"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Mendaki Gunung Tidak Boleh Ganjil, kata siapa ?




Kenapa mendaki gunung tidak boleh ganjil ?
 
Saya sebenarnya kurang tau tentang asal usul dari aturan tersebut. Banyak pendaki yang mempercayainya meskipun asal usul dari mitos tersebut kurang bisa dimengerti. Pertanyaan tentang mendaki gunung dengan jumlah ganjil tersebut membuat saya semakin penasaran akan kebenaranya. Pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang kebenaran mitos tersebut berdasarkan logika.

Dulu ketika saya mendaki gunung welirang saya bertemu dengan bapak bapak penambang belerang di kawah gunung welirang. Waktu itu saya mendaki dengan 2 orang teman saya sehingga jumlah kami ganjil. Bapak tersebut menasehati saya agar lain kali ketika mendaki gunung jangan berjumlah ganjil. Waktu itu saya tidak menanyakan kenapa tidak boleh mendaki dengan jumlah ganjil karena memang otak saya sudah terbiasa mendengar bahwa mendaki dalam jumlah ganjil itu tidak baik. Saya bahkan lupa kapan kali pertama mendengarnya dan dari siapa saya mendengarnya. Waktu demi waktu berlalu dan saya pun mulai menelusuri lebih lanjut mitos tersebut.
 
Beberapa rekan pendaki menjawab itu hanyalah sebuah mitos turun menurun dari orang orang jaman dulu. Konon katanya jika kita mendaki dengan jumlah ganjil maka akan ada sosok yang menjadikan jumlah kita genap. Sebenarnya saya kurang mengerti kenapa sosok tersebut menjadikan jumlah kita genap. Jangan jangan jika kita mendaki dengan jumlah genap sosok tersebut malah akan menjadikan jumlah kita ganjil.

Sebenarnya jika disuruh memilih untuk mendaki dengan jumlah ganjil atau genap saya lebih memilih ganjil. Kenapa ?

Alasan pertama adalah untuk mempermudah pengambilan keputusan. Sering kali dalam pendakian kita dihadapkan pada sebuah pilihan sulit yang memaksa semua anggota team menyumbangkan suaranya. Jika jumlah kita ganjil bisa dipastikan akan ada pemenangnya. Jika jumlah kita genap ada kemungkinan hasilnya seri sehingga akan menimbulkan perdebatan demi perdebatan.

Alasan kedua adalah karena ALLAH suka bilangan ganjil.
  1. Abu Hurairah berkata: ”Rasulullah SAW bersabda, ‘ Dan Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu, barang siapa menghitungnya (menghafal dan mentafakurinya) akan masuk surga. Dia itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil’ ” (HR. Bukhary-Muslim)
  2. Aisyah ra. mengatakan : ” Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: ‘Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon’ “ (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)
  3. “Sesungguhnya Allah itu witir (esa/ganjil) dan suka pada yang ganjil” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi)
Nah saya rasa tidak perlu memperdebatkan lagi harus mendaki dengan jumlah ganjil atau genap. Mendaki dengan formasi ganjil atau genap tidak akan berpengaruh pada apapun. Mendaki dalam jumlah ganjil pun tidak akan membuat kita di ganggu makhluk ghaib, asalkan kita mampu menjaga perilaku dan kesopanan.

Jika memang merubah tradisi menjadikan kita lebih baik
Why not ?
SALAM LESTARI



4 komentar:

junedz mengatakan...

mantap...mendaki bertiga pun sebenarnya kita mendaki berempat karena Allah mengirimkan malaikatnya untuk selalu menjaga setiap langkah kita...berdoa kepada Tuhan...awas bahaya tipu muslihat setan dan para pemujanya...

Adriyano Louizzao mengatakan...

Bener gan, jangan pernah takut selama kita punya agama
Kekuatan yg ada dibelakang kita jauh lebih besar dari tipu muslihat setan

Rifqy Faiza Rahman mengatakan...

Benar sekali, bagi saya hanya Allah yang wajib kita takuti... :)

Albertus Ardika mengatakan...

saya barusan mendaki ke kawah ijen bertiga, dan bersyukur dengan berbekal doa kami semua aman dari awal hingga akhir

Posting Komentar