"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Kisah Anak Yatim

"Fin" adalah nama seorang anak yatim yang akan menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Fin adalah nama samaran yang akan saya pakai untuk menuliskan cerita nyata ini. Saya hanya tidak ingin suatu saat nanti ketika dia tumbuh besar, dia akan tahu tentang kisah kelam masa kecilnya. Biarlah masa lalunya yang terjal tertinggal pada tulisan ini dan menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua.

Fin lahir di luar negeri, tepatnya di sekitar timur tengah. Ibunya meninggal ketika melahirkanya. Ayahnya menghilang entah kemana. Ibunya adalah orang Indonesia yang bekerja di luar negeri, sedangkan Ayahnya adalah orang timur tengah asli. Sejak kecil dia dibesarkan oleh lingkungan panti asuhan. Dia bahkan tidak pernah merasakan ASI ibu kandungnya sendiri.

Ketika usianya menginjak 3 tahun dia dideportasi ke Indonesia menggunakan pesawat. Dia mendarat di Jakarta dan menetap disana selama beberapa minggu hingga akhirnya dipindahkan ke sebuah panti asuhan di salah satu propinsi di Indonesia. Sewajarnya anak kecil yang baru belajar bicara, dia pun masih bingung akan bicara menggunakan bahasa apa. Dia baru saja belajar bahasa inggris walaupun sedikit. Kini dia tiba di Indonesia, menghadapi bahasa yang sama sekali tidak dia pahami. Entah apa yang ada di pikiran anak sekecil itu. Mungkin dia juga tidak paham sama sekali pengertian “bahasa”.

Perlahan lahan dia belajar bahasa Indonesia dari pengurus panti asuhan. Sesekali dia menggunakan bahasa inggris ketika tidak tahu kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. “Noodle”, “Pocket” adalah kata kata yang sering terlontar dalam dialognya yang masih kacau. Meskipun begitu dia adalah anak yang cerdas, saya yakin kecerdasanya di atas rata rata. Dalam 5 bulan dia sudah bisa menguasai bahasa Indonesia dengan baik, bahkan lebih baik dari anak berusia 3,5 tahun yang terlahir di Indonesia.

Fin adalah anak laki laki yang sangat tampan, rambutnya agak sedikit coklat. Tangan dan kakinya penuh luka, masa lalunya benar benar tragis. Fin hidup di panti asuhan dengan keseharianya. Dia makan sendiri, mandi sendiri, memakai baju sendiri dan melakukan apapun sendiri. Pengurus panti yang jumlahnya sedikit tidak mungkin bisa mengurus semua anak yatim yang berada disana.

Kadang 1 orang pengurus panti bisa mengawasi 15 orang anak kecil sekaligus. Ada yang masih berumur 2, 3 hingga 4 tahun. Mereka kadang berebut makanan, mainan, baju, bahkan kadang bisa sampai berkelahi satu sama lain. Anak anak ini dibesarkan oleh lingkungan yang keras, tidak seindah masa kecil anak anak seusianya.

Pada hari libur banyak orang yang datang ke panti asuhan untuk menjenguk anak anak yatim. Mereka berencana mengadopsi anak tersebut, tapi tentunya harus menunggu terlebih dahulu karena begitulah peraturanya. Dalam masa tunggu tersebut calon orang tua angkat sering pergi ke panti asuhan untuk menengok calon anaknya. Mereka sering membawa makanan, minuman hingga mainan. Mereka menghabiskan hari libur dengan bermain bersama anak anak tersebut.

Waktu yang ditunggu akhirny tiba, berselang 6 bulan sejak kedatanganya di Indonesia kini Fin mempunyai orang tua angkat. Pada hari itu banyak anak panti asuhan yang dilepas kepada masing masing calon orang tua angkat. Suasana haru menyelimuti panti asuhan, para pengurus panti seperti tidak tega melepas kepergian mereka. Saya bisa memaklumi hal itu karena para pengurus ini lah yang membesarkan mereka, satu satunya orang yang mereka miliki saat itu.

Mereka harus menahan rasa sedih melihat kondisi anak anak yatim yang datang ke tempat itu untuk pertama kali. Mereka mengobati setiap luka yang ada, mengobati setiap tetes air mata yang mengalir. Mereka menjadi ibu ketika anak anak tersebut membutuhkan Ibu. Mereka menjadi ayah ketika anak anak tersebut membutuhkan Ayah. Saya juga yakin anak anak tersebut juga tidak tahu apa itu “ibu” dan apa itu “ayah”.

Mereka bekerja dengan tulus merawat anak orang lain. Mereka merawat seorang anak yang akan meninggalkanya sebentar lagi, mungkin kelak ketika dewasa mereka juga tidak akan diingat oleh anak anak tersebut. Pekerjaan ini berat, dimana mereka bermain dengan seribu rasa yang harus mereka hadapi. Kadang ada rasa prihatin, kadang juga merasa jengkel atau lelah, kadang merasa terhibur dan bahagia, juga merasa sedih karena ditinggalkan.

Jika seorang engineering adalah mereka yang bekerja dengan otak,
Jika seorang Kuli Bangunan adalah mereka yang bekerja dengan Otot,
Maka para pengurus panti ini adalah mereka yang bekerja dengan Hati,

“Bersambung”


6 komentar:

obat pelangsing badan mengatakan...

menjadi pengurus panti memang pekerjaan yg mulia

obat herbal asam urat mengatakan...

Ceritanya menyedihkan gan

obat pemutih badan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
awdawd mengatakan...

trimakasih infonya.....
sangat menarik dan bermanfaat....
mantap..

Megan Calista mengatakan...

Agen Judi Online
Agen Judi
Agen Judi Terpercaya
Bandar Judi
Bola Online
Bandar Bola
Agen SBOBET
Agen Casino
Agen Poker
Agen IBCBET
Agen Asia77
Agen Bola Tangkas
Prediksi Skor

Prediksi Skor BAYER LEVERKUSEN VS LAZIO 27 Agustus 2015
Prediksi Skor PANATHINAIKOS VS QABALA 28 Agustus 2015
Prediksi Skor SAINT ETIENNE VS MILSAMI 28 Agustus 2015
Prediksi Skor CHELSEA VS CRYSTAL PALACE FC 29 Agustus 2015

Megan Calista mengatakan...

Mitra303 | Bola Online | Agen SBOBET | Agen Poker | Agen IBCBET | Agen Judi Terpercaya

Agen Judi Online
http://mitra303.com/agen-judi-online/

Agen Judi
http://mitra303.com/welcome-mitra303

Prediksi Skor BAYER LEVERKUSEN VS LAZIO 27 Agustus 2015
http://mitra303.com/prediksi-skor-bayer-leverkusen-vs-lazio-27-agustus-2015/

Prediksi Skor PANATHINAIKOS VS QABALA 28 Agustus 2015
http://mitra303.com/prediksi-skor-panathinaikos-vs-qabala-28-agustus-2015/

Prediksi Skor SAINT ETIENNE VS MILSAMI 28 Agustus 2015
http://mitra303.com/prediksi-skor-saint-etienne-vs-milsami-28-agustus-2015/

Posting Komentar