Tidak ada makanan mewah disini, hanya ada nasi putih, tempe goreng dan mie rebus. Makan malam tersebut ditutup dengan segelas teh hangat. Disini tidak ada listrik. Mereka membuat listrik dengan genset. Mereka selalu berkumpul untuk melihat TV setiap malam karena genset hanya dinyalakan pada malam hari. TV tersebut pun hanya bisa berfungsi dengan menggunakan parabola.

Pos ini adalah bangunan permanen dengan luas sekitar 20 x 8 meter. Tidak ada satupun sekat di dalam pos tersebut.  Kami tidur di barak TNI, bergabung dengan personil lain. Aku mengeluarkan lotion anti nyamuk dari tas. Daerah ini adalah daerah rawan penyakit Malaria. Daya tahan tubuh harus selalu terjaga agar tidak terserang malaria. Dan yang paling penting hindari virus malaria yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. Aku masuk sleeping bag dan menutupnya rapat rapat. Berharap tidak digigit nyamuk.

Pagi ini cuaca sangat tidak bersahabat. Matahari tidak tampak dari sudut manapun. Kabut tebal mengitari pos, angin tebal menerjang pos, benar benar pagi yang buruk. Aku pergi ke dapur, duduk di tungku api, mencoba menghangatkan badan. Disini terdapat seorang bapak yang menggendong anak kecil. Bapak tersebut membawa anaknya kesini karena kakinya terguyur air panas. Dia tidak tau harus pergi kemana lagi, di daerah pedalaman seperti ini tidak ada dokter atau puskesmas. Untungnya ada TNI dokter disini, dia mencoba menolong anak itu sebisanya. Persediaan obat disini tidak lengkap, obat yang ada disini pun sebenarnya untuk persediaan TNI, tapi mereka merelakanya demi rakyat.
Keadaan ini begitu miris. Wajah anak itu pucat, menahan sakit di kakinya. Sang bapak memangkunya, memeluknya, menghindarkanya dari dinginya cuaca. Aku duduk si sampingnya, mencoba membuka obrolan ringan. Bapak itu tidak bisa pulang karena gerimis masih mengguyur. Aku masuk ke dalam pos, mengambil roti biskuit. Aku memberikanya pada anak itu. Tanpa ragu dia langsung menyahutnya. Dia langsung meminta bapaknya untuk membuka bungkusnya. Dia ambil beberapa roti sekaligus, memakanya dengan lahap. Bagi mereka yang tinggal di kota mungkin roti seperti ini adalah hal yang biasa. Tapi bagi anak ini roti ini adalah sebuah makanan mewah. 




Sungguh sulit hidup disini. Tidak ada listrik, tidak ada dokter, tidak ada puskesmas, tidak ada obat. Jarak sekolah sangat jauh. Signal handpohone tidak ada. Tidak terjamah teknologi. Benar benar miris ,,,,,, Kita harus lebih banyak bersyukur, terhadap apa yang telah kita miliki, terhadap keadaan yang kini kita hadapi.

Kita tidak akan tahu tentang bagaimana dunia jika hanya berdiam diri di suatu tempat, keluarlah dari rumahmu, jelajahi dunia, temukan apa yang orang lain tak pernah temukan !

Ada banyak kisah, di daerah perbatasan, diantara Indonesia dan Timor leste

Bersambung ......
Salam Lestari


Catatan Seorang Admin

Pernah membayangkan menjadi admin Group dengan anggota puluhan ribu ?
Apa sih yang dikerjakan oleh admin hingga anggota groupnya bisa sebanyak itu ?

Perkenalkan, saya salah satu admin Group Komunitas Pendaki Gunung. Group Komunitas Pendaki Gunung memiliki anggota sekitar 37.000 orang. Tidak mudah mengurus Group sebesar ini apalagi Group ini memiliki pergerakan nyata, tidak hanya di dunia maya. Kami sering melakukan kegiatan nyata seperti KOPDAR, pendakian bersama, aksi bersih sampah, Camping bersama dll

Saya lupa berapa kali menambahkan orang ke dalam group ini, terlalu banyak untuk diingat. Setiap harinya ada ratusan orang yang ingin masuk group ini. Admin harus selalu online untuk memasukkan orang ke dalam group. Tapi walau bagaimana pun admin tetap manusia yang punya beragam kesibukan. Admin tidak bisa online selama 24 jam setiap harinya. Untungnya KPG (Komunitas Pendaki Gunung)  memiliki 3 Admin yang saling menutupi kekosongan kepengurusan Group sehingga para Facebooker tidak perlu menunggu lama untuk bisa bergabung.

