"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Kendaraan Paling Extreme


Sebagai seorang pendaki gunung saya sering bepergian jauh untuk mendatangi gunung gunung tercinta. Jika tempat tersebut dekat maka kita bisa dengan mudah menggapainya dengan menggunakan motor atau mobil. Tapi jika kita hendak pergi ke tempat yang sangat jauh maka kita harus menggunakan bus, kereta, kapal atau pesawat. Kita akan merasakan sensasi yang berbeda ketika menggunakan alat transportasi yang berbeda pula. Pengalaman tersebut membuat saya menemukan sarana transportasi yang paling extream.

Alat transportasi yang paling saya benci adalah kapal. Saya pernah disiksa ombak ketika menyeberang dari bali ke lombok. Saya hanya duduk terdiam selama 5 jam di kursi luar kapal. Angin bertiup kencang, ombak besar terus menghantam, menyebabkan kapal terus bergoyang. Kepala saya sangat pusing, perut saya sangat mual, seakan ada sesuatu yang akan keluar dari leher. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tawa teman teman jika melihat saya muntah. Waduh, bisa jatuh harga diri seorang pendaki, hahaha. Sepertinya saya benar benar tidak suka tempat yang rendah seperti laut, oleh karena itu saya mendaki gunung.

Alat transportasi yang paling menakutkan bagi saya adalah pesawat, karena saya takut ketinggian. Aneh, pendaki gunung yang takut ketinggian. Saya suka tempat yang tinggi, tapi saya takut dengan ketinggian. Jika saya melihat keluar jendela pesawat saya selalu membayangkan apa jadinya jika pesawat jatuh dan membentur daratan dengan keras. Berbeda halnya dengan kapal, walaupun saya tidak suka laut, tapi saya bisa berenang dengan baik melewati rute yang cukup panjang.

Entah kenapa saya tidak suka kereta api. Bentuknya jelek dan tidak enak untuk difoto. Saya kapok ketika naik kereta ekonomi dari semarang ke jakarta. Kursinya yang tegak lurus membuat punggung serasa mau patah. Bagian dalam kereta api sangat kotor dan basah di beberapa bagian. Jaman dulu banyak pedagang yang berjualan di dalam kerata. Adanya sangat mengganggu ketenangan para penumpang. Pedagang di dalam kereta api begitu lengkap, hampir selngkap di supermarket. Ada pedagang pecel, nasi goreng, gorengan, mijon, lontong sate, pulsa, senter, dompet, pakaian gelang, kalung, kartu perdana, alat kesehatan dan masih banyak lagi.

Penumpang kereta api jaman dulu tidak dibatasi. Semua boleh masuk walaupun kursi telah penuh. Ada yang terpaksa berdiri selama 12 jam. Emangnya kuat ?, tentu saja tidak. Ujung ujungnya banyak penumpang yang duduk di bawah. Mereka berserakan diantara kursi kereta yang mulai lawas. Di bawah kursi terkadang ada anak anak kecil yang tertidur dengan sampah sampah di sekitarnya. Mereka terlelap di atas secarik koran. Selain itu mereka akan tersapu air ketika hujan. Atap kereta yang bocor menjadikan situasi semakin mengenaskan.

Alat trasportasi yang paling saya suka tentu saja bus. Saya tertular virus bus mania dari beberapa teman saya. Bentuk bus yang beraneka ragam menjadikanya enak untuk dipandang. Bus juga mempunyai gambar atau corak yang menarik pada bodynya. Yang lebih seru tentu saja ketika naik bus malam, serasa menjadi raja jalanan. Malam itu banyak bus melaju dengan kencang. Kendaraan besar ini saling kejar mengejar dan salip menyalip. Pengalaman itulah yang tidak diperoleh ketika naik kereta api. Karena tidak ada kerata api yang saling kejar kejaran atau saling salip menyalip.

