"Karena yang terpenting bukan apa yang kita dapat dari dunia, tapi apa yang bisa kita beri pada dunia"

Fenomena Pendaki Cilik

Akhir akhir ini aksi para pendaki cilik berhasil mencuri perhatian pendaki tanah air. Para Balita atau pun Bayi tersebut bisa menapakkan kaki kakinya di puncak gunung tertinggi. Tentu mereka tidak berjalan sendiri, terkadang ada yang digendong oleh ayah ataupun ibunya. Para pendaki cilik tersebut mampu berada di puncak gunung, seperti yang kita tahu orang dewasa pun membutuhkan perjuangan luar biasa untuk sampai di puncak gunung.

Selalu ada banyak sudut pandang dalam memahami sebuah persoalan,

Gunung adalah tempat yang tidak ramah bagi siapapun. Tanjakan dan turunan membuat siapapun akan berkeringat untuk melewatinya. Udaranya yang dingin begitu tajam menusuk kulit. Jika siang, panasnya terik mampu menghanguskan kulit dengan mudah. Jumlah sumber air di gunung juga sangat terbatas begitu pula dengan jumlah makanan. Gunung tidak pernah ramah untuk para bayi. 

Jika kita melihat dari sudut pandang pertama maka akan terlihat betapa luar biasa bayi bayi yang telah berhasil sampai di puncak. Mereka telah melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan bayi lainya. Meskipun bayi tersebut bisa sampai di puncak karena bantuan orang tuanya, harus kita acungi jempol karena bayi tersebut juga harus menghadapi dinginya udara dan panasnya terik.

Dari sudut pandang kedua terlihat bahwa orang tersebut terlalu memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Jika alasan adalah "mengenalkan alam sejak dini" tentu hal itu sangat tidak masuk akal. Coba anda ingat ingat apa saja yang pernah anda lakukan pada umur 1-4 tahun ? tentu kita sudah lupa. Kesimpulanya adalah bayi tidak bisa mengingat dengan jelas tentang kejadian yang dialaminya sejak kecil. Jika mengingat saja belum bisa apalagi memahaminya.

Ketika si bayi sampai di puncak gunung tentu orang tuanya akan kebanjiran pujian. Tapi saya rasa hal itu tidak setimpal dengan apa yang dialami oleh sang bayi. Sang bayi belum bisa berteriak kelaparan, kehausan, kedinginan dll. Sang bayi belum bisa mengatakan apa yang dia rasakan, tapi kita seolah olah tau apa yang dia rasakan.

Jika saya punya anak kecil maka tidak akan pernah saya ajak untuk naik gunung. Daripada saya menggendongnya ke puncak puncak gunung, saya lebih bangga ketika kelak dia mampu berada disana dengan jerih payahnya sendiri, dengan usahanya sendiri. Saya juga tidak pernah tega jika dinginya udara menyentuh kulit anak saya yang masih rapuh, ketika debu mengepung hidung mungilnya, ketika hujan membasahi wajahnya. 

Tergantung dari sudut pandang mana anda memandang,

Salam Lestari

 


5 komentar:

doni seo mengatakan...

hebat kecil - kecil udah mendaki, saya aja mendaki waktu kelas 2 smp

==> obat kuat semarang <==

yoiyok mengatakan...

Mengenalkan alam pada anak tdk harus di mulai dengan mendaki gunung itupun dilakukan secara bertahap. Benar ketika anak sudah memahami penjelasan kita maka saat itu misalnya bisa di kenalkan tentang kesadaran kebersihan dan sampah. Daripada besarnya suka naik gunung tapi tidak peduli dengan sampah yang merusak lingkungan.

Agung Ristiana mengatakan...

keren, kecil-kecil petualang,
visit blog petualangan saya
http://www.bluetripper.com/

Nunie Wahyuni mengatakan...

kira-kira dimana gunung yang mudah di daki untuk anak-anak di daerah Bogor. Thank u Salam pendaki.
http://www.edwinalirly.blogspot.com

Nadya Paramanisa mengatakan...

Perlengkapan mendaki gunung harus dipersiapkan secara matang agar pendakian tidak terganggu, selamat mendaki :)

Posting Komentar