Kadang ada beberapa anggota yang memprotes karena ada anggota lain yang posting tentang hal hal yang tidak sesuai etika. Kadang ada yang marah marah karena admin tidak segera menghapus postingan tersebut. Mungkin mereka lupa kalau admin juga manusia yang tidak bisa online seumur hidupnya. 

Ada juga serangan porno dari beberapa akun yang tidak bertanggung jawab. Solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah mengeluarkan dari group agar tidak memancing keributan sekaligus menimbulkan efek jera. Dari beberapa akun tersebut ada yang masuk kembali ke dalam group dan ada juga yang di larang masuk selamanya. Dalam beberapa kejadian ada akun yang sengaja diciptakan untuk membuat kerusuhan, akun tersebut adalah akun palsu yang memang ditugaskan untuk menebarkan kekacauan. Akun tersebut biasanya di keluarkan dari untuk selama lamanya.

Terkadang beberapa anggota terlibat perdebatan sengit yang mengarah ke dalam permusuhan. Admin harus sigap menetralisir keadaan tersebut untuk menjaga kedamaian Group. Solusi paling mudah untuk menghentikan pertengkaran tersebut adalah dengan menghapus postingan yang berkaitan. Tapi apakah hal tersebut akan menyelesaikan masalah ? Tidak. Kenapa ? karena masalah tersebut memang tidak pernah diselesaikan. Terkadang ada perdebatan yang sengaja tidak dihapus agar menghasilkan sebuah kesimpulan. Jika kita selalu menghapus perdebatan tersebut maka akan muncul pada postingan postingan lain karena dari dulu memang belum sempat dituntaskan. 

Agar group semakin berwarna admin kadang memberi sentuhan dengan postingan postingan yang bisa memberikan manfaat. Kadang juga membuat postingan sebagai pengalih isu yang sedang diperdebatkan. Semua itu dilakukan agar anggota merasa nyaman berada di dalam group. Yang perlu dicermati lagi adalah publikasi kegiatan yang kadang kadang bertabrakan. Admin harus pandai pandai mengatur situasi karena Facebook hanya mengijinkan 1 postingan untuk di Pin/sematkan. 

Ada juga yang marah marah karena temanya dikeluarkan dari group. Saya juga tidak tahu siapa yang mengeluarkan dan siapa yang mengeluarkan. Saya juga tidak tahu apakah hal tersebut benar benar terjadi atau cuma realita karangan saja. Entahlah. Yang pasti admin tidak mungkin mengenal sekian ribu anggota group ini. 

Group ini didirikan pada tahun 2008, dan sekarang adalah tahun 2014. Entah sudah berapa "klik" yang dilakukan oleh admin untuk mengurus group ini, tidak terhingga. Dari sekian banyak "klik" itu tidak mustahil jika admin melakukan kesalahan seperti salah mengeluarkan orang, salah menghapus postingan dan lain sebagainya. Mungkin mereka sering lupa jika admin juga manusia biasa yang tidak pernah luput dari salah dan khilaf.

Beberapa peristiwa yang terjadi di group adalah pelajaran berharga bagi admin. Dari sekian ribu anggota group memiliki cara pandang dan pola pikir yang beraneka ragam. Sering kali perbedan tersebut menimbulkan gesekan gesekan kecil yang tidak bisa dihindari. Tapi sesungguhnya perbedaan itu adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Setidaknya gesekan kecil yg terjadi karena sebuah perbedaan pandangan adalah salah satu hal yang membuat saya mampu untuk berfikir lebih bijak.

Coba lihat foto dibawah ini !



Warna daun, rumput, belukar dan bunga selalu berbeda, dan perbedaan itulah yang membuatnya tampak indah - Catatan Pendaki Gunung

Tapi apapun yang terjadi admin akan selalu menjaga keutuhan group Komunitas Pendaki Gunung. Semoga para anggota bisa lebih cerdas mensikapi segala postingan yang ada. Jangan mudah diprovokasi oleh  akun yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai terprovokasi oleh orang orang yang ingin memecah belah Komunitas Pendaki Gunung.

