"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Antara Indonesia dan Timor Leste (Part 2)

Badan Informasi Geospasial, Kementrian Pertahanan, TNI-AD, Warga Lokal




Sambungan dari tulisan sebelumnya
"Antara Indonesia dan Timor Leste (Part1)"

Pagi itu kami mulai bersiap untuk melakukan expedisi. Tim kami terdiri dari 2 orang pegawai Bakosurtanal, termasuk saya, 1 orang Kementrian Pertahanan dan sisanya 4 angota TNI yang bertugas diperbatasan, tepatnya di pos Lakmaras. Pagi itu cuaca cukup dingin, kabut turun tebal, menutupi pemandangan yang harusnya terlihat indah. Kami menunggu cuaca cerah sambil menikmati sarapan pagi. 

Jam 09.00 WITA cuaca mulai cerah, kami pun segera memulai perjalanan. Sebelumnya kami telah menghubungi seorang teman dari Kementrian Luar Negeri Timor Leste. Kami sepakat untuk bertemu di sungai perbatasan. Expedisi kali ini adalah expedisi bersama antara tim Indonesia dengan tim Timor Leste dalam rangka survey pembuatan pilar batas Negara. 

Akses jalan daerah perbatasan RI-Timor Leste
Kami meninggalkan pos, menuruni bukit menuju ke sungai. Kami membawa HT untuk berkomunikasi dengan pos Tentara lain di sekitar perbatasan. Kami juga membawa senjata laras panjang sebagai prosedur keamanan. TNI yang mengiringi kami memakai pakaian loreng dengan sepatu lapangan.

Perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste berupa sungai yang membentang dari arah utara ke selatan. Kali ini kami akan menyusuri sungai tersebut untuk menentukan pemasangan pilar batas antara Indonesia dan Timor Leste. Jalan yang kami lalui untuk menuju sungai sangat licin, mungkin bekas gerimis semalam. Jalan ini membentang diantara semak belukar dan rerumputan. Di seberang tampak pemandangan perbukitan hijau yang sangat indah. Sayangnya bukit tersebut adalah milik Timor Leste. 

Sungai Perbatasan RI-Timor Leste
1 jam berselang akhirnya kami sampai di sungai. Kami menunggu teman dari timor leste sambil beristirahat sejenak. 1 Jam berlalu tak juga tampak wujudnya, akhirnya kami berinisiatif mencarinya. Akhirnya kami bertemu dengan teman dari Timor Leste. Mereka datang hanya bertiga, 1 orang dari Kementrian Luar negeri dan 2 orang anggota UPF (United Police Force) atau polisi perbatasan Timor Leste.

Kami memulai perjalanan ini, kami menyusuri sungai untuk menentukan lokasi lokasi pemasangan pilar batas Negara. Pilar ini dipasang di pinggir sungai. Setiap titik batas dipasang 2 pilar, 1 di tepi sungai Indonesia dan 1 lagi di tepi sungai Timor Leste. Pada expedisi kali ini kami akan memasang sekitar 40 pasang pilar.

Sementara itu di perbatasan bagian selatan juga terdapat tim lain yang melakukan kegiatan serupa sehingga totalnya kedua Negara akan memasang 80 pasang pilar yang mana 40 pasang dipasang oleh Indonesia dan 40 pasang lagi dibuat oleh Timor Leste. Anggaran yang digunakan untuk memasang 40 pasang pilar sekitar 900 juta rupiah. Itulah yang menyebabkan pekerjaan ini tidak bisa langsung diseleseikan di seluruh perbatasan timor leste, selain karena anggaranya besar juga tim ahlinya kurang. Kegiatan ini membutuhkan kemampuan otak dan fisik yang sama baiknya. Ini adalah medan yang tepat untuk seorang Engineering sejati.

Sungai Perbatasan RI-Timor Leste
Kami terus berjalan, menyusuri sungai yang tidak terlalu dalam. Sungai ini mengalir ke utara, berlawanan arah dengan kami yang bergerak ke selatan. Air sungai ini mengandung zat kapur, kita harus memasaknya hingga mendidih sebelum diminum. Di pinggir sungai tampak semak belukar dan hutan yang cukup lebat.

Ketika musim hujan sungai ini biasanya meluap. Air bah bisa datang sewaktu waktu ketika musim hujan. Bahkan jika disini tidak hujan air bah bisa datang karena dikirim dari wilayah hulu yang mungkin sedang hujan. Jika air tiba tiba menjadi keruh kecoklatan, kemudian terdengar suara gemuruh yang dahsat, maka hal itu menjadi pertanda bahwa air bah telah tiba. Kami harus waspada …..