Bus yang paling melegenda tentu saja sumber kencono. Hampir semua sopirnya bisa kebut kebutan. Sepertinya semua sopir bus sumber kencono adalah mantan pembalap. Tapi ada yang lebih liar daripada bus sumber kencono, yaitu bus rela. Rute bus rela adalah solo-purwodadi. Jalanan yang kecil dan bergelombang dilibas dengan kecepatan tinggi. Hal itu tentu saja lebih berbahaya jika dibandingkan dengan rute bus sumber kencono yang selalu berada di jalan yang benar. Eh maksud saya di jalan yang besar. Kita benar benar harus "Rela ketika naik bus Rela".

Tapi saya menemukan yang lebih liar daripada itu semua. Kendaraan transportasi umum yang paling extream, yaitu metromini jakarta. Kompaja ibukota yang rata rata wujudnya sangat lawas. Catnya telah luntur dan beberapa bagianya telah berkarat, bahkan ada beberapa sisi yang bolong. Suara metromini sangat kasar di telinga, sesuai dengan kerasnya ibukota. Tak peduli seperti apa wujudnya, asalkan masih bisa berjalan ketika gas di injak, lanjutkan !. Walaupun harus tertatih tatih merayapi jalanan ibu kota, walaupun kadang terlihat seperti rongsokan berjalan.

Sebuah Malam
Terminal Blok M Jakarta

Terjadi perang mulut antara 2 orang sopir metromini. Sopir metromini A marah karena Metromini B berhenti di jalan keluar terminal yang hanya muat dilewati 1 metromini. Metromini B berhenti karena menunggu penumpang. Sementara itu Metromini A sedang terburu buru karena ingin segera berburu penumpang. Akhirnya Supir metromini A ditemani oleh kernetnya menabrak Metromini B yang tak juga berjalan. "Doar" begitulah bunyi tabrakan malam itu. Akhirnya supir metromini B ditemani oleh kernetnya keluar dari Metromini dan menghampiri Supir metromini A. Malam itu terjadi keributan panjang yang membuat suasana semakin panas.

Saya jadi teringat sebuah permainan yang sering ada di taman hiburan yaitu "Bom Bom Car". Bom bom Car sering menabrak satu sama lain untuk membuktikan siapa yang paling hebat. Hal itu tidak menjadi masalah karena bemper bom bom Car dilapisi oleh karet tebal. Berbeda dengan metromini yang tidak ada Bempernya. Tapi mereka saling tabrak menabrak untuk membuktikan siapa yang terhebat. Tak peduli jadi seperti apa wujud metromini itu sendiri. Meskipun tidak lagi kotak, meskipun banyak lubang, atap bocor, kaca pecah, tidak ada jendela hingga bemper peok tapi mereka masih berjalan. Salut dah, bener bener Extreme

Setelah itu saya naik metromini yang sepertinya agak aman. Metromini tersebut terjebak macet di sebuah jalanan ibukota. Tiba tiba metromini tersebut banting strir ke ke kanan, masuk ke jalur yang berlawanan arah. Metromini tersebut menyebrang trotoar dengan tinggi sekitar 20 Cm. Di kejauhan tampak seorang polisi yang sedang berjaga tapi polisi itu tidak menghiraukanya. Metromini melaju kencang melewati jalur yang berlawanan arah.

Usut demi usut ternyata pada waktu macet sang kernet turun dari metromini kemudian berjalan menghampiri pak polisi dan menitipkan sejumlah uang pada polisi tersebut. Hal itulah yang membuat metromini tersebut tidak ditilang. Benar benar sebuah kerja sama yang sempurna antar armada metromini. Pokonya Extreme dah !. Jangan terpaku terus sama Bus mania. Coba sesekali kita membentuk Komunitas Metromini Mania. Dijamin Extreme !

Hahaha

"Tapi apapun angkutanya, Gunung tetap tujuanya"

Okeh gan ?

Terinspirasi dari "Metromini"

SALAM LESTARI



1 komentar:

apotek puskesmas sarang mengatakan...

iki yo mantep juga..siip

Posting Komentar