Salam Komunitas Pendaki Gunung

Salam Lestari


Sarjana bermental uang

 
Di Indonesia banyak orang orang lulusan perguruan tinggi ternama. Banyak juga orang orang dengan gelar tinggi seperti S1, S2, S3 sampai profesor. Tapi hingga saat ini negara kita sama sekali tidak beranjak dari keterpurukanya. Yang menjadi pertanyaan terbesar saya adalah kemana perginya orang orang itu ?

Saya mengamati tradisi dan pola pikir orang indonesia di sekitar kita, dan saya menemukan alasan kenapa negara kita tidak bisa bangkit dari keterpurukanya. Kebanyakan orang indonesia hanya memikirkan urusan pribadinya. Asalkan bisa pulang ke rumah dengan membawa beras itu sudah cukup. Kalo semua orang hanya berfikir tentang cara mendapatkan beras lalu siapa yang akan memikirkan negara ini. 

Mereka yang telah lulus dari perguruan tinggi hanya berfikir tentang bagaimana cara mendapatkan pekerjaan. Setelah itu mereka akan segera berfikir bagaimana cara membuat rumah dan bagaimana cara menghidupi keluarganya. Yah begitulah kenyataanya saat ini sehingga banyak orang yang tidak pernah memikirkan negaranya sama sekali. 

Salah satu faktor terbesar yang menjadi penyebab lambatnya perkembangan negara kita adalah faktor mental. Ada pemikiran di otak warga bangsa ini yang harus dirubah. Harusnya banyak orang yang mulai berfikir tentang negara ini, tidak hanya berfikir tentang beras dan beras. Adakah orang orang yang rela menyisihkan waktu dan tenaganya untuk merubah sesuatu di negara ini ? tidak.

Kadang aku merasa jengkel dengan anak anak muda yang ada di sekitarku. Yang penting lulus kuliah, dapat pekerjaan, dapat uang dan selesailah sudah. Hidup bukan seperti itu bro. Sisakan sedikit waktu dan tenagamu untuk sebuah perubahan. Lakukan sesuatu untuk negaramu !

Saya merasa terpanggil untuk menciptakan sebuah perubahan kecil melalui tulisan. Saya tidak pernah dibayar untuk menulis. Saya hanya ingin merubah pemikiran anak anak muda jaman sekarang. Sebagai seorang manusia saya juga butuh beras untuk dimakan. Tapi tidak semua waktu saya habiskan untuk mencari beras. Kadang saya merasa sangat lelah. Saya harus bekerja untuk mencari beras dan lain sebagainya. Tapi hidup ini tidak hanya tentang beras .......

Harusnya kita malu pada titel kita, entah itu S1, S2, S3 dll jika kita tidak bisa memberikan sesuatu pada negara dan kehidupan. S1, S2, S3 itu bukan hanya untuk mencari beras bro, tapi bisa kita gunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Jika hidup itu dinilai dari seberapa bermanfaatnya kita pada negara, maka pemilik titel tersebut bisa jadi manusia yang lebih rendah daripada mereka yang tidak bertitel.

Pola pikir anak anak muda harus dirubah .....

Entah pola pikir saya yang aneh atau pola pikir aneh orang orang yang lama kelamaan menjadi wajar

Salam Lestari


Televisi Berbahaya

Selamat sore
Televisi adalah salah satu media yang paling merakyat. Hampir di setiap rumah di negara ini memiliki televisi. Hampir setiap hari kita melihat televisi. Televisi mampu mendekte bagaimana kehidupan bangsa ini harus berjalan. Televisi mengajarkan kebiasaan kebiasaan pada setiap manusia yang melihatnya. Sadar atau tidak sebenarnya televisi adalah salah satu penyebab utama mengapa negara kita semakin terpuruk. Tidak percaya ?

Jika anda melihat televisi dari jam 6-9 setiap malamnya maka anda akan menemukan banyak tayangan yang tidak mendidik. Padahal jam tersebut adalah waktu dimana orang indonesia paling banyak melihat televisi. Jika anda terus melihatnya selama berpuluh puluh tahun maka pola pikir anda akan terbentuk seperti tayangan tayangan yang ada di televisi.

Salah siapa jika anak anak SMA sering tawuran ?
Salah siapa jika anak anak SMA sering memakai rok mini ? pacaran ? sex bebas dll ?

Karena begitulah yang televisi ajarkan , begitulah yang sinetron ajarkan

Andaikan mereka yang memiliki wewenang terhadap tayangan tersebut mampu berfikir lebih jernih, mampu menggunakan sedikit nurani untuk membenahi bangsa ini, bukan hanya peduli tentang jumlah rupiah yang dihasilkan. Seharusnya kita mampu merubah pola pikir warga ini dengan media.