Tim Gabungan Indonesia-Timor Leste
Ya, inilah aku dengan kehidupanku. Aku yang dibesarkan di gunung gunung. Aku yang dibesarkan di alam liar. Aku yang selalu berfikir bahwa semua itu tidak akan sia sia. Kini Aku bekerja di BAKOSURTANAL atau sekarang dikenal dengan BIG (Badan Informasi Geospasial), tepatnya di Pusat Pemetaan Batas Wilayah. BIG adalah badan setingkat kementrian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden, Instansi Pemetaan tertinggi di Indonesia.

Sulit bro bisa berada disini. Aku harus melewati 5 test untuk bisa berada disini. Test Kemampuan Dasar, Test Psikotes, Wawancara Psikotest, Test Kemampuan Bidang dan Wawancara Bidang. Tidak ada lagi KKN di instansi setingkat kementrian, semua serba “0” rupiah. Masih ingat ketika aku selalu bertapa di rumah setelah lulus kuliah. Membaca buku TKD yang super tebal, membaca buku psikotest dan buku buku akademik hingga les Bahasa Inggris privat untuk persiapan Wawancara.

Aku duduk di depan rumah menggambar pohon, menggambar orang, menggambar benda benda sebagai persiapan test psikotes. Seperti anak TK, mungkin itu yang dipikirkan orang orang rumah ketika melihatku. Beberapa hari sebelum hari-H aku sempat menghubungi Temanku yang juga seorang dokter. Dia menyuruhku untuk banyak banyak minum susu sebelum hari H, menyiapkan vitamin dan obat herbal agar tidak sakit, menyiapkan CTM jika semalam sebelum hari H kesulitan tidur, menyiapkan Vitamin otak untuk membuat otak bisa berfikir lebih lama, jangan makan nasi ketika pagi karena akan membuat ngantuk, segalanya dipersiapkan dengan begitu detail.

Dan yang terakhir adalah meminta pada Tuhan yang mahas Esa, jangan pernah Sholat 17 rakaat dalam sehari, jangan puasa 30 hari dalam se-tahun. lakukan lebih dari itu ! Segalanya akan berakhir Indah, sangat Indah …….

Semoga bisa menginspirasi bagi teman teman yg gagal terus menerus mengikuti test CPNS, hahaha

Ini adalah perjalanan Dinasku yang pertama dalam hal perbatasan luar negeri. Rasanya seperti kembali ke rumah, dimana hutan menjadi taman bunga dan kabut menjadi penyejuk kalbu. Inilah dunia PNS menurutku, duniaku yang berbeda dengan PNS PNS biasanya.

Ngantor itu nggak harus di depan Monitor
Ngantor itu nggak harus In Door
Ngantor itu boleh pakai celana Kolor
Begitulah bunyi salah satu iklan Rokok,
Aku banget ……

Dulu aku mempunyai mimpi untuk bekerja di PT. Freeport Indonesia. Gaji yang besar akan membuatku leluasa untuk berkarya, bisa menggerakkan komunitas, mendaki gunung manapun, membeli kamera mahal, piano, guitar, mobil mewah, rumah dan lain sebagainya. Sialnya orang tua tidak merestuiku untuk hal itu dan akhirnya takdir membawaku menjadi PNS.

Kini aku menyadari bahwa saat ini aku harusnya bangga. Saat ini aku bekerja dalam pengukuran batas Negara. Tidak lagi membawa nama besar almamater UNDIP, tidak lagi membawa nama Pusat Pemetaan Batas Wilayah, tidak lagi membawa Nama Badan Informasi Geospasial tapi membawa nama besar Indonesia, berjuang untuk memastikan bahwa setiap jengkal tanah Indonesia adalah milik kita.

Selamat datang di perbatasan

Wahai pejuang garis Batas

"Bersambung"

SALAM LESTARI

5 komentar:

rafie firdhaus mengatakan...

Lanjut bang. Critanya Mantabb bang :D

pemutih badan mengatakan...

keren nih petualanganya

obat asam urat mengatakan...

seru tuh gan, jadi kepingin ikut

pelangsing badan mengatakan...

si agan hobinya petualang, ajakin saya donk gan. hehehehhe

Kokok Dharma mengatakan...

KEREn ceritanya...

kalo berminat koleksi
DVD PENDAKIAN GUNUNG / MOUNTAINEERING VIDEO

bisa kunjungi website kita disini :

- www.dvdlangka.com
- www.pendakigunung.com


salam.

Posting Komentar