"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Ketika hidup tak bisa dihitung

Lebaran kemarin saya mudik ke kampung, berkumpul dengan sanak saudara untuk merayakan lebaran. Setidaknya saya bisa tersenyum lebar dengan status saya sebagai PNS instansi pusat. Saya membayar lunas apa yang telah orang tua saya korbankan untuk saya. Tapi semua takkan berahir disini, perjalanan masih panjang dan hidup masih terus bergulir. Pun sebenarnya utang seorang anak kepada orang tua tidak akan pernah lunas sepenuhnya.

Singkat cerita saya ngobrol dengan bapak tentang usaha sampingan yang sejak dulu saya impikan. Saya masih bingung untuk membuka usaha dalam bidang apa. Saya tidak pernah berbisnis dengan sesuatu yang tidak ada hubunganya dengan “teknik”. Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Saya tidak punya pengalaman dalam bidang ini. Saya sudah sering merencanakan usaha dengan Ms. Exel. Hitung hitungan dari mulai modal sampai keuntungan sudah saya hitung rinci sedemikian rupa.

Anggap saja saya punya modal yang cukup, tau lah bro kalo SK PNS bisa di tukar dengan segepok uang di bank alias utang. Tapi yang masih mengganjal dalam pemikiran saya adalah ketakutan untuk memulai, saya sangat takut bangkrut. Dalam hitung hitungan yang saya lakukan ternyata keuntunganya terlau sedikit, saya khawatir tidak bisa membalikkan modal. Dalam rencana yang lain tenaga ahlinya kurang banyak dan uang untuk membayar gajinya juga terlalu banyak. Ah, saya sangat bingung dengan semua angka di otak saya.

Kemudian bapak saya berkata “Kalo punya uang belilah sawah”. Otak saya langsung merespon dengan segala kemungkinan tentang sawah. Sawah tidak akan memberikan keuntungan besar, tenaga yang dihabiskan tidak sepadan dengan uang yang dihasilkan. “Bukan begitu cara berfikirnya”, bapak saya memulai ceritanya….

Ada seorang penjahit kecil, tidak mempunyai toko besar atau cabang, istrinya hanya ibu rumah tangga biasa. Dia mempunyai 5 orang anak dan seluruh anaknya bisa merasakan bangku kuliah. Kini anak anaknya telah menjadi orang sukses, membuat bapaknya sangat bangga akan anak anaknya. Jika dihitung dengan angka angka dan perhitungan matematis tentu mustahil seorang penjahit kecil bisa membiayai kuliah 5 orang anaknya. Tapi kenyataanya dia mampu ….

Ada seorang pedagang kecil di sebuah desa. Berjualan kebutuhan rumah tangga bagi orang orang desa. Tokonya tidak besar, layaknya pedagang kecil biasa. Tapi dia bisa naik haji. Mungkin kalkulator saya akan eror ketika diminta untuk menghitung kejadian ini. Mungkin Ms. Exel juga akan blank jika digunakan untuk menghitung kejadian ini. Bagaimana bisa keuntungan yang mungkin sangat kecil itu bisa terkumpul untuk naik haji. Entahlah, tapi begitu kenyataanya …..

Bukan berarti orang orang itu punya pesugihan atau memuja dukun tertentu, tapi karena orang orang tersebut mempunyai “usaha yang berkah”, yaitu usaha yang dijalankan dengan tulus dan sepenuh hati, mencari keuntungan dengan sebuah kerja keras, sebuah usaha yang di niati dengan kebaikan, sebuah usaha yang tidak merugikan orang lain.

Tentunya cerita tersebut bermaksud menegur pemikiran saya yang sangat rasional dengan angka dan perhitungan. Ternyata dalam membangun usaha,  modal dan pemikiran saja tidaklah cukup. Tentu harus diniati dengan kebaikan, kerja keras, pantang menyerah, tulus dan ikhlas. Intinya kisah kisah tersebut mengingatkan saya bahwa sekeras kerasnya saya berfikir tidak pernah akan terwujud tanpa persetujuan yang kuasa. Yang sering kita lupakan adalah ada kekuatan yang sangat besar yang sedang mengatur takdir untuk kita.

Ada orang yang mempunyai peghasilan besar, tapi karena hidupnya kurang berkah, tidak mau beramal, tidak mau bersyukur maka dikirimkanlah takdir untuk mengingatkan mereka. Misalnya mobilnya hilang, rumahnya terbakar dan lain sebagainya. Di lain sudut ada orang dengan peghasilan kecil tapi hidupnya berkah, mereka tidak pernah tersentuh musibah dan selalu dilimpahkan oleh keberuntungan keberuntungan.

Memang kita tidak bisa meramalkan takdir dengan ilmu matematika. Hidup itu tidak semudah satu ditambah satu sama dengan dua.

“Ketika Hidup Tak Bisa Dihitung”

4 komentar:

dilis mengatakan...

kl hidup bisaa dihitung...permasalahannya adalah berapa harga yg harus kita bayar pada sang pemberi dan pencipta kehidupan mas bro....itulah kenapa ada hal yg tidak bisa kita hitung,kita hanya harus menjalani dan mensyukuri saja,sesuatu yg kelihatan mudah tapi tidak semudah kelihatannya :-)

pemutih badan mengatakan...

Namanya juga kehidupan, perbedaan penghasilan atau pendapatan adl hal yg wajar

obat asam urat mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
obat pelangsing mengatakan...

critanya bagus mas

Posting Komentar