Jika anda bangun pagi sekitar jam 4 petang, maka anda akan menemukan tayangan tentang kajian agama. Padahal jam tersebut adalah waktu dimana hampir sangat sedikit orang yang melihat televisi. Tidak terasa selama berpuluh puluh tahun kita telah dicecoki oleh kebodohan, kita telah dibodohi oleh kebiasaan kita sendiri.

Tayangan tayangan yang bermanfaat selalu diletakkan pada waktu yang tidak seharusnya. Waktu dimana orang sering melihat televisi malah diisi dengan tayangan tayangan yang tidak mendidik. Kenapa negara kita semakin terpuruk ?

Ya karena banyak orang yang sering goyang goyang nggak jelas

Ya karena banyak orang yang telah ter sinetronisasi

Ya karena bangsa ini terlalu banyak tertawa

Saya juga pernah muda, kaum muda bisanya merasa tertekan jika tidak mengikuti trend yang ada. Mereka merasa culun jika tidak mengikuti trend yang ada. Akhirnya generasi muda kita larut seluruhnya ke dalam trend yang tidak jelas asal usulnya. Jika tidak mengeluarkan baju ketika berangkat sekolah itu tidak keren bro. Jika belum pernah pacaran itu tidak gaul bro. Jika belum pernah ikut tawuran itu belum jantan bro. Jika belum memakai rok mini itu belum cantik bro.

Harusnya otak kita digunakan untuk membuat maju negara ini. Ngapain juga mikir tentang tawuran dan segala kebiasaan buruk lainya. Kalo nggak sama dengan televisi belum keren gitu ?.  Bangsa ini telah disusupi oleh kebiasaan kebiasaan yang salah kaprah. Kesalahkaprahan tersebut perlahan lahan menjelma menjadi budaya. Dari mana datangnya kebiasaan kebiasaan itu ? Dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Dari hal hal kecil yang kita temui sehari hari termasuk televisi.

Harusnya televisi bisa digunakan untuk membentuk kebiasaan kebiasaan masyarakat, membentuk budaya. Sangat sedikit inspirasi yang bisa kita dapat dari televisi. Sangat sedikit pengetahuan yang bisa kita dapat dari televisi. Sangat sedikit manfaat yang bisa kita dapat dari televisi indonesia.

Percaya atau tidak televisi telah menjadi salah satu faktor utama yang membuat negara ini semakin terpuruk.

Masih mau pilih calon presiden yang selama ini memiliki wewenang untuk merubah indonesia melalui televisi tapi tidak melakukanya ?

Think Again

Terimakasih telah membaca tulisan saya. Walaupun saya butuh banyak waktu untuk mencari uang. Walaupun saya juga butuh beras untuk makan, Tapi saya selalu menyempatkan diri untuk menulis, untuk berkarya, untuk bermanfaat bagi kehidupan. Saya ingin merubah pola pikir bangsa ini melalui tulisan. Mendingan nulis bro daripada lihat sinetron !

Mari berkarya

SALAM LESTARI



Bersih Kota Tua - Komunitas Pendaki Gunung

 

Salam Pendaki 

Terkait dengan apa yang sudah di agendakan pada KOPDAR IV Regional JABODETABEK. Berikut agenda bersih Kota yang akan digelar tanggal 23 maret besok:

Lokasi: Kota Tua
Jam : 09:00 s/d Selesai
Kegiatan: Sweeping Sampah & Silaturahmi
Meeting Point: Depan Meriam Musium Kota Tua
Bagi Rekan-rekan yang ingin berpartisipasi dalam acara tersebut silahkan datang di jam yang sudah ditentukan.

CP: Sefrina Widianto: 08888419995
A'ab Sukma Jati Baellah: 085715815058
Intan Vogoromoko: 081294781329

NB: Harap membawa perbekalan logistik sendiri.
 
 "Kalo bukan kita siapa lagi, kalo bukan sekarang kapan lagi"
 
Salam Lestari
 
 

Tolak Golput


Keadaan negara kita sudah sangat memperihatinkan. Satu persatu fakta yang terkuak menjadikan kita terheran heran. Banyak kasus di negeri ini yang melibatkan para pejabat pemerintahan. Kasus yang terkuak pun terkadang membuat kita tertawa terbahak bahak. Negeri ini memang sudah tidak waras. Mereka yang sebenarnya waras malah semakin didepak dan ditenggelamkan. 

Bagaimana kita tidak tertawa jika ketua Mahkamah Konstitusi yang harusnya menjadi panutan dalam penegakan hukum di indonesia malah terciduk polisi. Yang lebih membuat kita sakit perut adalah dinobatkanya lembaga Kepolisian sebagai lembaga paling korup di indonesia. Terus kita mau laporan kemana lagi ??? terus kita mau percaya pada siapa lagi ???

Belum lagi kasus dinasti jabatan yang ada di Provinsi Banten. Sebenarnya para pejabat itu kumpulan orang hebat atau kumpulan teman dekat ??? haduhhhh.

Ada juga rekaman anggota DPR yang sedang menonton video porno
Ada juga penemuan kondom di sudut sudut gedung DPR
Ada juga sosok yang mengaku sangat beragama ternyata mempunyai banyak wanita simpanan
Ada juga mantan putri indonesia yang juga anggota DPR tersangkut kasus korupsi
Aku tidak sanggup meneruskan tulisanku .......
Aku tidak kuat menahan rasa malu akan bangsaku ........

Hal hal tersebut membuat kita semakin tidak percaya pada pemerintah. Akibatnya adalah timbulnya rasa pesimis pada generasi muda jaman sekarang. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada generasi muda yang telah kehilangan semangatnya. Generasi muda tidak peduli lagi tentang negara. Mereka tidak peduli lagi tentang siapa yang akan memimpin bangsa ini. Mereka tidak peduli lagi pada pemilu. Semua itu menjadikan banyak generasi muda yang memilih GOLPUT pada saat pemilu.

Pada jaman sekarang generasi muda merasa sangat banga jika GOLPUT. Mereka merasa GOLPUT adalah cara terbaik meluapkan kekecewaan. GOLPUT dipandang sebagai sesuatu yang keren. Haduuuuhhhhh mau dibawa kemana negara ini.

Woe kamu !
Iya kamu yang GOLPUT !

Tidak sadarkah kamu jika ada beberapa gelintir orang indonesia yang masih baik. Tidak sadarkah kamu jika selalu ada terang diantara gelap. Orang orang itu mencoba merangkak perlahan, mencoba membenahi negeri ini, dan kau malah menguap dengan ideologimu. Orang orang itu butuh bantuan kita, orang orang itu butuh dukungan kita. Kita hanya harus mencari orang orang itu. Orang orang itu ada, hanya kita yang terlalu pesimis pada keadaan. Menemukan orang orang itu adalah tugas kita. Orang orang yang harusnya maju sebagai pemimpin. Memangnya siapa lagi kalo bukan kita ???? bukankah kita juga orang indonesia ???

GOLPUT adalah salah satu bentuk pesimistis terhadap bangsa. Mungkin Bung karno dan Bung Hatta akan menangis jika melihat generasi muda jaman sekarang. Harusnya semangat membara proklamasi masih mengalir deras di dalam darah kita. Tokoh proklamasi yang mengajarkan kita untuk berjuang, bekerja keras dan selalu optimis. Aku ingin berbicara padamu bung, inilah keadaan generasi muda jaman sekarang. Sepertinya kau perlu menegurnya dengan semangatmu.

 
"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu." — John Fitzgerald Kennedy

Tugas kita tidak seberat para pahlawan tempo dulu. Tugas kita hanya menemukan pemimpin yang benar untuk bangsa ini. Kita harus tahu bahwa indonesia telah memanggil pemimpinya dan kita sama sekali tidak peduli tentang nya. GOLPUT tidak akan merubah apapun bro, tanda bahwa ada atau tidaknya dirimu tidak bermanfaat sama sekali untuk negara ini.

Kita harus lebih optimis menatap masa depan, mungkin hanya itulah yang bisa membuat Bung Karno tersenyum. Jangan pernah bangga mengibarkan bendera merah putih di puncak puncak tertinggi jika adamu tidak bisa memberikan apapun untuk bangsa ini. Bangsa ini butuh pemimpin dan kita lah yang harus menemukanya. Itulah salah satu cara sederhana untuk berbakti pada bangsa

9 April 2014
Saatnya generasi muda menentukan siapa pemimpin negara ini

Selalu ada terang sehabis gelap, jika kau tidak berfikir demikian maka kau adalah bagian dari kegelapan itu sendiri - Catatan Pendaki Gunung


SALAM LESTARI